
Halo para pembacaku tersayang. selamat memasuki bulan November. Maaf telat 😁.
Jangan lupa selalu dukung novel 'Istri Arjuna' dengan vote kupon, hadiah dan juga likenya ya. Mari kita dukung cerita kesayangan kita ini agar semakin bersinar💜. Jangan lupa juga follow instagramku @Senjahari2412 untuk mengetahui info-info tentang seputar cerita yang kutulis.
Periode giveaway berlaku sampai novel ini tamat. Yang nangkring di tiga besar dukungan, akan mendapatkan kenang-kenangan dari author begitu novel Istri Arjuna tamat 🥰. *H**appy reading*
🥭🥭🥭🥭🥭
Istri Arjuna Bab 40b
"Tidak salah, Bik? Benar mertuaku yang datang?"
Anggi bertanya untuk memastikan mengingat malam sudah cukup larut. Pasalnya mertuanya bertempat tinggal di seberang pulau, bukan di Cinere yang bisa dijangkau dengan mudah dari kediamannya.
"Ada apa, Papi dan Mami datang mendadak malam-malam begini?"
Juna yang muncul di belakang punggung Anggi menimpali. Dia masih hanya terbalut handuk belum berpakaian. Pintu hanya dibuka sedikit celahnya, sehingga hanya bagian wajah Juna yang terlihat Bik Tiyas.
"Saya juga tidak tahu ada apa, Pak, Bu. Tapi nyonya besar terlihat hanya memakai baju rumahan. Sepertinya pergi terburu-buru dan terbang mendadak ke sini. Meminta ingin bertemu Ibu dan Bapak sekarang juga." Bik Tiyas menyampaikan dengan sopan.
__ADS_1
"Oh, ya. Mungkinkah terjadi sesuatu yang gawat? Ayo kita turun, Bik."
Anggi mengencangkan tali jubah tidur dan memakai sandal bulunya. Tergesa turun diikuti Bik Tiyas. Tak peduli lagi pada Juna yang kini tengah merengut sebal karena lagi-lagi hasratnya tak tertuntaskan.
Juna berdecak kesal. Kepalanya pusing luar biasa. Sama sekali bukan masalah jika orang tuanya datang ke rumah. Dia juga rindu, terlebih lagi kepada papinya yang jarang ikut serta setiap kali Marina datang berkunjung.
Namun, masalah besarnya sekarang adalah si pusat tubuh yang meronta pasti hilang kesempatan untuk dilemaskan dengan cara yang seharusnya. Anggi yang tadi sudah terbuai terayu cumbuannya, belum tentu mudah untuk dibuai lagi jika diajak menyambung kegiatan yang tadi. Mengingat Anggi kini sering menghindarinya.
"Argghh!" geramnya jengkel sambil membanting pintu sebelum bergegas ke ruang ganti.
Anggi menuruni tangga dengan cepat. Meskipun Bik Tiyas sudah mengingatkan untuk melangkah pelan saja, tetapi Anggi tak menghiraukan. Mertuanya yang berkunjung mendadak sudah pasti disebabkan terjadi hal genting dan itu membuat Anggi penasaran.
"Mami, Papi," panggilnya begitu memasuki ruang tamu. Anggi berderap cepat menghampiri. Mencium punggung tangan mertuanya bergantian.
Anggi tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya yang terbungkus kecemasan. Nada suaranya mencerminkan serbuan khawatir yang mendera.
Marina dan Surya Atmadja Syailendra ayah Arjuna, saling bertukar pandang dan melempar senyum penuh arti. Anggi yang panik merasa keheranan akan reaksi mertuanya. Berbagai macam tanya berkecamuk di benaknya.
"Mi, Pi. Kenapa tidak mengabari kalau mau datang? Dan kenapa datang selarut ini? Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Mami dan Papi sudah tidak muda lagi. Harus menjaga kondisi, jangan terlalu sering bepergian malam-malam."
__ADS_1
Juna yang baru memasuki ruang tamu ikut bersuara. Berdiri bersisian dengan Anggi setelah menyapa juga mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Sampai kapan kalian akan diam dan tidak memberitahu kami tentang hal penting ini?" Marina balik bertanya.
Anggi melongo, ia menoleh pada si pria jangkung yang berdiri di sebelahnya. Keduanya sama-sama tak mengerti akan pertanyaan si wanita paruh baya yang memakai piyama batik dilapisi cardigan itu. Dua sejoli yang dipaksa menyudahi acara bermesraan beberapa menit lalu itu bertukar pandang, saling bertanya melalui sorot mata.
"Memberitahu apa?" Juna menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya, sungguh dia tak paham akan maksud maminya.
"Tentu saja tentang cucuku!" jawab Marina yang sekarang menatap jengkel pada putranya.
"Hah?" tukas dua sejoli itu bersamaan.
"Mami baru tahu tadi sore saat bertukar kabar dengan besan. Ningrum mengatakan kalau Anggi sedang hamil sekarang. Dasar anak tidak berperasaaan. Kenapa berita bahagia begini tidak langsung mengabari Mami?" Marina memukul pundak Juna gemas bercampur kesal.
"Kalian tahu. Mamimu langsung meminta terbang ke sini setelah selesai bertukar kabar dengan Bu Ningrum. Saking tak sabarnya bahkan tak ingat berganti baju." Surya ikut bersuara. Tersenyum semringah pada anak dan menantunya.
"Maaf, Mi. Saking banyak hal yang terjadi, aku sampai lupa mengabari." Anggi meringis merasa tak enak hati.
"Hey, ini bukan salahmu. Wanita yang sedang hamil muda mana ingat akan hal-hal begitu, terlebih lagi di kala ngidam mendera. Mami tahu betul rasanya. Seharusnya Juna yang mengabari sebagai suami." Marina kini merangkul Anggi, raut wajahnya kentara amat senang.
__ADS_1
Marina dan Surya kini sibuk bertanya pada Anggi. Mengabaikan Juna yang menyeringai tak percaya. Ternyata anaknya sungguh hebat. Papi dan Maminya yang selalu memusatkan perhatian padanya, kini beralih minat pada si jabang bayi yang masih berada dalam kandungan Anggi.
Bersambung.