
Istri Arjuna bab 75b
"Kamu lagi lihat apa?"
Barata muncul di belakang punggung Maharani. Memeluk dan mendaratkan dagu di ubun-ubun istrinya itu. Selisih tinggi badan mereka yang cukup jauh membuat Maharani tampak mungil dalam lingkungan dekapan Barata yang tinggi tegap.
"Aku sedang menikmati pemandangan ibukota di malam hari dari ketinggian," sahut Maharani yang memang sedang berdiri menghadap kaca besar dari kamar hotel mereka yang berada di lantai enam belas. Sengaja mematikan lampu kamar dan menyibak gorden lebar-lebar, ingin menikmati kelap kelip hiruk-pikuk ibukota di bawah sana.
"Kamu tidak meminum obat terapi lagi tanpa sepengetahuanku bukan? Jangan pernah mengkonsumsinya lagi. Aku mohon," pinta Barata dengan sangat.
Maharani mengelus lembut lengan Barata yang memeluknya seraya terkekeh pelan. "Tadinya mau kuteruskan, walaupun kutahu harapanku semu. Tapi saat menyadari efek sampingnya banyak mengubahku juga hubungan kita, aku memutuskan takkan pernah menelannya lagi."
"Kita tetap bisa bahagia dengan atau tanpa ada anak di antara kita. Yang kuinginkan hanya menua bersama Maharaniku yang manis dan bawel hingga akhir hayat. Masih banyak hal yang bisa membuat pasangan suami istri tetap berbahagia, bukan melulu soal anak."
Maharani menoleh, mendongak dan tersenyum. "Dasar sentimentil," ejeknya tertawa kecil kemudian kembali menjatuhkan pandangan ke luar sana.
"Aku ini melankolis, kamu pasti sudah tahu itu. Akh, sudah lama kita berdua tidak menginap di hotel begini. Ini menenangkan sekaligus menyenangkan. Membuat isi kepalaku yang terasa penuh sesak lebih rileks," desah Barata yang kemudian memejam menghidu wangi rambut istrinya dalam-dalam.
__ADS_1
"Karena keegoisanku yang tidak mau menerima kenyataan, imbasnya banyak orang yang tersakiti olehku, termasuk Mas, suamiku sendiri," cicit Maharani lirih. Membuang napas berat, wajahnya muram. "Maaf."
"Semua manusia pernah berbuat keliru, tidak ada yang sempurna, Rani, termasuk aku. Kita jadikan kesalahan tersebut sebagai sarana untuk melecut diri supaya pribadi kita lebih baik lagi. Aku juga minta maaf, menjadi suami yang kurang peka untukmu. Terlalu sibuk tenggelam dalam pekerjaan sehingga waktuku untukmu banyak tersita. Pasti karena itu juga kamu memilih memendam masalah berat itu sendiri, kan?"
"Awalnya iya. Aku menyembunyikan hal tersebut karena khawatir Mas terbebani lebih dari yang kurasakan. Aku memilih mendustakan kenyataan dengan memaksa temanku memberiku dosis terapi hormon terus menerus. Tapi, lama kelamaan semua itu berkembang pada ketakutan lain saat hal yang kupaksakan nihil hasilnya. Belum lagi efek samping obat-obatan itu sangatlah tidak nyaman dan aku memilih menelan semua itu bulat-bulat. Aku takut, saat Mas tahu aku tidak bisa memberi keturunan, mungkin saja Mas takkan cinta lagi padaku. Aku juga takut mami dan papi tak sayang lagi padaku. Aku merasa begitu kecil, merasa rendah diri," tuturnya dengan suara tercekat.
Barata membalikkan posisi Maharani supaya berhadapan dengannya. Meremas kedua bahu istrinya itu lembut. Menatap dalam-dalam mata wanita di hadapannya.
"Kamu ragu akan rasaku padamu?" tanya Barata.
Maharani mengigit bibir sembari membalas tatapan Barata. "Enggak," jawabnya disusul gelengan kepala.
"Tetap saja aku takut. Aku takut dibuang bagai benda tak berharga olehmu juga keluarga kita saat mengetahui tentang kekuranganku. Aku takut, Mas." Nada sahutan Maharani benar-benar penuh ketakutan, tak dibuat-buat.
Barata mengusap pipi istrinya itu dan lebih menunduk hingga kening mereka bersentuhan satu sama lain.
"Hal yang kamu takutkan tidak akan pernah terjadi. Barata hanya mencintai Maharani Syailendra hingga napas ini berhenti. Suami dan istri bersama untuk saling menerima dan melengkapi kekurangan, bukan mencari kelebihannya. Aku sayang padamu, Rani, selalu. Seperti apa pun dirimu."
__ADS_1
Senyum haru terbit di bibir Maharani. Menyusup ke pelukan Barata yang balas mengeratkan kedua lengan. "Tetap sayangi aku seperti itu, dengan caramu, Mas. Aku, sayang kamu."
*****
"Papa baby," cicit Anggi di larut malam. Ia masih terjaga terbaring meringkuk di dekapan Juna di bawah selimut.
"Hmm," gumam Juna dengan mata memejam, tetapi tidak tidur.
"Apa Mas bermaksud untuk terus begini pada Mbak Rani? Mas tahu? Orang yang mau memaafkan saat orang lain mengakui kesalahannya, maka derajatnya lebih tinggi dari yang meminta maaf." Anggi berkata pelan juga hati-hati.
"Entahlah, aku masih belum yakin. Dia memang kakakku, tapi aku masih menaruh rasa kecewa berat terhadapnya," jelas Juna jujur.
Anggi terdiam sejenak. Mencoba memahami perasaan Juna. "Mmm, baiklah. Aku tahu Mas sedang butuh waktu. Tapi kuharap jangan terlalu lama. Memendam dendam hanya membuat hati kita dijauhkan dari rasa damai, terlebih lagi pada saudara sendiri. Perang antar saudara hanya akan berbuah petaka."
Juna menurunkan pandangan dan mengecup kening Anggi. "Aku tahu. Tapi untuk saat ini aku sedang berusaha dan menelaah diriku sendiri untuk dapat menerima dengan ikhlas. Jadi, bersabarlah, kuharap kamu mau mengerti."
Anggi mengangguk pelan dan balas mengecup pipi Juna. "Take your time, Mas. Aku yakin, Mas pasti bisa."
__ADS_1
Bersambung.
Novel ini akan segera tamat, nantikan selalu updatenya 🥰.