
Istri Arjuna Bab 60b
Anggi sedang menata tempat tidur sementara Juna masih berbincang dengan penjaga vila di depan sana. Tak berselang lama, derit pintu yang didorong dilebarkan celahnya terdengar tertangkap telinga. Anggi menoleh. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Ngantuk?” tanya Juna sambil menunjuk bantal dan guling yang telah ditata, disiapkan supaya nyaman dipakai berbaring.
“Sedikit,” sahut Anggi. Ia menarik lengan Juna supaya duduk di pinggir ranjang setelah pintu ditutup sempurna.
“Kenapa enggak tidur saja? Sebaiknya kamu juga mempergunakan waktu senggang sebaik mungkin untuk beristirahat. Kamu mempertaruhkan kesehatanmu sendiri juga bayi kita demi menyusulku.” Kecemasan nyata terdengar dari nada suara Juna walaupun dirinya sendiri juga belum sepenuhnya pulih.
Anggi berdiri di depan Juna. Merapat di antara kedua kaki Juna yang terbuka. “Perban di kepala Mas sudah waktunya diganti. Jadinya aku menunggu. Mas juga belum boleh memforsir pikiran serta fisik. Harus benar-benar rehat untuk sementara selama masa pemulihan, supaya tidak ada efek samping berkepanjangan nantinya,” jawabnya sambil memeriksa perban dan mulai membukanya perlahan.
Juna balas melingkarkan kedua lengannya ke belakang pinggang Anggi. Menengadah, bersama raut senang tercetak jelas. Bahagia dihujani perhatian manis.
Air muka Juna mendadak muram saat terlintas sesuatu di benaknya begitu saja. “Kita belum pernah satu kali pun berbulan madu. Iya kan?” desah Juna berat penuh rasa bersalah.
Kekehan kecil berderai dari mulut si wanita cantik yang sedang fokus membersihkan luka dengan gerakan lembut. Disusul membubuhkan obat sebelum kembali ditutup dengan perban yang baru.
“Mmm, anggap saja sekarang ini kita sedang berbulan madu,” cicitnya menghibur.
“Ini berbeda. Bukankah bulan madu seharusnya bergelora? Tapi saat ini aku sedang tak memungkinkan menyulut atmosfer membara,” sahut Juna yang disusul pertanyaan lainnya.
__ADS_1
“Hih dasar! Kenapa perumpamaan bulan madu terdengar serupa dengan tungku?” protes Anggi dengan bibir mengerucut.
“Maaf,” ucap Juna serak.
“Kenapa minta maaf? Itu bukan suatu kesalahan. Ada hal yang lebih bermakna dari sekadar pergi berbulan madu. Bersama-sama dengan Mas mengarungi bahtera rumah tangga dan saling bergandengan tangan menunggu buah hati kita lahir ke dunia, bagiku setiap harinya sudah seperti bulan madu.” jawab Anggi tulus.
Juna merengkuh Anggi setelah istrinya itu selesai mengganti perbannya. Mendudukkan wanita hamil tercintanya ke atas pangkuan.
Sejak hubungan mereka membaik layaknya suami istri sebagaimana mestinya. Kegiatan ini seolah rutinitas yang harus ada setiap harinya. Juna menyukainya, saat Anggi duduk di pangkuannya. Ada getar yang membuat mereka kian dekat dari hati ke hati, semakin saling memahami.
“Apa kamu bahagia menjadi istriku, sekarang?” tanya Juna. menatap lamat-lamat bola mata cantik yang balas menyelaminya juga.
Juna menunduk dan menghela napas. Sejenak hanya hening membentang mengisi ruangan. Dia kembali menengadah.
“Aku ingin bertanya, kenapa kamu tetap bertahan di sisiku di saat aku bahkan memperlakukanmu dengan buruk. Kebanyakan orang mungkin akan lari dan pergi, jika berada di situasi pernikahan bak neraka, seperti yang di awal kuciptakan untukmu,” tanya Juna lirih, sorot matnya menyendu.
“Karena aku butuh uang,” jawab Anggi disusul kekehan. “Tak munafik, saat menerima menikah denganmu, yang memenuhi kepalaku adalah biaya pengobatan ibu. Mengingat uangmu pasti melimpah ruah.”
Juna ikut terkekeh. “Benar hanya karena itu? Padahal, kalau benar kamu hanya butuh uang, kamu bisa membawa kabur aset-aset pentingku yang kamu pun pasti tahu di mana surat-surat berharga disimpan, atau mungkin membobol brangkasku,” desak Juna ingin tahu lebih jauh lagi.
