Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 27b


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 27b


Usapan telapak Juna masih setia berangsur naik turun di punggung wanita yang kini jauh lebih tenang. Juna sedikit memundurkan tubuhnya tanpa menghentikan elusan. Menurunkan pandangan, menatap lekat-lekat Anggi yang sedang tertidur.


Netra sembapnya memejam. Bulu mata lentiknya masih meninggalkan jejak basah begitu juga di pipinya. Lama Juna menatap dalam diam hingga embusan napas Anggi benar-benar halus teratur. Pertanda istrinya sudah dilingkupi nyenyak yang dalam.


Usapannya terhenti. Tanpa dikomando, jemarinya kini menyentuh lembut kelopak mata Anggi, merambat beralih ke pipi. Sisa-sisa air mata kepedihan Anggi, masih terasa basahnya saat tersentuh langsung telapaknya. Juna merapikan anak-anak rambut yang berserakan di dahi istrinya itu hingga tidak ada yang menghalangi.


Rasa asing lainnya mulai merayapi hati tatakala dipandanginya Anggi dengan benar. Yakni rasa mengusik disebut bersalah yang sudah berkali-kali menyambangi kalbunya dan selalu berakhir dengan penyangkalan.


Selama mereka menikah, Juna belum pernah sekali pun menatap maupun memperhatikan istrinya yang terlelap dalam-dalam seperti yang sedang dilakukannya sekarang.

__ADS_1


Setelah diperhatikan dengan seksama, paras cantik yang memejam itu kian tirus. Pandangan Juna semakin turun, tulang selangka di bahu Anggi tampak lebih menonjol dari pertama kali mereka menjadi pengantin. Juna baru menyadari, daksa istrinya sekarang tampak ringkih, lebih kurus dari sebelumnya. Pasti semua itu adalah imbas dari tekanan batin yang dipendam Anggi selama ini karena dijadikan objek pelampiasan segala beban denyut nyeri yang dipelihara di hatinya, menggerogoti serupa belatung.


Juna yang asalnya berbaring miring memeluk Anggi, kini mengubah posisi menjadi terlentang. Menatap langit-langit sembari menelaah rasanya sendiri. Menyaksikan Anggi yang mengungkap bahwasanya batinnya tertekan, membuat juna menyadari satu hal.


Selama ini dia terlalu larut dalam deritanya sendiri. Tanpa disadari menggali lubang derita lain dan mendorong Anggi yang tidak tahu apa-apa hingga terperosok ke dalamnya. Anggi sampai memiliki niat mengerikan pun semuanya tak lepas dari peranan dirinya di dalamnya yang telah menyeret Anggi berkubang dan tenggelam dalam telaga kepedihan.


Diliriknya Arloji di pergelangan tangan, menunjukkan waktu di pukul delapan malam. Juna turun dari peraduan. Membetulkan posisi berbaring Anggi supaya lebih nyaman.


Juna melonggarkan kancing dress Anggi supaya si empunya leluasa dalam tidurnya, gerakannya terhenti kala tatapannya jatuh ke bagian perut. Ingin rasanya mendaratkan belaian sayang di sana, setelah tahu ada anaknya yang berjuang tumbuh. Namun, tangannya terasa berat. Rasa bersalah berpadu kegamangan masih belum membentuk utuh kesadaran Juna. Belum sepenuhnya siuman, bahwa kemarahan dan sikap posesifnya pada Anggi bersumber dari rasa sayang yang mulai menggeliat.


"Selamat tidur." Hanya itu yang Juna gumamkan setelah menutupkan selimut membungkus tubuh Anggi.

__ADS_1


Juna sudah segar dalam balutan baju rumahan ketika turun menemui Bik Tiyas. "Bik, mulai besok, perhatikan segala asupan gizi untuk Anggi. Bila perlu tanyakan makanan kesukaannya. Istriku terlihat semakin kurus padahal sekarang dia sedang hamil. Pastikan Anggi makan dengan baik."


"Baik, Pak." Bik Tiyas mengangguk, kelegaan tersirat dari wajah wanita paruh baya itu karena ketakutannya tadi tak menjadi nyata. Setidaknya tuannya tidak berbuat kasar dan malah menunjukkan perhatian lebih. Bersemoga dengan hadirnya anak di antara sang majikan, menumbuhkan rasa saling mendukung demi si buah hati.


"Selamat, Pak. Anda akan menjadi ayah," ucap Bik Tiyas penuh syukur.


Juna tertegun sejenak, ada rasa menggelitik kala Bik Tiyas memberinya selamat. Mungkinkah dirinya merasa sangat senang Juna pun masih belum mampu menyimpulkan. Dia mengulum senyum dan menjawab, "Terima kasih."


Juna mengotak-atik ponselnya, menghubungi Pandu setelah selesai berbincang dengan Bik Tiyas kemudian terdengar memberi perintah. "Kirimkan dua security dari kantor untuk berjaga di rumahku mulai besok pagi."


TBC

__ADS_1


__ADS_2