Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 58a


__ADS_3

Istri Arjuna bab 58a


Sementara itu, di kediaman Maharani dan Barata, terdengar suara Maharani yang berteriak-teriak dan meraung menangis.


"Apa karena aku belum bisa memberi cucu seperti si menantu kesayangan jadinya Papi terus memojokkanku? Kalian jahat!" Maharani berseru sambil menangis kencang. Terduduk di sofa sembari memeluk dirinya sendiri.


"Rani. Sama sekali tidak begitu, Nak. Tapi Papi harus tahu sebab musababnya kenapa kamu sampai berakhir mencelakai Anggi yang sedang hamil? Anggi sedang mengandung anak adikmu, keponakanmu. Coba jelaskan pada Papi, Nak," pinta Surya tanpa suara meninggi. Sama-sama bernada keras hanya akan membuat situasi memanas.


Surya mencoba bijak menyikapi permasalahan yang meletus akibat ulah anak sulungnya. Walaupun itu sulit, karena sejujurnya rasa kecewa menyelinap di hati saat disajikan fakta tentang anaknya sendiri yang mencelakai menantu yang sedang mengandung cucunya sampai pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Bahkan hari ini Rani juga melukai adik kandungnya.


Namun, posisinya di sini adalah sebagai orang tua. Dia tidak ingin menghakimi keras tanpa ampun. Bagaimana pun juga Maharani adalah anaknya, dan sebagai orang tua tugasnya adalah menjadi penengah, menjadi pembimbing kembali ke jalan yang benar saat anaknya berbuat salah.


Sangsi untuk Rani pasti ada nantinya, Surya sudah meniatkan dalam hati. Sebagai sarana renungan berharap anaknya bisa introspeksi meskipun tidak sekarang, lantaran saat ini mencari solusi agar adik dan kakak ini bisa saling bicara dalam situasi kondusif tanpa nada tinggi dan amarah berapi-api lebih utama.


"Sudah kubilang aku gak sengaja, tapi kalian tak percaya! Aku merasa tak perlu menjelaskan apa pun lagi. Karena kalian pasti hanya akan terus menyudutkanku iya kan! Kalian semua pasti sudah gak sayang lagi padaku dan lebih menyayangi Arjuna juga si wanita hamil itu!" serunya sembari meraung menangis.


Barata memijat pelipis. Posisinya serba sulit. Ingin ikut bersuara pun, suasana malah semakin rumit.


"Bukan begitu, Nak. Tapi, saat kita berbuat salah seharusnya kamu meminta maaf bukan? Kamu sudah mencelakai Anggi dan bahkan sekarang kamu membuat Juna terluka. Sebagai seorang ayah, Papi hanya ingin mencari jalan tengah supaya kisruh di antara kamu dan adikmu bisa dicarikan jalan keluar. Papi tidak ingin masalah ini semakin berlarut." Surya mencoba menjelaskan dengan suara lembut.

__ADS_1


"Aku gak mau dengar! Aku gak mau dengar! Aku gak mau bicara sama Papi!" sergahnya keras kepala.


"Rani! Jaga sikapmu sama Papi! Papi itu orang tua!" bentak Barata geram yang sejak tadi mencoba diam membiarkan ayah dan anak itu saling bicara. Akan tetapi, menyaksikan istrinya malah semakin menjadi, kesabarannya yang sudah terkikis kian menipis.


"Kalian semua gak sayang lagi padaku. Kalian semua jahat!" Maharani berderap masuk ke kamarnya dan membanting pintu, kembali meraung menangis di sana.


Surya membuang napas lelah, kemudian menepuk bahu Barata yang menegang. "Bara, untuk sekarang sebaiknya kalian jangan kembali dulu ke rumah utama. Sebaiknya Rani dan Juna tidak bertemu muka dulu untuk sementara. Coba lah untuk bicara pada Rani, semoga dia mau berterus terang padamu. Dulu, Rani tidak separah ini, tapi yang dilakukannya sekarang sudah melewati batas."


"Akan aku coba, Pi. Aku antar Papi pulang." Barata hendak mengambil kunci mobil, tetapi ditahan oleh Surya.


"Papi bisa pulang sama sopir. Kamu jaga saja Rani. Terima kasih, Bara. Sudah menjadi suami yang bertanggungjawab untuk anakku."


*****


Dini hari, suara erangan jantan mengusik Anggi dari tidurnya. Secepat kilat ia bangun, menegakkan tubuh lalu menunduk sangat dekat dengan wajah Juna. Memeriksa kondisi suaminya dan benar saja sudah terbangun. Kelopak matanya bergerak, tetapi netranya belum terbuka.


"Mas," ucap Anggi serak penuh kekhawatiran sambil mengelus lembut rahang suaminya.


Juna mendesah berat. Matanya masih belum membuka akibat kepalanya berdenyut nyeri. Meringis sambil menyentuh kepalanya sendiri.

__ADS_1


Anggi panik dan tak mampu menahan isakan yang terus saja tak terbendung. Takut terjadi hal buruk pada suaminya di saat mereka baru saja menyecap manisnya cinta bersama.


"Mas, Sayang. Buka matamu, Mas, kumohon. Lihat aku," pintanya parau. Anggi mengecup kening Juna hingga buliran beningnya membasahi dahi si pria yang kini mulai membuka mata.


"Anggita?" lirihnya serak. Masih dalam pandangan kunang-kunang.


Anggi mengecupi dengan lembut seluruh wajah suaminya. Menumpahkan belitan rasa cemas yang mencekik.


"Ini aku, Mas. Ini aku, Sayang. Aku di sini," jawabnya. "Apa yang terjadi? Maafkan aku, Mas jadi begini pasti gara-gara aku." Tangisnya kembali pecah.


"Ssst, Jangan menangis, hmm. Terlalu banyak menangis kurang baik untuk wanita hamil," ujar Juna dengan suara lemah.


"Aku dan anak kita sangat takut terjadi hal buruk padamu. Kamu terluka sampai tak sadarkan diri. Aku takut, Mas. Aku takut." Anggi terisak-isak.


Juna mengulas senyum di wajahnya yang pucat. "Aku tidak selemah itu. Ini hanya luka kecil. Sini, peluk aku, Sayang."


Juna membuka kedua lengan dan Anggi langsung menubruk dadanya tanpa basa-basi. Mendekap erat, takut kehilangan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2