Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 35b


__ADS_3

Istri Arjuna 35b


Sepulang konsultasi eksklusif dari rumah sakit, lagi-lagi Juna membawa Anggi ke kantor. Dia mulai kerepotan akibat tergerus keresahannya sendiri. Perasaan tak tenang juga tak percaya terhadap wanita yang tengah mengandung anaknya itu yang kerap menghinggapi. Ketakutan jikalau Anggi berniat kembali membuang darah dagingnya membuat hidupnya pusing sendiri.


Juna masih terseok-seok mencari titik terang penyelaman rasanya. Terjebak kabut kegamangan di tengah perjalanan. Masih terombang-ambing gelombang dalam usahanya mencapai dasar kalbunya sendiri demi menemukan jawaban. Padahal kunci ketenangannya hanya satu dan sangatlah mudah, yakni berdamai dengan masa lalu disusul membangun komunikasi dua arah yang terbuka, dalam upaya saling membuka hati serta saling memahami tentang isi kepala masing-masing.


“Hey, hey. Si bos bawa istrinya lagi ke kantor. Ya ampun, Pak Arjuna kayaknya bucin banget sama Bu Anggi, enggak mau jauh-jauhan, makin mesra saja.”


Dua orang resepsionis di lobi saling berbisik dengan mata tertuju ke arah Juna yang menggandeng Anggi posesif menuju lift eksekutif.


“Kalau enggak bucin apa namanya coba? Denger-denger nih, si bos akhir-akhir ini enggak dateng ke kantor setiap hari juga karena alasan yang sama seperti beberapa waktu lalu. Bela-belain bekerja dari rumah karena Bu Anggi kurang sehat dan sekalinya ke kantor istrinya ikut diboyong dong. Duh, bikin iri.”

__ADS_1


“Beruntungnya jadi Bu Anggi. Apa aku harus ganti nama kepanjanganku jadi kayak nama Bu Anggi biar nasib jonesku ini semujur dia? Ganti jadi Mila Jelita gitu.”


Si resepsionis bernama Mila itu bergumam-gumam frustrasi sambil mengamati name tagnya sendiri, sedangkan yang satunya lagi tak ingin memalingkan pandangan sampai bos dan istrinya yang tampak serasi itu menghilang di balik pintu lift yang membawa keduanya naik ke lantai enam belas.


“Mas, kenapa aku harus ikut lagi ke kantor sih?” Anggi berdecak sebal. Juna seolah tak memberinya ruang bernapas bebas. Terus saja menempelinya seperti lintah.


“Pokoknya ikut saja, jangan membantah. Kalau kamu capek, biar aku gendong.” Juna menjawab otoriter seperti biasa. Pesan Dokter Raisa sepertinya baru separuh saja dicerna otaknya. Belum menyadari apa yang dilakukannya sekarang malah membuat Anggi tertekan karena jengah.


“Tapi nanti aku bosan diam di kantor. Lagi pula kalau Mas mau kerja yang kerja saja seperti biasa, kenapa aku harus ikut segala?”


“Ish, apa-apan sih!” cerocos Anggi sambil menepiskan tangan Juna dari dagunya. Ia melotot tajam pada suaminya yang kini malah senyam-senyum sendiri.

__ADS_1


“Mata sendumu tidak cocok dipakai untuk memelototiku, Mama Baby.”


Anggi tercengang, kenapa suaminya jadi aneh begini pikirnya. Sehebat itukah kekuatan si janin di dalam rahimnya sampai-sampai mampu membuat Juna kehilangan taringnya? Anggi masih terheran-heran bersamaan dengan bunyi denting lift pertanda mereka sudah sampai di lantai yang dituju.


Pandu sudah menunggu begitu pintu benda kotak berlapis besi itu terbuka. Menyambut sopan kedatangan sang presdir beserta istrinya.


“Maaf Pak, saya tidak bisa menangani sendiri sehingga meminta Anda untuk datang. Ada beberapa hal darurat yang harus didiskusikan langsung dengan Anda agar kami tidak keliru mengambil langkah selanjutnya, terutama permasalahan mengenai pengolahan limbah pabrik baru kita. Para kepala divisi sudah menunggu di ruang meeting, intuisi tajam Anda dalam mengambil keputusan mutlak diperlukan.” Pandu menjelaskan sambil mengekori Juna yang berjalan di depannya.


“Aku mengerti. Pandu, minta asistenmu duduk di kursimu selama kita meeting. Untuk berjaga-jaga jika istriku butuh sesuatu.” Juna menunjuk meja si sekretaris setianya, terletak berhadapan dengan ruang kebesarannya yang diangguki cepat oleh Pandu.


“Istirahatlah, aku harus segera ke ruang meeting supaya pekerjaanku cepat selesai. Jadi, kita bisa segera pulang,” Juna mengusap puncak kepala Anggi begitu masuk ke ruangannya, elusan yang sama seperti sesaat sebelum berangkat ke rumah sakit tadi pagi. Kemudian bergegas pergi meninggalkan Anggi sendirian di ruangan megah nan mewah tersebut.

__ADS_1


Anggi tertegun dengan mata memicing hingga punggung suaminya itu menghilang dari pandangan, bergumam pelan sambil membelai perutnya sendiri. "Kenapa kamu membuat Papamu jadi seperti orang sawan, Nak?"


TBC


__ADS_2