“Benar juga. Sepertinya ide bagus.” Anggi mencubit hidung mancung suaminya gemas. “Tapi, enggak sesederhana itu. Saat janji suci diucapkan, takdir kita juga berganti lembaran baru. Bukan hanya sekadar ucapan di mulut saja. Kala Mas mempersuntingku, statusku telah berganti menjadi istrimu dengan segudang tanggung jawab dan kewajiban mengiringi di dalamnya. Bukan sekadar ikrar di hadapan orang-orang tapi juga di hadapan Sang Pencipta, pernikahan bukan permainan.”
__ADS_1
“Tapi justru aku lah yang menganggap janji pernikahan hanya sekadar ucapan tak berarti. Memperlakukanmu dengan buruk, benar kan?” Juna meringis miris saat kembali bertanya. Teringat akan perilakunya sendiri.
Anggi menangkup kedua sisi wajah suaminya. Membelai sayang di sana. “Seburuk-buruknya sikap Mas padaku, Mas tidak pernah absen memenuhi kebutuhanku juga keluargaku. Bertanggungjawab penuh sebagai suami, kendati situasi kita rumit di awal-awal pernikahan.”
“Terima kasih, telah bertahan untukku dan tak pergi meninggalkanku.” Juna merangkul Anggi kian erat. Menempelkan pipi di dada istrinya, mendengarkan degup jantung Anggi yang berdetak merdu memukul pelan gendang telinganya yang selalu berhasil mencipta damai dalam hatinya.
“Tidak selamanya sebuah rumah tangga berlangsung harmonis. Melarikan diri juga bukan solusi saat masalah melanda. Karena sejauh apa pun kita berlari, masalahnya takkan selesai, hanya bisa tuntas jika dihadapi. Juga, Seorang istri tidak boleh meninggalkan rumah tangganya tanpa izin dari suaminya. Itu salah satu pesan ibu padaku. Keinginan pergi sempat terlintas, tetapi ibu butuh pengobatan dan hanya Mas lah yang bisa kuandalkan. Lebih dari itu, setelah aku menikah denganmu dan statusku menjadi istri, maka salah satu kewajibanku juga harus menjaga kehormatan rumah tanggaku. Dengan pergi dari rumah, berarti sama saja dengan aku membuka aib diriku sendiri.”
“Aku pasti sudah banyak lalai akan kewajibanku sebagai suami padamu. Yang seharusnya melindungi dan menjaga istrinya sepenuh hati. Bukan melukai.” Suara Juna lirih juga tercekat.
Anggi memiringkan kepala hingga menyentuh ubun-ubun Juna. Membelai belantara lebat rambut hitam suaminya dengan gerakan lembut.
“Mas selalu menunaikan tanggung jawab. Walau mungkin dilakukan tanpa sadar. Dalam berumah tangga bukan hanya tentang menuntut hak, tapi juga harus menunaikan kewajiban. Mengingat Mas selalu memenuhi semua kebutuhan lahirku juga bertanggung jawab terhadap ibuku, itu sudah cukup membuatku bertahan dan mendorongku menunaikan kewajibanku juga. Meski jujur saja perasaan banyak kukorbankan dalam perjalanan kita hingga bisa berada di titik ini. Selalu kuingat sepenggal pepatah, sering-seringlah mengingat kebaikan orang, bukan keburukannya, agar hatimu damai dan mudah memaafkan.”
“Aku sayang kamu, anggita. Sangat,“ desah Juna lirih, mendongak dengan mata mengkilap basah. “Maaf, telah banyak mengukir luka di hatimu.”
Anggi mengecup kelopak mata suaminya. “Aku juga sayang kamu, Mas. lebih dari yang kamu kira. Kamu harus tahu sesuatu, aku setuju menikah denganmu bukan hanya karena hal yang kusebutkan tadi. Tepat di hari kamu meminangku, sebuah asa muncul dalam hatiku yang masihlah rapuh kala itu. Bahwa Mas adalah pria yang tepat untukku, pria yang akan kuhabiskan waktu bersamanya hingga akhir hayatku. Arjuna Syailendra.”
Aroma cinta merebak lembut. Melingkupi mereka rebah di peraduan. Tak perlu gelora membara dalam pernyataan cinta kala hati telah bertaut bukan sekadar raga, saling memeluk dalam debar yang sama pun terasa bermakna, bersama ukiran indah yang menghiasi rupa keduanya.
Bersambung.
__ADS_1