
Istri Arjuna bab 79 b
Raut wajah Juna jelas kentara amat panik, sedangkan Anggi malah seperti orang kebingungan. "Mas, tapi kayaknya aku cuma pingin pup deh. Apa iya harus sampai ke rumah sakit?" ujarnya.
"Mami rasa itu bukan mulas sakit perut, tapi kontraksi." Marina yang duduk di jok paling belakang bersama Surya menimpali. Terlihat cemas meski berusaha tenang. Setiap kelahiran selalu membawa kebahagiaan, tetapi tak dipungkiri kekhawatiran menyerbu menyertai, lantaran nyawa ikut dipertaruhkan dalam setiap perjuangan membawa kehidupan si buah hati lahir ke dunia.
"Sayang, apa mulas sekali?" Juna mengelusi perut Anggi. "Sakit?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran. Juna akan merasa sangat bersalah jika sampai terjadi hal buruk pada dua orang yang sangat berarti baginya, separuh napasnya.
"Ya, pokoknya mulas aja gitu, Mas," sahutnya bingung sendiri.
Setiap kondisi kandungan berbeda-beda, tidak bisa disama ratakan. Untuk kondisi Anggi, sejak kandungannya menginjak bulan-bulan trimester akhir, berhubungan intim memang tidak dilarang. Hanya saja dokter menyarankan supaya suaminya tidak menyembur di dalam, khawatir bayi terlahir kurang bulan, terlebih lagi Anggi pernah memiliki riwayat jatuh juga pendarahan.
Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, sebagai antisipasi Juna mengurangi intensitas menyentuh istrinya, khawatir kebablasan lantaran saat terbuai gelora terkadang nalar tak mampu mengendalikan naluri.
__ADS_1
Mereka selalu melakukannya dengan aman sesuai saran dokter, walaupun pernah beberapa kali lupa diri. Termasuk tadi pagi, Juna benar-benar terlena tak mampu mengendalikan diri, kewarasan mengabur menggelepar dibuai surga dunia sehingga berakhir menyembur di dalam sana.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter Lalita yang telah dihubungi Marina ketika di perjalanan, sudah siap sedia menunggu. Membawa Anggi segera ke ruang VK.
Dokter Lalita keluar dari ruang VK setelah sekitar dua puluh menit di dalam sana memeriksa kondisi Anggi. Sementara menunggu tadi, Juna mondar-mandir tak tenang, sedangkan Marina dan Surya duduk di bangku kayu yang tersedia di luar area Verlos Kameer, tertunduk khidmat memanjatkan do'a.
Dokter Lalita mendekati Juna. "Pak Juna, istri Anda mengalami kontraksi melahirkan, lebih awal dari jadwal perkiraan. Baru pembukaan dua. Tapi tekanan darah Bu Anggita cukup tinggi dari saat kontrol dua hari ke belakang. Semoga seiring pembukaan bertambah, tekanan darah bisa turun ke angka normal."
"Kalau tensinya tidak turun ke angka normal, apakah itu berbahaya?" Juna berkali-kali menelan ludah, mengusap tengkuknya resah.
"Kalau tensinya tak kunjung turun, maka kelahiran lebih baik dilakukan melalui prosedur operasi. Belum lagi berat badan bayi yang dikandung Bu Anggi termasuk besar. Jika dipaksakan vaginal birth khawatir berisiko untuk ibu serta bayi."
Juna cukup tercengang. Mengusap wajahnya berkali-kali juga tengkuknya yang tegang. Begini kah rasanya mendampingi istri yang akan melahirkan darah dagingnya ke dunia?
__ADS_1
Berbagai macam kecamuk rasa berkumpul menjadi satu. Di satu sisi dia senang akan bisa segera memeluk dan mencium si buah hati, tetapi di sisi lain ketakutan menyergap, takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
"Apakah melalui jalan operasi lebih aman?" tanya Juna kemudian.
"Dua-duanya tetap berisiko, hanya saja untuk kasus semacam ini operasi lebih dipilih, diharapkan dapat meminimalisir risiko buruk."
Juna merasakan telapak tangannya mendingin sedingin es mendengar penjelasan dokter.
"Apa pun itu, ambil pilihan terbaik bagi keduanya, Dok," pinta Juna terbungkus kecemasan yang nyata.
"Tentu saja, kita akan memantau secara terus-menerus. Jika dalam beberapa jam ke depan kondisi tetap stagnan, maka tindakan pembedahan akan segera diambil. Jangan lupa berdo'a."
Bersambung.
__ADS_1