Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 20b


__ADS_3

BAB 20b


Saling memeluk bersisian setelah melebur merupakan hal yang jarang terjadi dari pasangan yang kini masih terengah menetralkan napas.


Seringnya, Juna memaksa mendesakkan diri yang disambut reaksi diam dari Anggi. Tidak menerima maupun menolak. Akan tetapi kali ini mereka saling memeluk, melingkarkan lengan melingkupi satu sama lain.


Anggi menempelkan pipi di sisi dada bidang Juna, sementara Juna merayapkan telapak jantannya mengusap teratur di punggung lembab wanita yang baru saja diajaknya melayang meraih nikmatnya surga dunia.


Lama mereka dalam diam. Hanya detak jarum bunyi-bunyian yang mengisi ruangan. Saling meresapi kebersamaan setelah puas mengayuh bersama.


"Kamu berkeringat lagi," ujar Juna seraya terkekeh.


"Ini juga ulah siapa?" Anggi menimpali sedikit berdecak sebal.


"Tumben kamu agresif?" Seperti biasa, Juna berkomentar tanpa menyaring kata-katanya membuat wajah Anggi merah padam.


"Hih, tidak ada bahasan yang lain apa!" Anggi meninju bahu Juna. Bergeser hendak menjauhkan diri, tetapi Juna merangkul tubuhnya erat.


Juna tertawa lepas. Ada rasa melambung yang sudah lama tak bergetar di segumpal daging yang bersemayam di rongga dadanya. "Tapi, aku suka," ungkapnya jujur.

__ADS_1


"Aku mau mandi duluan. Rasanya lengket di mana-mana." Anggi bermaksud bangun lantaran bingung bagaimana harus menimpali obrolan yang terlampau intim ini.


Secepat kilat Juna membuatnya kembali rebah dan mengungkung di atasnya.


"Mas minggir dong, aku mau mandi!" Anggi berseru kesal.


"Nanti saja. Kita mandi bersama." Tanpa peringatan, Juna malah beringsut turun hingga kepalanya menghilang di balik selimut.


"Mas, nga-ngapain sih?" Anggi mengigit bibir menahan suara aneh yang meronta ingin keluar karena ulah Juna dibalik selimut. Juna mencecap lembut menggoda di sana membuat kepala Anggi pening seketika.


Kembali naik muncul dari balik selimut, Juna menyeringai jahil. "Aku sedang memesrai istriku?"


Kalimat Anggi terputus saat Juna menyatukan bibir mereka. Anggi tak mengerti reaksi tubuhnya hari ini. Terlalu mudah tersulut, padahal dulu tidak begini.


Tak menerima bantahan, Juna kembali menyentuh merayu. Memuja setiap jengkal hingga wanita dibawahnya sukarela membuka diri untuk kembali diajak mendaki.


*****


Anggi membolak-balikan gaun cantik warna hitam yang bermaksud dikenakannya untuk pertemuan makan malam. Namun, bagaimana ia bisa memakai gaun berkerah 'V' tersebut di saat kulit lehernya bertransformasi tak ubahnya Marsupilami. Pelakunya adalah Juna yang meminta porsi tambahan kegiatan ranjang sore tadi.

__ADS_1


"Kenapa?" Juna muncul di belakang punggung Anggi dengan dasi di tangan.


Mata cantik Anggi memicing. Melempar tatapan penuh tuduhan. "Masih tanya kenapa, lihat ini! Masa iya aku pergi memakai baju yang memamerkan tanda ini!" Anggi menunjuk lehernya yang dipenuhi bercak cap bibir dan Juna malah tersenyum senang.


"Lukisan yang bagus bukan?" ujarnya menggoda.


"Bagus apanya! Mas pergi sendiri saja. Dua baju yang kubawa tidak ada yang modelnya turtle neck. Aku malu ketemu orang-orang kalau begini!" Anggi bersungut-sungut. Rasa kesalnya meluap tanpa ragu. Tidak seperti biasanya yang lebih sering tertahan.


Anggi kaget sendiri dengan reaksinya. Dia langsung terdiam, lalu menunduk sambil memilin jemari.


"Bawa syal?" tanya Juna kemudian. Anggi mengira Juna akan menyalak, tetapi ternyata tidak.


"Hah? Ba-bawa satu. Tapi kenapa nanyain syal?" Anggi mengangkat wajah dan menatap keheranan.


"Tentu saja buat nutupin lehermu. Mana syalnya? Biar aku pakaikan. Tapi, pasangkan dulu dasiku." Juna menunjukkan dasi di tangannya.


"Eh, i-iya, Mas."


Patuh, Anggi memasangkan dasi sementara benaknya dipenuhi pertanyaan silih berganti. Sejak tiba di Bandung, Juna banyak bersikap manis padanya terlebih lagi tadi sore, membuatnya agak takut. Takut bentengnya goyah dan runtuh.

__ADS_1


TBC


__ADS_2