
Dua bulan berlalu. Sadewa Bramantya Syailendra dengan nama panggilan Brama, tumbuh menjadi bayi sehat nan lucu. Pipinya gembul membingkai wajah tampannya yang sangat mirip dengan Arjuna. Sama sekali tidak terlihat kemiripan dengan Anggi walau hanya secuil.
Brama menjadi favorit rebutan keluarga Syailendra. Terutama Juna, Surya dan Marina. Sedangkan Anggi hanya sering menahan tawa melihat ketiga orang itu berdebat berebut si kecil. Belum lagi Maharani jika ada waktu berkunjung ke Bali walaupun hanya dua hari, selama itu pula dia ingin terus berdekatan dengan keponakannya, bertanya banyak hal pada Anggi juga Marina tentang mengurus bayi baru lahir sebagai bekal mengurus bayi yang dilahirkan Ayu nanti, memperhatikan dengan saksama saat Anggi mau pun maminya mengurus si kecil.
"Cucu Opa sudah ganteng, ayo kita jalan-jalan pakai stroler sambil berjemur pagi."
Surya dan Marina mendekati Juna yang sedang menggendong anaknya. Juna baru keluar dari kamar setelah sang putra selesai dimandikan dan disusui. Juna menciumi sang putra gemas dan menghidu wangi khas bayi yang sangat disukainya, mendekap tubuh mungil nan hangat itu dalam lingkupan lengan kekarnya.
"Eits, setiap pagi Papi dan Mami menculik anakku untuk dibawa jalan-jalan. Pagi ini aku ingin membawanya berjemur juga," protes Juna, menggendong posesif si bayi lucu yang kini tengah menendang-nendangkan kaki juga tertawa menampakkan gusi ompongnya pertanda senang.
"Dasar pelit! Berikanlah kami kesempatan Juna. Kalian akan kembali ke Jakarta besok, Mami dan Papi hanya ingin bersama Brama lebih lama. Kami pasti akan sangat merindukan cucu kami setelah kalian kembali." Seperti biasa, selalu terjadi drama pagi hari dari seorang nenek yang ingin memboikot cucunya.
Anggi muncul dari dalam kamar. Melipat bibir, menahan tawa, antara lucu juga bahagia, terharu melihat putranya begitu dicintai dan disayangi banyak orang.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Biarkan Papi dan Mami membawa Brama untuk berjemur. Biar bisa kangen-kangenan dulu sebelum kita kembali pulang." Anggi ikut bersuara seperti biasa, melerai di saat arena perebutan bayi mulai memanas.
"Menantu Mami memang yang terbaik, paling pengertian," rajuk Marina yang sedang dilanda sindrom menjadi nenek baru, menyindir putra bungsunya sendiri.
Meski dengan mendelik tak suka, Juna akhirnya memberikan putranya pada mami dan papinya. Marina dan Surya langsung berlalu dengan raut gembira sembari mengajak sang cucu berceloteh senang, seolah Juna sekarang tak kasat mata jika si bayi lucu sudah berada di tangan mereka.
"Ck, mereka memboikot anakku!" kesalnya seraya berkacak pinggang.
Anggi terkekeh, mendekat lalu mengelus pundak Juna. "Itu tandanya, Brama dicintai banyak orang. Biarkan Mami dan Papi menghabiskan waktu dengan putra kita. Lebih baik sekarang kita berkemas untuk kepulangan besok."
Anggi balas melingkarkan lengan ke pinggang Juna. Melangkah bersama-sama menuju ruang makan.
"Bagaimana dengan luka bekas operasi? Masih ada keluhan?" tanya Juna penuh perhatian sembari menyeimbangkan ayunan kaki, berjalan perlahan saja mengingat istrinya masih dalam masa pemulihan.
__ADS_1
"Seperti yang dokter katakan, bagian luarnya sudah membaik, walaupun masih menyisakan ngilu di dalamnya."
"Berapa lama lagi kata dokter sampai aku boleh berkunjung? Akh, aku rindu eranganmu," bisiknya frontal.
Anggi menghentikan langkah, meninju bahu Juna, bibirnya mengerucut. "Ish, yang jelas masih lama!" serunya galak.
"Jangan ngambek dong, Sayang. Jangan memajukan bibirmu, membuatku ingin ********** sekarang juga."
"Memangnya aku kentang kukus yang mau dijadikan perkedel sampe harus dilumatkan!" protesnya. Melepaskan rangkulan, lalu menyikut pinggang Juna.
Juna malah terbahak, mengecup lagi pipi Anggi yang sedang cemberut. "Oh iya, kapan hari perkiraan lahir kandungan Mbak Ayu?" tanyanya kemudian.
"Menurut kabar dari Mbak Rani dua minggu lagi. Oleh karena itu aku ingin segera kembali, ingin menemani kakakku melahirkan."
__ADS_1
Bersambung.