Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 68 a


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 68a


Bantal, guling serta selimut yang ada di atas kursi panjang ruang tamu, Anggi rapikan untuk dibawa lagi ke kamar. Perintilan tersebut merupakan bekas suaminya tertidur.


Di rumah Ningrum hanya ada dua kamar. Yang satu ditempati Ningrum, sementara yang satunya lagi ditempati Ayu. Ayu dan Anggi dulunya berbagi kamar sebelum Anggi menikah.


Dengan ketiadaan kamar tamu, selama beberapa hari ini menginap jadinya Juna tidur di kursi panjang ruang tamu sedangkan Anggi tidur menemani ibunya. Anggi sempat meminta Juna untuk tidur di kediaman mereka saja dan akan mengabari jika terjadi hal darurat. Merasa tak enak hati melihat daksa tinggi tegap suaminya harus meringkuk tak nyaman di kursi ruang tamu. Namun, Juna menolak, mengatakan tidur di lantai pun tak mengapa, asalkan bisa turut menemani Anggi yang ingin berada di sisi ibunya.


Pintu kamar Ayu terbuka, si empunya muncul keluar dari dalam sana, tampak kusut tak karuan. Sudah dua hari dia mengunci diri di kamarnya dan hanya akan keluar untuk mengambil makanan. Menghindari bertukar kata dengan Anggi maupun Juna, bahkan tak mau masuk ke kamar ibunya untuk sekadar melihat keadaan Ningrum.


"Mbak, aku mau bicara sesuatu." Anggi menaruh selimut yang sudah di lipatnya ke atas kursi. Menghampiri Ayu yang kembali menghindarinya.


"Cih, buat apa? Mau menamparku lagi?" timpal Ayu sinis.


Anggi menarik Ayu masuk ke dalam kamar dan menutupkan pintu. Mendudukkan kakaknya di sisi ranjang. Sudah lama Anggi tidak masuk ke dalamnya.


Banyak hal berbeda. Baju-baju bermerek, tas mewah juga sepatu mewah serta ponsel Ayu semuanya merupakan barang mahal. Bahkan Anggi pun berpikir berkali-kali untuk membeli karena baginya harganya terlalu mahal meski Juna tak pernah melarang membelanjakan uangnya.


"Jangan tarik-tarik!" Ayu menepis tangan Anggi yang mencekal bahunya.

__ADS_1


"Semua barang-barang ini Mbak dapat dari mana?" tanya Anggi penuh selidik.


"Bukan urusanmu!" sambar Ayu sembari mengusap bahunya yang tadi dicekal.


Anggi menghela napas panjang. Kembali fokus pada hal yang ingin dibahasnya.


"Aku tanya sekali lagi. Siapa ayah bayi itu?" Anggi yang berusaha berbicara dengan nada rendah. Berdiri dan bersedekap di depan kakaknya.


"Aku sudah bilang aku juga gak tahu yang mana!" ketus Ayu kesal. "Telingamu tuli ya?"


Jemari lentik Anggi menyugar kasar rambutnya sendiri. "Bagaimana bisa Mbak enggak ingat dengan siapa melakukan perbuatan laknat itu!" geram Anggi, menahan diri untuk tidak berteriak.


Anggi tercengang dengan pernyataan lugas kakaknya. "Apa? Maksudnya Mbak menjadi jal*ng? Mbak sebut usaha itu maksimal? Dan untuk apa itu tadi, menyenangkan diri sendiri?" Ingin rasanya Anggi menampar lagi kakaknya ini. Tak menyangka Ayu lebih parah dari perkiraannya.


"Aku juga ingin bersenang-senang seperti teman-temanku! Membeli barang-barang mahal dan ikut komunitas sosialita dan semua itu butuh modal! Lagi pula mereka juga lah yang membuatku bisa masuk ke dalam jajaran wanita bayaran yang hanya dibooking kalangan kelas atas," ujarnya jemawa tak tahu malu. Sama sekali tidak ada penyesalan.


Anggi memejamkan mata dan membuang napas kasar. "Mbak, enggak kasihan sama ibu? Kenapa memilih jalan pintas sedangkan masih banyak pekerjaan halal!" Ingin rasanya Anggi menjambak Ayu berharap otak kakaknya sadar kembali, tetapi ditahannya lantaran tak ingin membuat keributan.


"Ibu mana bisa memenuhi semua kebutuhanku dan keinginanku. Asal kamu tahu, uang sepuluh juta darimu atas jasaku menunggui ibu cuma cukup untuk ongkos taksi saja! Juga lulusan SMA sepertiku cuma bisa bekerja dengan gaji rendah. Hanya pekerjaan ini yang bisa memberi bayaran tinggi. Aku kan bukan sarjana sepertimu!" Lagi-lagi Ayu mengungkit perihal tersebut.

__ADS_1


"Tapi tetap saja tidak bisa dibenarkan! Mbak jangan menutup mata tentang bagaimana aku bisa kuliah. Mbak pikir berapa gaji sarjana sepertiku? Bahkan uang bulanan yang Mbak terima dariku dan Mas Juna angkanya di atas gajiku dulu," jelas Anggi menekankan kata-katanya.


"Jangan mendikte pekerjaanku!" sergahnya emosi.


"Tapi gara-gara pekerjaan yang Mbak sanjung itu kini menghasilkan janin di rahim Mbak dan membuat kondisi ibu memburuk!"


"Heh, berhenti mengoceh!" Bola mata Ayu bergulir tak tenang ke sana kemari. Kentara amat resah. "Ibu cuma drop seperti biasa jangan membesar-besarkan! Sekarang, beri aku uang."


"Membesar-besarkan?" geram Anggi kehabisan kata-kata. "Untuk apa minta uang pada orang yang hanya bisa memberi ongkos taksi sepertiku? Bukannya Mbak punya uang sendiri dari hasil menjadi jal*ng?" ucap Anggi tajam.


"U-uangku ... uangku sekarang sedang habis dipakai membayar arisan komunitas. Sudah, bagi saja uangnya. Jangan banyak omong! Kamu ingin ibu tidak banyak pikiran bukan?"


"Maksudnya?"


"Beri aku uang untuk mengugurkan janin ini dan dengan begitu urusan selesai."


Tak ayal lagi sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Ayu. Anggi yang sejak tadi berusaha menahan diri kembali lepas kendali. "Mbak seharusnya sadar dan memperbaiki diri, bukan malah menambah dosa!"


Ayu bangkit hendak balas menjambak. Namun, kegiatan mereka terhenti saat Bik Tiyas terdengar memanggil-manggil Anggi karena perawat dari rumah sakit sudah datang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2