
Istri Arjuna bab 47a
Perancis, menjadi negara yang dikunjungi di hari ke delapan. Merupakan negara terakhir dalam acara agenda lawatan ke Eropa, bertepatan dengan dihelatnya fashion show dari beberapa desainer ternama tanah air yang berkolaborasi dengan perancang busana dari berbagai negara di daratan Eropa.
Viona dan tiga orang desainer lainnya dari Indonesia, mendapat kesempatan langka yang menjadi incaran para perancang busana tanah air, yakni berkiprah langsung dalam ajang pagelaran busana bersama para perancang dari rumah mode kelas dunia.
Acara fashion show dilangsungkan setelah matahari terbenam di Grand Palais, Paris. Semua orang menyaksikan penuh antusiasme. Juna duduk di deretan kursi kedua, berjejer Zayn, juga Bima.
Puluhan model berlenggak-lenggok di atas catwalk. Mengenakan berbagai rancangan indah buah karya juga kerja keras para desainer. Memukau, memanjakan mata para pencinta fashion. Setelah semua busana selesai dipamerkan, kini tiba lah saatnya para desainer unjuk gigi di atas panggung. Semua mengapresiasi dengan berdiri bersamaan disertai tepuk tangan riuh menyambut begitu para desainer muncul beriringan.
__ADS_1
Viona tampak anggun dalam balutan busana hasil karyanya sendiri. Rambutnya disanggul sederhana dengan pulasan make-up nude. Baju yang dikenakan berpadu padan selaras dengan riasan. Memancarkan aura ketimuran yang santun namun memikat. Gaun yang dikenakannya mengusung tema baju kurung dengan sedikit sentuhan Cut Thai, yang memiliki ciri khas model selendang menjuntai dari sepanjang bahu kiri hingga menyentuh lantai.
Songket, yang merupakan jenis kain tenunan asli Indonesia menjadi kain yang dipilih Viona pada busana yang dipakainya hari ini. Motif yang dipakai adalah 'Songket Lepus Ombak Kristal Berlian' yang didominasi warna gold dan merah, begitu indah, begitu cantik. Dipadukan dengan kain sutra terbaik menghasilkan rancangan super memukau berkat sentuhan tangan Viona yang berbakat.
Acara dilanjutkan dengan pesta penutupan tak jauh dari lokasi digelarnya peragaan busana. Juna, Bima, Viona beserta Zayn dan istrinya duduk di satu meja melingkar. Sedangkan Pandu menempati meja lain yang letaknya tidak terlalu mencolok, sekitar dua meter jauhnya dari meja yang ditempati Juna. Seperti titah sang bos padanya yang mengultimatum untuk menjaga jarak, membuat Pandu berdecih sebal di belakang punggung Juna, merasa dianggap serupa virus menular berbahaya.
“Akhirnya semua selesai,” ucap Viona lega sambil memeluk buket bunga di pangkuan. Duduk bersisian dengan Bima, sang suami.
“Terima kasih. Aku benar-benar bersemangat hari ini. Satu persatu mimpi-mimpiku terwujud dan semua itu tak lepas dari dukungan penuh suamiku.” Viona tak bisa menyembunyikan rona gembira, mengelus lengan Bima seraya tersenyum simpul.
__ADS_1
“Akh, sepertinya aku akan mendapat imbalan spesial malam ini, bagaimana kalau kita kembali ke hotel lebih cepat?” Bima berkelakar, mengerlingkan mata menggoda sang istri.
“Mas!” Viona melotot dengan wajah yang mulai merona, membuat Althea istri Zayn yang masih belia tersipu-sipu melihat interaksi pasangan di hadapannya itu. Sedangkan Juna lebih banyak diam, lebih tepatnya termenung.
“Juna, Pak Zayn. Saya juga ucapkan selamat atas pencapaian perusahaan kalian di acara kali ini yang berhasil mendapat kerjasama dengan pasar Eropa yang digadang-gadang sulit didapat. Semoga semua usaha kita semakin sukses dan keluarga kita semakin dilimpahi keberkahan,” ucap Bima yang kemudian menyalami Juna juga Zayn. Juna yang sedari tadi tak fokus sedikit terperanjat.
Zayn pun melakukan hal yang sama, memberi selamat pada Juna begitu pun sebaliknya. Semua saling memberi selamat akan kesuksesan yang diraih. Obrolan mereka berlangsung hangat dan akrab sambil menikmati kudapan khas Perancis di meja, ditemani alunan music jazz merdu mendayu. Hanya saja satu orang di meja itu sesekali kehilangan fokus. Siapa lagi kalau bukan Juna, sedari tadi pikirannya sibuk menerawang.
Juna tertegun. Ada hal berbeda yang membuatnya mengerutkan kening. Terhitung dari waktu dia berangkat hingga hari ini, Juna sudah berkali-kali berpapasan dan bertemu dengan Viona juga bertukar kata. Namun, rasa berdebar berselimut perih di hatinya setiap kali bertemu dengan Viona tak muncul ke permukaan seperti yang sudah-sudah. Bahkan, Juna yang biasanya tak mampu menahan untuk tak terpesona dengan sosok Viona kini tidak lagi merasa demikian, tergeser paras cantik lain yang memesonakannya.
__ADS_1
Juna mulai menyadari satu hal setelah menelaah dan menyelami hatinya sendiri beberapa waktu terakhir. Sejak tiba di daratan Eropa, hanya satu ukiran senyum yang terlukis dalam sukma, satu paras cantik yang memenuhi isi kepala. Menciptakan debaran berombak-ombak dalam dada, mengalirkan deras denyut rindu dalam arteri dan vena disertai satu rangkaian nama yang terus berdengung dalam jiwa, Anggita Jelita.
Bersambung.