
BAB 26a
Pintu jati tinggi berpelitur mengkilap yang merupakan pintu depan kediaman mewah Juna, berdentam keras membentur dinding akibat ulah si tuan rumah yang mendorong kasar setengah menendangnya. Anggi meringis dan meronta karena Juna menarik paksa pergelangan tangannya. Menyeretnya masuk dengan cekalan kuat.
“Lepasin, Mas!”
Anggi memekik sambil terus berusaha menyentak cekalan Juna sekuat tenaga dan kali ini berhasil. Juna langsung menoleh dan menghentikan langkah. Melempar tatapan tajam mengalahkan ketajaman sebilah pedang para jenderal perang. Bahunya naik turun disertai gigi gemeletuk.
“Kamu sudah hilang akal! Apa yang hendak kamu lakukan dengan mengunjungi klinik aborsi!” Juna membentak. Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan dengan netra membeliak murka.
“Bukankah sudah jelas untuk apa aku ke sana? Lagi pula bukan urusan Mas!” sambar Anggi tanpa takut dengan nada bicara tak kalah tinggi.
“Jelaskan padaku. Ini apa, Anggita!” Dengan gerakan cepat, Juna mengambil selembar foto USG dari saku jasnya dan menunjukkannya ke depan wajah Anggi.
Sejujurnya kaki Anggi gemetaran luar biasa sekarang. Namun, jiwanya yang tercekik, berteriak sakit berhasrat membangkang saat ini. “Bukankah tanpa kujawab pun, Mas pasti sudah tahu itu apa?” cibir Anggi menipiskan bibir. “Itu foto hasil USG janin di dalam rahimku!”
__ADS_1
Juna nyaris meremas foto tersebut, tetapi nalurinya tak sampai hati melakukannya. “Kenapa tidak memberitahuku dan malah pergi ke klinik laknat semacam itu!”
“Kenapa aku harus memberitahu? Bukankah aku tidak penting? Duniamu sendiri yang ada nama Viona di dalamnya lebih penting bagimu bukan? Kenapa sekarang mendadak peduli! Jangan lagi menghadiahkan harapan semu yang membumbung tinggi padaku jika pada akhirnya Mas sendiri yang menghempaskanku ke tanah seperti terkahir kali! Jadi, apa pun yang kulakukan di sana sama sekali bukan urusanmu!” pekiknya disertai napas tersengal.
Dengan berani Anggi mengangkat dagu. Membalas tatapan Juna tak kalah tajam. Beban derita yang terakumulasi dalam batinnya selama ini berteriak memohon, sudah tak sanggup lagi dijadikan tempat bersembunyi, sudah terlampau penuh sesak.
Juna menggeram murka. “Bukan urusanku kamu bilang, huh? Coba katakan sekali lagi!”
Tanpa aba-aba, Juna mendorong Anggi mundur hingga punggung indah Anggi membentur dinding. Mencekal rahang cantik istrinya itu hingga mendongak. Wajah mereka hanya berjarak satu jengkal saja, keduanya saling menghunuskan tatapan penuh kobaran api peperangan.
“Dalam hal ini aku tidak memerlukan izinmu. Aku mungkin memang aset milikmu. Tapi janin dalam rahimku tidak termasuk di dalamnya. Jadi terserah mau aku apakan!” teriak Anggi dengan bibir gemetar terbungkus amarah. Walaupun sebetulnya ia sudah tidak berniat lagi menggugurkan kandungannya, akan tetapi berbagai macam luapan emosi yang tengah membelenggu membuatnya kehilangan kontrol.
“Kamu nekat hendak membunuh anakku, huh?” desis Juna kembali. Nada suaranya menakutkan, cekalannya di rahang Anggi menguat hingga istrinya itu meringis kesakitan. "Berani-beraninya!"
“Dari mana Mas yakin kalau itu anakmu?” Anggi memprovokasi. Merasa sudah kepalang basah mengibarkan pembangkangan, kenapa tidak mandi saja sekalian.
__ADS_1
“Jaga mulutmu Anggita! Bualanmu sungguh menyedihkan!” ejek Juna seraya menyeringai dengan ujung bibir berkedut pertanda emosinya semakin memompa naik.
Kalimat provokasi Anggi tidak akan berhasil menghasut Juna. Setiap waktu Anggi selalu dalam pantauannya dan sangat yakin seratus persen hanya dirinya yang menggauli. Tanpa perlu dijelaskan pun, Juna sudah sangat yakin bahwa Anggi sedang mengandung anaknya.
"Jadi, kamu benar-benar berniat menghilangkannya tanpa memberitahuku? Aku berhak tahu, Anggita, karena aku adalah ayahnya!”
Dengan tatapan penuh luka Anggi menjawab tegas. “Ya! Aku bermaksud untuk tidak melahirkannya! Daripada nantinya dia harus hidup dalam bayang-bayang jeruji balas budi. Seperti yang kamu lakukan padaku, Mas. Lagi pula kenapa Mas marah? Bahkan kemungkinan anak ini hadir saat kamu meneriakkan nama wanita lain ketika membuahinya!" jerit Anggi sarat akan kepedihan. Dadanya kembang kempis sembari mulai terisak.
"Betapa malang nasibnya jika harus mengetahui fakta itu. Juga betapa sedihnya dia karena ibunya tidak pernah dianggap sebagai seorang istri yang semestinya oleh ayahnya sendiri dan hanya dianggap sebagai alat penebus balas budi! Lebih baik aku menggugurkannya daripada dia lahir di antara orang tua yang tidak pernah tumbuh cinta di dalamnya! Silakan Mas berbuat sesuka hati padaku, tapi aku tidak rela jika nantinya anakku harus tersiksa dengan hal serupa!" teriak Anggi telak penuh emosi. Air bening mulai berjatuhan dari sudut pelupuk mata disertai isakan. Sarat kepedihan serta kepiluan.
Cekalan Juna di rahang Anggi mengendur dan terlepas. Anggi merosot ke lantai sambil meraung menangis marah meluapkan segala beban juga sakit yang mengimpit jiwa.
Juna mundur beberapa langkah dan ikut merosot ke lantai. Kalimat panjang lebar yang dilontarkan Anggi menohok batinnya. Juna menyugar rambutnya kasar, lalu tertunduk seraya menangkup wajah menggunakan kedua tangannya.
TBC
__ADS_1