Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 32a


__ADS_3

Istri Arjuna 32a


“Kenapa berbelok ke jalur ini? Ini bukan arah pulang.” Anggi menelengkan kepala melihat ke luar melalui kaca jendela mobil begitu Pak Oman si sopir mengambil jalur berlawanan dari yang seharusnya.


Ia dan Juna baru pulang dari kediaman ibunya. Baru selesai menyiapkan segala keperluan Ningrum yang mulai besok menjalani perawatan di rumah. Mulai suster dari rumah sakit yang diminta datang berkala, sampai katering makanan sehat yang dipesan untuk menu makan yang dijadwalkan diantar tiga kali sehari.


Anggi khawatir lebih tepatnya tidak percaya kepada Ayu dalam hal mengelola nutrisi gizi ibunya yang harus dijaga sedemikian rupa. Untuk itulah Anggi memilih jasa katering supaya merasa tenang.


“Ikut aku ke kantor sebentar. Ada meeting darurat yang memerlukan kehadiranku,” jawab Juna yang duduk di sebelah Anggi. Sibuk dengan gawai di pangkuan serta ponsel yang diapit antara telinga dan pundak, sedang berkomunikasi dengan Pandu. Sudah berhari-hari Juna tidak pergi ke kantor. Mengerjakan semua urusan Royal Textile dari rumah.


Anggi menunggu sampai Juna menyudahi percakapan teleponnya. “Aku ingin pulang saja. Setelah Mas sampai ke kantor, biarkan Pak Oman mengantarkanku pulang ke rumah.”


Juna menggelengkan kepala sembari memasukkan ponsel ke saku celananya. “No, aku ingin kamu ikut. Aku janji rapat dadakan ini tidak akan terlalu lama. Hanya saja tak bisa ditunda, ada pembahasan penting terkait proses pembangunan pabrik baru yang sedang dibangun di Pekalongan. Selain itu, aku juga sudah membuat janji dengan dokter kandungan yang direkomendasikan Wulan. Sepulang dari kantor kita langsung ke sana. kupastikan rapat tidak akan berlangsung lebih dari pukul tiga sore."


Anggi melihat jam tangannya sendiri dan waktu menunjukkan pukul satu siang. “Tapi punggungku pegal juga sakit. Imbas dari mual hebat menjadikan punggungku tak nyaman. Aku ingin berbaring,” keluh Anggi apa adanya.

__ADS_1


Memang benar, mual muntahnya menyisakan efek tak nyaman di punggung seharian, padahal morning sicknessnya hanya terjadi di pagi hari.


“Sebelah mana yang sakit?” Juna mendadak panik. Menyingkirkan serampangan semua benda dan berkas di pangkuan lalu menggeser duduknya. Mendaratkan telapak jantannya di punggung rapuh istrinya itu.


Anggi sedikit berkelit disertai sikutan, menolak tangan Juna yang menyentuh punggungnya. Hanya saja itu sia-sia. Di dalam mobil tidak begitu banyak ruang gerak. Menyulitkan Anggi untuk menghindar.


“Diamlah. Biar kupijat. Aku janji pelan-pelan.” Juna tahu Anggi sedang menghindarinya, tetapi bukan Arjuna Syailendra namanya jika mudah menyerah. Tidak mungkin dirinya menjadi pebisnis andal jika mudah ditumbangkan aral melintang.


Juna mengangsurkan telapaknya mengelusi naik turun dengan memberi sedikit tekanan ringan. Tidak terlalu kuat, hanya kurang dari sepuluh persen kekuatan yang disalurkan di sana.


Awalnya Anggi membiarkan Juna mengusap-usap punggungnya karena menolak pun percuma. Tidak mungkin terus beradu argumen di kursi penumpang yang tidak leluasa ini. Kasihan sekali Pak Oman yang sedang fokus mengemudi jika harus mendengar perseteruan majikannya.


Akan tetapi, lama kelamaan usapan itu terasa enak di punggungnya yang sejak tadi tak bersedia diajak berkompromi, terasa nyaman saat tangan Juna mendarat di sana. Sepertinya si jabang bayi sangat suka sentuhan ayahnya. Anggi juga sebenarnya tahu, meski dalam situasi pemberontakan, belakangan ini setiap terjaga di pagi buta, ia pasti terbangun dalam dekapan Juna. Dalam alam tidurnya pun, setiap kali merasakan telapak tangan juga punggung kokoh melingkupinya, seketika mimpi buruknya lari tunggang langgang.


Anggi mengangguk memilih jujur. Menyangkal pun rasanya seperti mengkhianati diri sendiri. “Hmm, udah enakan, Kok. Sudah cukup," sahutnya tanpa menoleh bertepatan dengan mobil yang memasuki area parkir kantor Royal Textile.

__ADS_1


“Ayo.” Juna mengulurkan tangan begitu membukakan pintu untuk Anggi. Kendati enggan, Anggi turun hanya saja mengabaikan uluran tangan Juna.


Mereka melangkah bersisian. Ia terkesiap ketika Juna merangkul pinggangnya supaya merapat. Saat memasuki lobi semua karyawan yang bekerja di bagian depan membungkuk sopan. Awalnya Anggi merasa risih karena perlakuan Juna terlampau intim.


Namun, ketika melihat sosok Fania muncul di kejauhan, Anggi merapatkan tubuhnya sengaja, semakin menempel pada Juna yang tentu saja disambut dengan senang hati oleh si pria yang hari ini begitu tampan dalam balutan setelan mahal rumah mode Tom Ford.


“Kenapa?” Juna yang merasakan Anggi menumpukan seluruh bobot tubuh padanya mulai khawatir.


“Aku … aku agak pusing.” Anggi berpura-pura memijat pelipis. Melalui sudut mata, Anggi dapat menangkap. Dari kejauhan, tampak Fania menghunus penuh dengki padanya.


“Sini, aku gendong,” ucap Juna serius. Dia hendak meraup tubuh istrinya itu dan cepat-cepat Anggi menahannya.


“Eh, ti-tidak usah, Mas. aku masih bisa jalan,” Anggi menjawab seraya mengulas senyum hambar. Juna tidak melihat keberadaan Fania, jadinya tidak mengetahui akan penyebab perubahan Anggi yang akhir-akhir ini bersikap ketus mendadak pasrah saja merapat dengannya.


“Ya sudah, nanti kamu bisa istirahat dan tidur di ruanganku. Aku akan meminta asisten Pandu bertugas di depan ruangan, untuk berjaga-jaga kalau kamu butuh sesuatu selama aku memimpin rapat,” jawab Juna seraya masuk ke dalam lift tanpa melepaskan Anggi dari rangkulan posesifnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2