
Istri Arjuna Bab 47 b
Juna dan Bima berdiri bersisian sambil menikmati hamparan pemandangan malam Kota Paris dari area balkon tempat pesta. Viona sedang diwawancara oleh media setempat bersama para desainer lainnya, sedangkan Zayn bersama istrinya kembali ke hotel lebih dulu.
“Nara terus bertanya saat aku bercerita bertemu denganmu sewaktu seminar di Bandung. Menantimu mampir tapi ternyata Pak presdir ini sangat sibuk sampai-sampai tidak punya waktu untuk berkunjung ke rumah,” ucap Bima yang terkekeh pelan.
“Ah, aku juga rindu Nara,” jawab Juna apa adanya. “Sampaikan maafku pada putri cantikmu, waktu itu mendadak ada hal darurat yang harus diurus di Jakarta, jadi tidak sempat mampir.” Juna beralasan. Membicarakan tentang anak kecil, membuatnya seketika teringat pada si jabang bayi.
“Kamu hebat, Juna. Aku kagum. Berhasil bangkit begitu cepat dari kegagalan, dan sejak menikah berita tentang kesuksesanmu semakin menggaung tak henti di kalangan para pebisnis. Ikatan suci pernikahan tanpa disadari memang selalu membawa berkah yang menyertai,” ucap Bima penuh kesungguhan.
“Terima kasih, aku masih harus banyak belajar dari kegagalan,” sahut Juna apa adanya sembari mengulum senyum. “Kata-katamu semakin bijak saja, apa sekarang Direktur Utama Sinar Abadi Grup mengikuti perkumpulan klub para pujangga? Atau imbas dari usia yang bertambah beranjak tua?” ejeknya berbalut canda sembari menelengkan kepala.
Bima tertawa lepas nyaris terbahak hingga punggungnya berguncang. “Apa aku terdengar begitu?” tanyanya masih dalam sisa-sisa tawanya.
“Hmm.” Juna mengangguk dan tawa Bima menular padanya.
__ADS_1
”Tapi itulah yang kurasakan. Memang benar apa yang sering dikatakan para orang tua, ikatan suci pernikahan membawa banyak keberkahan dalam berbagai hal, dan saat akhirnya tabirnya terbuka barulah kita menyadarinya, terlepas dari cara dan bagaimana dua insan berjodoh dipersatukan. Jujur saja, dulu aku tak pernah memercayai itu. Mengatai ucapan para orang tua hanya mitos belaka. Tapi pada akhirnya aku benar-benar merasakan, makna dibalik ikatan suci bernama pernikahan dan memang nyata Viona membawaku pada jalan yang lebih baik padahal awalnya aku dustakan.”
Juna mengangguk-angguk saat mendengarkan kalimat-kalimat yang dilontarkan Bima. Beberapa rangkaian aksara yang tertangkap telinga menyentil dan memaksanya untuk menelaah. Keberkahan pernikahan itu nyata adanya, bahkan keberadaanya di sini pun tak lepas dari peran seseorang yang menjadi istrinya.
“Kenapa istrimu tidak ikut serta?” tanya Bima kemudian.
“Dokter melarang istriku untuk bepergian jauh, terlebih lagi terbang dalam rentang waktu yang cukup lama.”
Bima menoleh tampak terkejut. “Apakah istrimu mengidap penyakit serius?”
“Yang benar? Selamat, Arjuna. Akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah.” Bima menyahut gembira lalu menepuk-nepuk pundak Juna. “Menjadi ayah adalah perasaan terbaik yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata, rasanya luar biasa, benar bukan?”
Juna mengangguk pelan tak dapat menyembunyikan rona senangnya. Senyumnya kian lebar saja menampakkan deretan rapi gigi putihnya.
"Kudengar dari berita yang beredar, keberhasilan 'VN Fashion' menembus pasar Asia Tenggara dalam waktu singkat semuanya tak lepas dari dukunganmu. Kamu hebat, bisa menangani dua bidang yang notabene sangat berbeda jauh dalam waktu bersamaan.” Juna memuji dengan tulus karena memang begitu kenyataanya.
__ADS_1
“Sebagai suami, sudah seharusnya aku membantu dan berusaha mendukung semampuku. Ribuan maaf dari lisanku mungkin takkan pernah bisa membayar semua hutang luka yang dulu pernah kutorehkan padanya. Aku akan selalu mendukung mimpi Viona hingga waktuku menutup mata. Berharap semoga Sang Pemilik Kehidupan memberiku waktu yang cukup bagiku untuk selalu membuatnya tersenyum, sebagai permintaan maafku yang pernah membuatnya meneteskan banyak air mata kepedihan karenaku."
"Biasakan berterimakasih dan perbanyaklah meminta maaf pada istri kita yang telah setia mendampingi dan membawa begitu banyak berkah, agar keberkahan yang didapat semakin bertambah. Setiap hari, setiap ada kesempatan. Sebagai kunci kebahagiaan rumah tangga meski kita tidak merasa berbuat salah. Walaupun tidak mampu menjadi suami sempurna karena kesempurnaan bukanlah milik manusia, setidaknya kita berusaha untuk memperbaiki cela serta kecewa yang mungkin tertoreh tanpa sengaja. Saat seorang istri ikhlas dan menerima akan segala kekurangan dalam diri kita setelah usaha dan do’a terbaik dipanjatkan, di situlah letak rasa bahagia yang sesungguhnya. Saling mengisi kekurangan masing-masing itu indah.”
“Mas Bima!” panggil Viona dari kejauhan sambil melambaikan tangan, memberi isyarat agar suaminya mendekat.
“Juna, sorry. Kutinggal dulu.” Tanpa banyak kata Bima setengah berlari menghampiri Viona, sedangkan Juna mematung di tempatnya berdiri. Kalimat panjang lebar Bima barusan, menampar sanubari terdalamnya.
Juna terhenyak seolah terguncang. Masih pantas kah dirinya menyandang titel suami? Dia bahkan tak pernah mengutarakan kata maaf satu kali pun pada sang istri setelah begitu banyak duka ditorehkan atas nama nestapa masa lalu yang dipelihara terjebak dalam jiwa. Meskipun begitu, Anggi selalu menjadi wanita yang memegang teguh tanggung jawab sebagai seorang istri, tak pernah meninggalkan rumah tangganya kendati dirinya menciptakan neraka dalam bahtera yang diarungi. Menyeret Anggi yang tak tahu menahu tentang lara hatinya supaya sama-sama berkubang dalam derita.
Juna meremat dadanya sendiri yang terasa sesak, nyeri menusuk ulu hati. Saat terpisah jarak, barulah terasa seperti apa arti Anggi dalam kalbunya. Juga rasa bersalah yang selalu didustakannya itu kini nyata mengolok-olok. Bergulung-gulung serupa badai tornado yang setelah berputar menjatuhkan kepingan-kepingan benda yang diseretnya menghujani menghunjam jiwa.
Juna memanggil Pandu melalui ponsel kemudian berkata. “Siapkan kepulanganku, malam ini juga.”
Bersambung
__ADS_1