
ISTRI ARJUNA Bab 77 a
Setelah menerima pesan singkat, Juna memutuskan pulang lebih awal dari lapangan golf. Firasat tak enak mendadak saja membanjiri selepas membaca kabar yang dikirimkan Anggi. Khawatir istrinya tak mampu menanggung beban semacam itu, kendati Juna tahu Anggi adalah sosok yang kuat juga tangguh.
Juna bersama Anggi berbincang cukup lama dengan pihak lapas juga polisi. Membicarakan perihal pemindahan Ayu ke tempat perawatan mental yang seharusnya. Meski harapannya tipis untuk bisa sembuh kembali dikarenakan tingkat depresi ayu cukup parah.
Sebagai saudara juga adik, Anggi tak mau hanya berpangku tangan. Terserah dengan omongan orang-orang yang terkadang mencibir. Sejak Ayu ditahan, banyak tetangga mendiang ibunya mengatai Anggi bodoh juga tolol karena masih kerap peduli pada kakaknya yang bertabiat buruk sewaktu Anggi mengirimkan berbagai keperluan ibu hamil untuk Ayu ke lapas secara rutin.
Bagi Anggi, seburuk apa pun Ayu tetaplah kakaknya, saudaranya, selalu ada untaian rasa sayang dari kalbunya pada kakaknya yang dulu paling melindunginya. Pernah saling menyayangi, saling peduli, hingga akhirnya saat dewasa sang kakak banyak berubah tergerus pergaulan.
Tangisan Anggi kembali pecah di sepanjang perjalanan pulang. Tergugu dalam derai air mata yang terus membanjiri, terisak-isak di dada Juna. Ingatan Anggi memutar kembali pada masa-masa ia dan Ayu masih di sekolah dasar setelah melihat kondisi sang kakak.
Masa-masa indah dan manis tumbuh bersama yang ketika dikenang kini terasa menyayat hati. Ayu selalu melindunginya dari anak-anak jahil. Menjadi pembela pemberani yang selalu memasang badan untuknya. Menggamit tangan mungilnya, memegangi tangannya kala pulang sekolah.
“Aku hanya ingin Mbak Ayu menyadari kesalahannya demi masa depannya bersama anaknya nanti, bukan jadi seperti ini, Mas. Apa yang harus kulakukan?” isaknya.
__ADS_1
“Aku tahu, kamu ingin dia menjadi pribadi yang lebih baik karena memang begitulah rasa sayang yang seharusnya pada saudara. Mengarahkan pada jalan yang benar, bukan membenarkan yang salah. Kamu pasti lah selalu menyayanginya, bagaimana pun juga Mbak Ayu saudaramu, kakak kandungmu, dan aku paham seperti apa perasaanmu untuknya. Seperti rasa marahku pada Mbak Rani. Memanglah belum memudar, tapi bukan berarti tak bisa dilunturkan, hanya saja butuh waktu, karena aku juga menyayangi kakakku seperti apa pun dia.”
Begitu mereka memasuki rumah, Barata dan Maharani sudah ada di kediaman mereka. Maharani tampak membantu Bik Tiyas menghidangkan makanan ke meja makan bersama Barata juga.
Kegiatan di ruang makan terhenti ketika Juna dan Anggi masuk. Anggi yang dirangkul Juna terlihat kusut dengan wajah sembap membuat semua orang terkaget-kaget.
“Juna, istrimu kenapa? Apa Anggi mengalami kontraksi dini?” cecar Maharani terkejut. Menaruh piring hidang yang dipegangnya dan bergegas menghampiri.
Maharani dan Barata datang ke rumah Juna untuk memenuhi permintaan Anggi yang mengundang makan bersama sebelum pulang ke Bali.
Juna yang menjawab lantaran Anggi enggan membuka mulut. “Kita bicarakan nanti, Mbak. Sebaiknya sekarang kita makan dulu. Anggi juga sudah waktunya minum vitamin.”
“Tapi kamu harus makan, Anggi. Tubuhmu dan bayimu butuh nutrisi. Atau mau Mbak buatkan sesuatu?” tawar Maharani cepat.
Perhatian manis Maharani malah membuat mata Anggi yang baru saja kering kembali menggenang, cairan bening lagi-lagi memenuhi telaga jernihnya. Perlakuan Maharani, mengingatkannya akan perhatian Ayu dulu kepadanya.
__ADS_1
*****
Maharani saling berpandangan dengan Barata setelah mendengar penuturan panjang lebar Juna sementara Anggi tengah tertidur siang.
Mereka bersimpati serta turut prihatin akan kondisi Ayu. Dipenjara dalam keadaan hamil dan kini hilang kewarasan, sungguh miris.
Barata amat paham, sorot mata istrinya memancarkan maksud yang bisa langsung ditebaknya kendati bibir Maharani belum mengutarakan.
"Gimana, Mas?" ucapnya, bertanya penuh harap.
"Aku sama sekali tak keberatan. Jika kamu ingin, aku akan mendukung," jawab Barata yang sukses membuat Maharani menitikkan air mata bahagia.
"Makasih, Mas. Makasih." Maharani menggenggam erat tangan Barata.
"Tapi, kita harus meminta persetujuan pada Anggi juga nenekmu. Mengingat nenek selalu menekankan hanya boleh memiliki penerus yang berdarah Syailendra."
__ADS_1
"Aku akan bantu bicara pada Anggi, sementara Mas Bara dan Mbak Rani silakan membujuk nenek. Aku juga merasa tak tega kalau harus menitipkan bayi Mbak Ayu ke panti asuhan nantinya."
Bersambung.