Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 29a


__ADS_3

Bab 29a


Juna melirik arloji mewah yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Wulan mengirimkan pesan teks, mengabari kemungkinan tiba sedikit terlambat dikarenakan lalu lintas pagi menuju rumahnya cukup padat.


Mencoba bersabar, Juna duduk di tepian tempat tidur walaupun sejujurnya dia resah. Wajah Anggi amat pucat seperti tidak dialiri darah. Terlihat sesekali meringis kendati kentara Anggi menahan untuk tidak mengeluarakan rintihan sembari memegangi perutnya.


Bantal sengaja ditata lebih tinggi supaya Anggi berbaring setengah bersandar dengan nyaman. Juna mengusap lembut sisi wajah wanita yang terlihat pucat itu. Namun, tak disangka Anggi menepisnya kali ini. Juna mengulanginya dengan merapikan anak-anak rambut di dahi Anggi dan lagi-lagi responsnya sama.


“Tidak usah perhatian padaku, Mas,” tolaknya pelan dengan nada rendah. Tak memiliki energi mumpuni untuk berteriak.


Juna menatap lurus dengan ekspresi tak terbaca. Anggi bahkan membuang muka ke arah lain, menolak balas melihatnya. Tak lama berselang, Bik Tiyas datang membawa nampan sarapan. Menaruhnya ke atas nakas dan kembali undur diri.


“Wulan dalam perjalanan. Selagi menunggu makanlah dulu. Kamu terlihat semakin kurus,” titah Juna sambil memindahkan nampan dari nakas ke atas pangkuan.

__ADS_1


Sesendok bubur kentang yang dicampur daging serta sayuran, Juna sodorkan ke depan mulut Anggi. “Ayo makan.”


Anggi menoleh. Mata sembabnya mendelik tajam. “Aku tidak lapar,” jawabnya datar dan kembali memalingkan muka.


Bukan tanpa alasan Anggi menyahuti begitu. Lambungnya benar-benar sakit laksana diremas kuat tangan-tangan tak kasat mata, pangkal tenggorokannya juga perih disertai mual hebat. Ditambah beban derita yang diciptakan Juna kini sedang menggeliat liar dalam jiwanya. Menyerukan hak-hak yang selama ini terampas. Menolak untuk kembali masuk ke dalam sangkar di sudut kalbu yang gelap tersembunyi.


Ditaruhnya kembali sendok tersebut ke dalam mangkuk bubur. Mencoba melatih diri untuk lebih bersabar, Juna mengetatkan rahang dan menarik napas dalam-dalam. Menahan egonya untuk tidak mengambil alih dan menyembur keluar.


“Aku tidak mau,” tolaknya dingin.


Juna memijat pangkal hidung mancungnya. Sejak tadi tak hentinya Anggi membantah. Tidak seperti biasanya. Sepertinya bawaan bayi dalam rahimnya mendorong Anggi untuk berdemo dan membangkang.


Tidak terbiasa mendapat penolakan, sisi amarah dalam diri Juna sedang bergulat untuk tidak terpancing keluar meski sulit. Setiap kali mengingat bahwa ada makhluk mungil sebagian dari dirinya yang sedang bertumbuh di rahim Anggi, seberkas rasa hangat menyelinap di hatinya. Sedikit melembutkan ego kerasnya walaupun belum sepenuhnya.

__ADS_1


“Minumlah sedikit saja. Bukankah tadi kamu muntah, pasti sekarang mulutmu terasa tidak nyaman ‘kan?” Baru kali ini Juna berupaya membujuk begitu gigih. Mendekatkan gelas ke depan mulut Anggi sekali lagi.


Tak disangka Anggi menepisnya hingga gelas tersebut terlempar. Menciptakan bunyi nyaring sebab gelas beling itu pecah berkeping-keping ketika mendarat di lantai.


“Sudah kubilang, tidak usah peduli dan perhatian padaku! Jika semua itu Mas lakukan hanya untuk menggoyahkanku lalu setelahnya mencampakkanku tanpa belas kasihan!” teriaknya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Sorot matanya penuh luka saat menatap Juna. Anggi menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan isakan yang kembali ingin meraung tak terkendali. Ganjalan nyeri di hatinya masih menyisakan sesak hingga terasa sebah.


Juna mengepalkan tangan. Menahan diri untuk tidak sama-sama saling berteriak. Dirinya juga merasa, Anggi yang patuh menjadi keras kepala diakibatkan oleh sikapnya yang selama ini hanya sibuk mengurusi perasaannya sendiri, hingga terlupa ada perasaan lain yang harus dijaga. Ini merupakan rekor terbaiknya dalam mengendalikan dorongan tempramentalnya yang kerap mudah meledak.


Wulan masuk ke kamar diantar Bik Tiyas. Dua wanita itu tercengang begitu memasuki ruang peraduan saat mendapati pecahan beling berserak di lantai.


Meski terkejut, tanpa banyak kata Wulan memilih bergegas melakukan tugasnya memeriksa Anggi, sedangkan Bik Tiyas segera menyingkir setelah membersihkan pecahan gelas dengan saksama.


TBC

__ADS_1


__ADS_2