Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
Bonchap 3


__ADS_3

Sepulang dari Jepang, keesokan harinya Anggi dan Juna langsung bertolak ke sebuah panti asuhan anak-anak yang lokasinya tidak terlalu jauh dari gang rumah mendiang Ningrum.


Beberapa waktu ke belakang setelah berunding dengan keluarga Juna, akhirnya Anggi memutuskan menjual rumah tinggal ibunya dan uang hasil penjualan akan disumbangkan seluruhnya pada sebuah panti asuhan juga untuk pembangunan masjid yang terletak tak jauh dari panti.


Semula, Anggi hendak membagi dua uang hasil penjualan tersebut. Sebagian untuk disumbangkan, dan separuhnya lagi untuk diberikan kepada keponakannya yang masih balita, Yudhistira. Bagaimana pun juga, Yudhistira memiliki hak atas rumah tersebut, sebagai anak kandung dari sang kakak.


Namun, Maharani dan Barata sepakat menolak dengan halus. Bukan sebab karena kesombongan dengan materi melimpah yang dimiliki, tetapi menurut mereka jika disumbangkan maka itu lebih berkah. Berharap semoga segala kebaikan dari sedekah, ganjarannya mengalir indah pada almarhumah Ningrum juga pada ibu kandung si balita lucu yang menjadi penyempurna pernikahan mereka.


Serah terima sumbangan berlangsung syahdu. Diterima dengan penuh haru juga syukur. Do'a bersama dipanjatkan dengan khidmat. Bersemoga keberkahan melimpah untuk yang masih panjang kisahnya di alam fana juga untuk mereka yang telah lebih dulu menyudahi perjalanan kehidupan dunia.


"Rasanya hatiku lega sekarang," gumam Anggi di perjalanan pulang dari panti. Melirik suaminya dengan ukiran senyum yang semakin hari kian menawan. Terpupuk kedewasaan membuat auranya terpancar bijak.


Juna yang sedang menyetir balas menoleh sekilas, ikut tersenyum lalu kembali fokus ke jalanan.


"Aku pun ikut lega. Ibu pasti bangga memiliki putri sepertimu. Yang berbakti tiada henti bahkan setelah beliau tiada," tutur Juna sungguh-sungguh.


"Semua upayaku untuk ibu juga tak lepas dari peran sertamu, Mas. Yang selalu mendukungku penuh." Anggi meraih tangan kiri Juna dan meletakkannya di pipi. "Makasih, suamiku," ungkapnya tulus terbungkus haru.

__ADS_1


"Aku tidak mau menerima cara berterima kasih yang biasa. Aku sukanya yang spesial." Juna berkelakar, sudut bibirnya menyeringai nakal. Balas menggenggam tangan Anggi menariknya lembut untuk dikecup.


Anggi terkekeh. "Baiklah, Pak Arjuna Syailendra. Saya akan membuat acara ucapan terima kasih secara resmi yang sesuai dengan kriteria Anda malam ini. Mau dress code warna apa? Merah, hitam, putih, pink?"


"Sebetulnya aku lebih suka tidak ada satu helai benang pun yang melekat padamu, Mama Brama," desis Juna sensual menggoda.


Anggi tergelak. Bukan rahasia lagi, saat berdua dengannya, suaminya ini mesum tak ketulungan. "Baiklah, sesuai pesanan," balas Anggi tak ingin kalah.


"Akh, aku jadi ingin pulang. Tiba-tiba saja ada yang memberontak di tempat sempit, menuntut ingin dibebaskan," keluhnya terus terang, tak malu sedikit pun.


Mobil mengambil jalur ke kanan. Berlawanan arah dengan jalan menuju ke rumah. Anggi kembali menoleh pada Juna dan bertanya, "Mas, kita, mau ke mana?"


"Mmm, ke suatu tempat. Ikut saja." Senyuman tak henti terukir di wajah rupawan tampannya. Sesekali bersenandung mengikuti lagu yang diputar siaran radio dari tape mobil.


Kendaraan yang dikemudikan Juna berhenti di sebuah bangunan mirip ruko, tetapi tiga kali lipat lebih luas yang lokasinya dekat dengan sebuah kampus.


Anggi turun, mengikuti ke mana kaki Juna melangkah. Mengamati sekitar, bangunan luas ini tampak baru direnovasi dan didesain ulang, belum dibuka. Arsitekturnya mengadopsi tema vintage, melalui kaca tembus pandang, Anggi melihat bagian dalamnya didesain estetik mirip coffe shop di jalanan kota-kota di Eropa. Pas dengan seleranya. Ia menengadah dan membaca plang besar yang terpampang di atasnya.

__ADS_1


Jelita Coffe Shop & Bakery.


"Kamu suka?" tanya Juna.


"I-ini, ini apa. Mas?" Anggi menatap suaminya tak mengerti.


Juna merangkul bahu Anggi, membalas pandangan. "Ini hadiah anniversary dariku untukmu, Istriku. Aku harap, kadoku ini sesuai dengan seleramu."


"Mak-maksudnya, bagaimana?" Luapan gembira juga terkejut membuat Anggi tergagap linglung.


"Aku sedang berusaha mewujudkan impianmu yang ingin membuka coffe shop, aku mengetahuinya dari Bik Tiyas juga Lina. Semoga kamu menyukai kado ini."


Anggi memeluk Juna seketika. Bahagia juga terharu. Tak pernah menyangka, Juna sampai memperhatikan detail sampai hal terkecil demi menyenangkannya.


"Lebih dari suka. Aku sangat menyukai ini. Makasih, Mas. Makasih."


Keduanya bergandengan tangan penuh sukacita masuk ke dalam bangunan. Setelah berupaya saling memahami, buah dari pernikahan mereka semakin terasa manis. Berkat dipupuk juga disirami dengan yang namanya saling pengertian.

__ADS_1


__ADS_2