Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 61b


__ADS_3

Istri Arjuna 61b


Di sofa ruang tamu kediaman Marina dan Surya, lima orang terlihat berkumpul di sana. Marina dan Surya duduk berdampingan di sofa panjang. Di kursi sofa single sebelahnya, Maharani duduk tak tenang sembari sesekali menggigiti kukunya, sementara di sofa tepat di seberangnya, pasangan pria dan wanita juga duduk di sana. Si wanita tak henti mengelusi lengan si pria yang duduk berdampingan dengannya. Sepertinya sedang berusaha menenangkan. Tidak lain dan tidak bukan adalah Juna dan Anggi.


Sudah satu jam lebih mereka berkumpul. Marina mendengarkan dua versi cerita perihal kejadian jatuhnya Anggi di restoran. Baik itu dari sisi Anggi yang diceritakan oleh Juna berdasarkan keterangan istrinya ditunjang bukti konkret yang sudah didapat berupa rekaman CCTV, juga tak ketinggalan mendengarkan cerita dari Versi Maharani.


Bincang-bincang berlangsung lumayan alot. Pasalnya, Maharani masih saja berpegang teguh pada egonya, enggan mengucap maaf meski Marina dan Surya terus menjelaskan pelan-pelan bahwa perbuatan Maharani sepenuhnya salah terlepas apa pun alasannya. Kalau pun benar tindakan impulsif, tetap saja itu berbahaya, karena perbuatannya terkahir kali berujung mencelakai Anggi dan bayinya begitu juga adik kandungnya sendiri.


“Juna hanya ingin kamu meminta maaf, Rani. Hanya permintaan kecil yang diinginkan adikmu. Dalam hal ini Mami tidak akan menampik maupun membela, kamu memang salah. Rani, memohon maaf tidak membuatmu menjadi rendah maupun hina, justru dengan memberanikan diri meminta maaf atas segala khilaf, akan membuat hati kita menjadi lebih tenang, juga setidaknya bisa sedikit saja melapangkan hati orang yang sudah tersakiti akibat hal yang kita perbuat.” Marina menggenggam tangan putri sulungnya, tak bosan memberi pengertian berkali-kali.

__ADS_1


“Mbak, aku cuma ingin Mbak minta maaf pada Anggi, bukan aku. Juga cobalah introspeksi diri, jangan terus menghamba pada emosi. Apalagi menuduh dan mencemburui Anggi yang tidak-tidak. Cemburu memang tanda cinta, tapi akan lebih bijak kalau rasa yang dianggap sebagai bumbu cinta serta pernikahan itu ditempatkan di tempat yang tepat dan seharusnya, bukan hanya berdasarkan prasangka sepihak tanpa adanya bukti-bukti valid,” ucap Juna yang menekankan setiap kata-katanya.


Juna mulai habis kesabaran, terkikis sedikit demi sedikit tetapi pasti imbas dari Maharani yang malah berkeras hati. Tak mau mengaku salah terlebih lagi meminta maaf.


“Sabar, Mas. Kita di sini untuk menyelesaikan permasalahan dengan Mbak rani, bukan untuk berkelahi.”


Anggi berbisik pelan menenangkan saat melihat rahang Juna mulai mengetat. Ia tak bergerak maupun bergeser satu senti pun dari dekat Juna, terus mengelusi lengan suaminya dengan gerakan lembut teratur, khawatir amarah pria di sampingnya itu meledak dan meletus lagi.


Sejujurnya di hati kecil Maharani rasa bersalah amat mengganggu. Setelah menyaksikan Anggi jatuh dan dilarikan ke rumah sakit juga selepas insiden melempar gelas, kegundahannya kian menjadi. Dia terkejut juga cemas akan kondisi ipar juga adiknya yang berakhir terluka karenanya, hanya saja semua itu tertutup oleh ketakutan. Rasa takut tersingkir andai keluarganya mengetahui hal yang disembunyikannya rapat selama ini.

__ADS_1


“Rani, kami bukan menghakimi. Kami ini keluargamu, Nak. Juna dan Anggi adalah adikmu dan Mami juga Papi adalah orang tuamu. Papi sudah sangat jelas juga paham akan keteranganmu yang menyatakan tidak sengaja mendorong Anggi akibat tersulut emosi. Tapi tetap saja, minta maaf itu harus, Nak. Dilihat dari sisi mana pun, tindakanmu tetap tak dibenarkan. Beruntung hanya adikmu juga adik iparmu yang mengalami tindakan impulsifmu. Kalau terhadap orang lain, kata maaf saja tidak akan cukup, kamu bisa diseret ke jalur hukum karena telah membahayakan orang lain.” Surya kini ikut bersuara, mulai jengkel dan habis kesabaran melihat si sulung tak juga melunak.


“Bukankah Papi sendiri yang bilang kita ini keluarga, seharusnya hal seperti ini di sudahi saja, kenapa terus dibahas!”


Di tengah situasi yang mulai kembali memanas, suara hentakkan kaki berlarian mengalihkan perhatian mereka. Barata yang mendadak muncul di ruang tamu, masuk tanpa mengucap salam maupun permisi, melangkah semakin dekat.


“Mas, bukannya mau ke kantor? Kok balik lagi sih?” tanya Maharani tak mengerti.


Arena adu mulut pun terhenti. Barata bersimpuh di hadapan istrinya membuat semua orang keheranan. Meraih kedua tangan Maharani dengan bola mata mengkilap basah.

__ADS_1


"Rani, kenapa kamu memendamnya sendiri selama ini? Kenapa tidak berbagi denganku, dengan suamimu ini? " tanya Barata lirih dengan sebuah amplop di tangan. Maharani membulatkan mata, saat mengenali kertas apa yang dipegang Barata.


Bersambung.


__ADS_2