
Istri Arjuna Bab 52b
“Bolehkah, kalau aku juga ingin belajar mencintaimu dengan benar, Mas?”
“Cintai aku sesuka hatimu, cintai aku dengan caramu, Anggita,” jawab Juna serak sembari menyeka buliran basah yang berjatuhan dari pelupuk sendu Anggi.
"Aku memang pernah mencintai begitu dalam, tapi tak pernah merasakan balas dicintai,” ungkap Juna getir yang memang benar adanya.
“Kuharap aku mampu, membalas cinta seperti yang Mas mau. Walau Mas bukanlah yang pertama singgah dalam hidupku. Tapi, aku berharap, Mas Juna lah yang terakhir, mengisi kalbuku hingga napasku berhenti nanti.”
Juna mengecupi penuh haru kelopak mata, lalu beralih ke pipi lembut yang basah itu juga mengecup sekilas bibir Anggi yang gemetar terisak. “Ajari juga aku, ajari aku untuk mencintaimu dengan benar. Hatiku sudah tumpul terlalu lama, Anggita. Aku bahkan hampir lupa bagaimana cara mencintai.”
Anggi menatap Juna bersama jutaan rasa yang berkecamuk di benaknya. Merasa iba kendati masih berselimut perih.
__ADS_1
“Ayo, kita sama-sama belajar. Asal Mas tahu. Aku tak mampu menghentikan rasa yang bertumbuh begitu saja di hatiku seiring waktu, walau kebersamaan kita tidak berawal manis. Aku... aku juga cinta kamu, Mas. Tapi, di sini kadang masih sering terasa sakit,” ujar Anggi sambil menepuk pelan dadanya sendiri.
“Maafkan aku, Sayang. Maaf, karena telah banyak membuatmu menangis tanpa aku tahu.” Juna menyeka kristal bening yang membanjiri wajah sang istri yang tengah terisak.
“Aku … setiap hari selalu berusaha untuk memaafkanmu, Mas. Walaupun memang tak mudah. Bukan demi kamu, tapi demi diriku sendiri. Dengan lebih sering mengingat hal baik yang kamu lakukan, begitulah caraku mengikis marah dalam hati. Harus aku akui, aku belum lah sepenuhnya memaafkanmu, Mas. Tapi, aku sedang berusaha supaya hatiku yang pernah tergores benar-benar ikhlas memaafkan. Kuharap, Mas mau bersabar dan menunggu, memberi hatiku waktu.”
“Aku akan menunggu, tak peduli berapa lama, sampai hatimu rela mengampuniku.” Juna meletakkan telapak tangan tepat di dada Anggi di mana jantung berdetak.
Juna beringsut lebih turun. Mengusap perut bawah Anggi yang masih rata, melabuhkan kecupan lama di sana penuh sayang. "Maafkan, Papa. Maafkan, Papa, Nak,” ucapnya tersendat-sendat.
Masih dalam isak tangis yang membungkus, Anggi meraba rambut Juna dan membelai di sana. Jujur saja, tusukan nyeri terkadang masih Anggi rasakan jika mengingat kembali pada kejadian yang telah lalu. Namun, terlepas dari bagaimana pun cara malaikat kecil itu hadir, anak memanglah anugerah yang membawa begitu banyak berkah.
Seperti derai maaf Juna hari ini yang bahkan bermimpi pun Anggi tak berani. Semua terwujud nyata, bersama untaian kalimat indah yang membuatnya akhirnya merasakan memiliki arti untuk pria yang telah menjadi suaminya, arti sebagai seorang wanita juga istri. Berkat hadirnya si buah hati, meruntuhkan sekat usang di antara kedua orang tuanya, hingga akhirnya saling jujur dan saling mengakui.
__ADS_1
“Apakah anakku akan memaafkanku, Anggita? Aku sangat berdosa padamu juga padanya,” ucap Juna lirih penuh rasa bersalah.
“Tentu saja. Cinta yang Mas beri untuknya, bahkan mungkin lebih besar dari aku. Di saat aku ingin melenyapkannya, Mas lah yang mati-matian mempertahankannya. Dia sungguh beruntung, memiliki Papa yang sangat menyayangi dan mencintainya,” sahut Anggi di sela-sela sedu sedannya.
Juna kembali beringsut naik. Membelai lembut kepala Anggi. Mata mereka yang basah saling menatap. Sama-sama menangis.
“Mau kah kamu memulai dari awal, menuliskan kisah di lembaran yang baru bersamaku, Istriku?” pinta Juna penuh harap.
Anggi menyentuh rahang Juna, mengangguk tanpa ragu masih dengan air mata yang membanjiri. “Aku mau. Ayo, kita buat kisah baru. Tentang kita, hanya tentang kita.”
Tak ada yang lebih indah dari cinta yang berbalas. Tak ada yang lebih merdu dari senandung sanubari yang berderai dari lisan. Serta tak ada yang lebih syahdu dari hati yang sedang berusaha membasuh segala luka dengan maaf. Selalu yakin, bahwa memaafkan ribuan kali lebih indah daripada memelihara kebencian dan kemarahan.
Itulah rasa yang tengah menghujani dua insan yang kini berpelukan di sempitnya ranjang rumah sakit. Bergelung saling mendekap, dalam lingkupan mendung disertai rintik gerimis yang menyejukkan kalbu.
__ADS_1
Benteng yang mereka bangun, telah runtuh. Belum rata sepenuhnya, masih ada sisa benteng yang berdiri kendati tak menjulang, butuh waktu untuk roboh seluruhnya dan itu telah dimulai dari sekarang. Terkikis untaian maaf juga memaafkan.
TBC