
Istri Arjuna Bab 39b
Juna menarik napas panjang, otaknya berupaya menguasai diri walaupun jujur saja kepalanya berdenyut pening sekarang. Geloranya kerontang ingin tenggelam dan melepas dahaga di tubuh hangat nan lembut di depannya ini.
Mengerjap cepat, Juna kembali berusaha fokus akan tujuannya yang hendak meminta penjelasan.
“Ehm, i-itu. Tentang baju-bajuku, kenapa yang mereknya VN Fashion tidak ada satu pun keberadaannya di dalam lemari? Juga kenapa parfum yang kubelikan untukmu berakhir di tempat sampah?” tanya Juna. Nada bicara yang awalnya ingin meninggi, malah berada di level biasa saja akibat dari pikiran yang semrawut direcoki gairah.
“Oh, tentang itu. Karena hanya baju-baju dari merek itulah yang membuatku merasa tak nyaman, juga parfum itu, aromanya menyulut lambungku ingin muntah. Jadi aku membuangnya.” Anggi menjawab sembari mengusap perutnya dan memasang ekspresi mual.
Juna mengernyit, masih belum paham akan maksud tersirat dari tindakan istrinya itu. Terlalu lama memendam kisah tidak indah dari cinta di masa lalu, membuat radar rasa untuk menelaah getarannya sendiri sedikit tumpul.
“Lalu, apakah baju-baju dari merek lain tidak masalah?” tanya Juna yang sebetulnya sedang linglung sekarang. Menahan dorongan yang berseru ingin menerkam Anggi bulat-bulat detik ini juga.
“Tidak. Untuk yang masih ada di lemari semuanya aman. Tidak apa-apa kan, kalau aku menyingkirkannya demi kenyamanan anakmu? Lagi pula Mas sendiri yang memberikan izin padaku bukan?” Anggi berujar rendah, memasang raut polos tanpa dosa.
__ADS_1
“Kamu tahu, baju-baju dari VN Fashion hampir semuanya merupakan favoritku dan kamu tidak menyisakan satu potong pun?”tanya Juna lagi.
“Jadi Mas marah?” Anggi mulai mencebikkan bibirnya. “Padahal semua itu kulakukan demi anakmu. Sepertinya tekad Mas yang bersikeras ingin mempertahankan anak ini tidak tulus sama sekali," ucapnya serak.
Anggi berpura-pura menyapu ujung mata dan membuang pandangan ke arah lain. Ia sebetulnya gentar saat suaminya itu menyadari semua koleksi pakaian dari VN Fashion sudah tidak ada lagi di lemari.
Ya, memang benar, Anggi menyingkirkan semuanya demi membangun kekuatan untuk berpegangan demi si buah hati. Menyingkirkan semua yang berbau Viona dari sana sedikit demi sedikit juga demi kewarasan pikiran dan jiwanya dalam mengarungi kehidupan panjang bersama Juna ke depannya. Meskipun mungkin Juna takkan pernah mampu menyingkirkan Viona dari dunianya, tetapi Anggi tak ingin hanya berpangku tangan. Tetap berusaha agar segala sesuatu yang berhubungan dengan Viona tidak terus menghantuinya.
Juna duduk di tepian ranjang dan mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Si janin mungil ini benar-benar memporak-porandakan dunianya, membuatnya sulit berkutik.
Juna mengangkat pandangan, terlihat Anggi yang menunduk dalam sembari meremat jemari. Terselip rasa tak tega menggayuti dada, Juna mengulurkan tangan dan menarik lengan Anggi perlahan. Membawanya duduk di pangkuan dan tidak membiarkan Anggi menolak.
“Jadi, semuanya kamu singkirkan karena anakku merasa tak nyaman?” tanya Juna pelan.
Anggi mengangguk-angguk. “Apa perlu aku menyuruh Bik Tiyas dan Lina untuk meminta kembali pakaian Mas yang telah diberikan kepada orang-orang?” imbuh Anggi memancing. Hanya sebagai umpan saja, karena pada kenyataannya ia tak sudi.
__ADS_1
Mata mereka bertemu pandang dalam lingkupan keremangan lampu kamar. Ada degup tak biasa yang ikut berdebar dalam dada kala netra saling bergulir menyelami. Juna menjumput untaian rambut Anggi dan menyelipkannya ke belakang telinga. Menarik pinggang istrinya kian dekat hingga kini mereka merapat satu sama lain.
Anggi terkesiap dan refleks mendorong dada bidang Juna, mengantisipasi lantaran takut pria ini murka yang pasti berakhir dengan hukuman. Walaupun dokter mewanti-wanti menggunakan larangan halus, tetap saja Anggi khawatir. Bisa saja suaminya itu gelap mata dihanguskan amarah yang berakhir membahayakan nasib anaknya, sebab Juna yang murka tak pernah lembut saat menggaulinya.
“Sudahlah, biarkan saja. Kalau anakku yang menghendaki aku bisa apa,” jawab Juna sambil membuang napas berat terbungkus pemakluman meski belum rela sepenuhnya.
“Se-serius? Mas tidak marah?” Mata cantik Anggi membola. Sulit dipercaya Juna melunak begitu saja jika segala sesuatunya menyangkut si jabang bayi.
“Hmm.” Juna mengangguk mengiyakan.
Terhempas lega dalam dada, tiba-tiba saja Anggi merengkuh sisi wajah Juna dan mendaratkan kecupan manis di bibir suaminya itu. “Makasih, Mas,”ucapnya senang.
Juna tertegun sejenak. Kecupan Anggi bagaikan api yang menyambar bensin. Pertahanan Juna runtuh sudah. Tak tahan lagi, diraihnya tengkuk Anggi lalu menyatukan bibir mereka, mengulum bibir ranum menggoda itu dalam pagutan panas hingga terengah.
Bersambung.
__ADS_1