
Istri Arjuna 80b
Bedah sesar akhirnya dipilih karena tekanan darah juga pembukaan jalan lahir tidak menunjukkan perkembangan hingga pagi menyapa. Anggi sudah kepayahan menahan nyerinya mulas kontraksi, tetapi ia sama sekali tak mengeluh, malah tampak antusias, ingin segera memeluk si buah hati dalam dekapan.
Pukul tujuh pagi, Anggi dibawa ke ruang operasi. Juna ikut serta masuk mendampingi, tampak pucat juga tegang. Mengusap tengkuknya berulang kali begitu Anggi dinaikkan ke meja operasi.
Sepasang mata elangnya terus mengawasi, Juna meringis merasa punggungnya ikut nyeri saat istrinya dengan perut besar kepayahan diminta berbaring miring untuk dilakukan anestesi epidural, yakni proses disuntikkannya obat bius ke bagian punggung bawah, guna meredam rasa sakit saat operasi berlangsung tanpa menghilangkan kesadaran selayaknya bius total.
Tirai hijau mulai dibentangkan, sengaja dipasang menghalangi ruang pandang ke area perut. Baru kali ini Juna benar-benar berdo’a sepenuh jiwa raga sembari menunduk di ubun-ubun Anggi ketika prosedur pembedahan dimulai. Memanjatkan permohonan, meminta dengan sangat kepada Sang Pemilik kehidupan supaya memberikan keselamatan kepada istri dan anaknya.
“Maafkan aku, Anggita. Maafkan aku. Aku cinta kamu, aku sayang kamu,” hanya itu yang terus bergumam berulang-ulang dari mulut Juna, berbisik pelan dengan suara parau.
Anggi yang juga memanjatkan do’a dalam hati, tersenyum penuh haru, merasa hidupnya amat berharga dicintai begitu besar oleh Juna sekarang. Cinta dan kasih sayang Juna tercurah tumpah ruah hanya untuknya setelah dirinya terseok-seok melintasi medan terjal berliku yang dipenuhi onak berduri.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit berlalu, akhirnya suara tangisan bayi pun terdengar. Cepat-cepat Juna mengangkat wajahnya yang terbenam di ubun-ubun Anggi. Terkesiap begitu Dokter Lalita mendekati dengan bayi merah yang menangis kencang di pangkuan kedua tangan.
“Bu Anggi, Pak Juna. Selamat, atas kelahiran putra kalian. Semuanya sempurna, tidak kurang suatu apa pun, hidungnya juga mancung, sangat tampan. Kondisi Bu Anggi juga berangsur membaik sekarang, sepertinya jagoan Anda memang ingin keluar lewat jendela." Dokter Lalita berkelakar, berusaha memecah ketegangan yang tergambar jelas di wajah Juna.
Juna terpaku menatap anaknya, makhluk mungil nan lucu dan tampan itu adalah sebagian dari dirinya, luapan rasa bahagia membanjiri di detik itu juga, saat matanya dipenuhi gambar putranya.
Dokter Lalita juga terlihat lega, mengulas senyum setelah berhasil mengupayakan yang terbaik bagi Anggi dan bayinya. Dokter kemudian meletakkan si bayi yang masih merah itu ke dada kanan atas Anggi, untuk dilakukan inisiasi dini.
“Sayang, ini Mama, Nak. Ini Mama,” ujarnya tercekat. Tangis Anggi pecah, berpadu rasa bahagia juga bersalah. Bahagia tiada tara merasa kebahagiaanya lengkap sudah, juga merasa berdosa kala teringat lagi pernah berniat menggugurkan si bayi tampan yang kini menggeliat dan meraba pipinya. “Maafkan Mama, maafkan Mama,” isaknya.
Juna ikut menuduk tanpa mampu berkata-kata lantaran tenggorokannya seolah tersumpal gunungan haru, menundukkan wajah ingin melihat lebih dekat darah dagingnya yang telah lahir.
"Ini anak kita, Sayang. Baby boy kita," ucap Juna sembari memeluk keduanya, mengecup anak dan istrinya. Mengusap penuh sayang air mata yang membasahi wajah cantik Anggi.
__ADS_1
“Anggita Jelita, terima kasih, sudah bersedia menjadi istriku, terima kasih telah sudi menerima pria keras kepala sepertiku menjadi suamimu, terima kasih sudah menjadi ibu dari anakku, melahirkan keturunan Syailendra untukku,” ucap Juna tercekat dari lubuk hati terdalam yang direspons Anggi dengan senyum serta anggukan dalam sedu sedannya.
Juna mengusap pelan kepala putranya, lalu berkata, "Selamat datang, Putraku, buah hatiku, Sadewa Bramantya Syailendra. Jadilah anak yang berbakti kepada kedua orang tua terutama pada Mamamu yang begitu kepayahan menghadirkanmu ke dunia. Jadilah pelita penyempurna bahagia dalam kehidupan kami, juga semoga engkau menjadi insan yang berguna dan bermanfaat bagi sesama, sehat serta panjang umur, Anakku."
Mereka berdua kini telah resmi menjadi orang tua. Kehadiran buah hati ke dunia melengkapi mahligai pernikahan keduanya. Sebagai bukti cinta serta penguat jalinan rumah tangga.
Pernikahan mereka yang diawali dengan warna kelabu tanpa adanya getar debar indah di dada, kini telah tersingkap tabir suramnya. Dipenuhi warna-warni cinta yang berpendar indah, menguarkan kebahagian, mekar harum mewangi memenuhi hingga penjuru sukma.
Bersambung.
Detik-detik menuju ending 🤧. Jangan lupa kado buat baby boy, para onty onlen 😘 melalui dukungan hadiah, kupon serta likenya ya. Thank you 💜.
__ADS_1