
BAB 23a
Istri Arjuna bab 23a
Pagi-pagi sekali, Anggi sudah bersiap pergi ke rumah sakit. Selain hendak menjenguk ibunya, Anggi juga memiliki maksud lain. Ingin memastikan praduga yang sejak tadi malam berkecamuk hebat dalam benaknya.
Anggi bahkan tidak ingat lebih tepatnya tidak peduli jam berapa pastinya Juna kembali ke rumah. Saat dini hari, ia sudah mendapati Juna berbaring membelakanginya di ranjang. Anggi memang tertidur, tetapi dalam tidurnya ia resah, gelisah. Efek memikirkan berbagai macam kemungkinan, membuatnya sering terjaga sehingga alhasil kepalanya berdenyut nyeri sekarang.
Anggi menulis pesan di secarik kertas memo sebelum berangkat karena Juna sedang di kamar mandi. Seburuk apa pun perangai Juna, sebagai seorang istri Anggi tidak melupakan adab akan kodratnya, tetap berpamitan saat hendak berpergian dari rumah.
Melangkah tergesa dengan degup jantung tak menentu, Anggi menuruni tangga dan hampir menabrak Bik Tiyas.
“Pagi buta begini mau ke mana, Bu?” Bik Tiyas mengelus dada karena kaget.
“Aku mau berkunjung ke rumah sakit. Kebetulan ibuku ingin sarapan bubur ayam yang dijual samping gang dekat rumah ibu.” Anggi berkata sambil memakai sepatunya cepat-cepat.
“Tapi sopir belum datang, Bu?” ucap Bik Tiyas memberitahu.
__ADS_1
“Aku sudah pesan taksi daring.”
“Tapi, Bu. Nanti kalau bapak_”
“Aku berangkat dulu, Bik. Taksinya sudah sampai.” Ucapan Bik Tiyas tak terselesaikan begitu sebuah taksi berhenti di luar pagar.
Derap heels yang dipakai Anggi terdengar nyaring. Bik Tiyas hanya bisa melihat punggung sang nyonya penuh tanya sambil meremas serbet. Khawatir Tuannya murka saat nanti mengetahui istrinya sudah pergi di pagi buta.
Anggi duduk harap-harap cemas menunggu namanya dipanggil. Sesekali menggigit bibir sambil meremas kedua tangan yang terjalin di pangkuan. Setelah melihat kondisi Ningrum dan menyuapi sarapan. Anggi beralasan ingin ke kantin membeli kopi, padahal ia mendaftarkan diri di poli kandungan untuk memastikan dugaannya.
Ketika Juna pergi ke Pekalongan, Anggi sengaja libur meminum pil kontrasepsi. Menyimpan obat pencegah kehamilan di tas setelah membelinya dan berniat meminumnya saat menjelang kepulangan Juna.
Namun, kini dirinya cemas. Sejak malam kepulangan Juna yang tersulut amarah, ia terlupa dan luput akan hal pil kontrasepsi. Anggi ingat betul. Di malam sebelum jatuh sakit, Juna menyembur berkali-kali dalam dirinya dan kala itu ia sudah berhari-hari melewatkan meminum pil tersebut. Saat itu Juna pulang mendadak. Lebih awal dari yang sudah dijadwalkan.
“Nyonya Anggita.”
Anggi tersentak. Langsung berdiri dan menghampiri perawat yang berdiri di depan pintu ruang periksa.
__ADS_1
“Sa-saya, Suster.” Anggi tergagap. Berusaha tenang mengabaikan segala gundah. Tangannya mulai berkeringat dingin.
“Silakan masuk, Bu. Sudah giliran Anda diperiksa,” ucap perawat tersebut ramah.
*****
Anggi melangkah gontai begitu kembali ke rumah. Menunduk lesu sampai tak mendengar Lina yang membukakan pintu menyapanya. Pikirannya berkelana entah ke mana serta carut marut menyerupai benang kusut.
Menuju taman belakang, Anggi duduk di pinggir kolam renang. Menyelupkan kaki di segarnya air sambil mengeluarkan sebuah amplop dari tas tangan yang ditentengnya.
Ia kembali membaca kata demi kata. Berharap tulisan yang sudah dibacanya lebih dari sepuluh kali itu berubah isinya. Pandangannya mulai buram terhalang tirai air mata. Berkumpul menggenang memenuhi telaga jernihnya saat lagi-lagi sampai pada kalimat.
Dinyatakan positif hamil.
TBC
*****
__ADS_1
Jangan lupa dukungan vote dan hadiahnya 🥰. Sayang kalian banyak-banyak 🥰🥰.