
Halo para pembacaku sekalian. Jangan lupa dukungan like, hadiah dan vote kuponnya juga ya buat Anggita-Arjuna kesayangan kita. Terima kasih kepada semua pembacaku tersayang yang sudah dan selalu mengapresiasi serta mendukung dengan ikhlas. Semoga cinta kalian untuk Anggita-Arjuna dibalas dengan kebaikan berlipat, selalu sehat dan bahagia di mana pun berada. Jangan lupa bersyukur. Happy Monday and happy reading π₯°.
Follow juga akun instagramku @Senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
ππππ
Istri Arjuna Bab 71b
Rumah Ningrum dibenahi dan dikosongkan setelah pengajian hari ke tujuh berlangsung. Toko kelontong juga dibenahi, Anggi memutuskan akan menyewakannya dan hasil dari uang sewa akan disumbangkan utuh ke panti asuhan atas nama ibunya.
Sudah dua minggu berlalu. Suasana berangsur tenang. Dara dan Freya sang sahabat juga menyempatkan datang setiap kali acara pengajian berlangsung. Ikut membantu berbenah ini dan itu seperti keluarga sendiri, juga berdo'a dengan khidmat untuk ibunya, membuat Anggi meringis perih teringat kakaknya, karena seharusnya, Ayu lah yang membantunya di saat-saat seperti sekarang itu. Saling bekerjasama sebagai anak-anak almarhumah.
Tarikan napas panjang berdengung nyaring di kamar besar Juna dan Anggi. Pencahayaan temaram terasa kian syahdu di larut malam ini, mengajak penghuninya untuk memasrahkan diri melepas penat di peraduan.
Berbaring miring, Anggi tenggelam dalam kecamuk pikirannya. Begitu banyak hal terjadi bertubi-tubi dan efeknya baru terasa sekarang. Tubuhnya lesu dan letih bukan main, belum lagi perutnya sedikit keram.
__ADS_1
Sebentuk tangan yang melingkari perutnya dan kecupan di pipi, memecah lamunan. Aroma maskulin yang menyerbu indra penciuman merilekskan urat-urat saraf, juga dada bidang yang bersentuhan dengan punggungnya menyalurkan rasa aman. Anggi memejam, meresapi kehangatan menentramkan yang melingkupinya.
"Kenapa melamun?" tanya Juna yang memeluk dari belakang, sembari menopang kepala menggunakan sebelah tangannya. Sementara tangan yang lainnya mengelusi perut istrinya yang semakin hari semakin membulat.
"Daripada melamun, bagaimana kalau diganti dengan acara tengok-menengok?" Juna melempar canda untuk memecah senyap dan itu berhasil membuat Anggi terkekeh pelan.
"Masih keram?" tanya Juna lagi.
"Sedikit. Maafkan, Mama, sayang. Kamu harus melalui banyak hal tanpa jeda akhir-akhir ini." Anggi ikut mengelusi perutnya sendiri dengan gerakan lembut. "Anak kita pasti marah karena dibawa ikut berlelah-lelah oleh ibunya."
Anggi mengubah posisi baringannya. Menggulingkan tubuh menjadi terlentang sementara Juna tetap berbaring miring seraya setia mengusap perutnya.
"Keputusanku sudah benar kan Mas?" tanya Anggi, sorot matanya menyiratkan kebimbangan.
"Tentang Mbak Ayu?" tebak Juna, air muka istrinya itu amat mudah terbaca.
__ADS_1
Kepala Anggi mengangguk. "Apakah aku akan di cap sebagai adik yang kejam? Apakah ibu akan marah padaku karena membiarkan kakaknya dibui dalam kondisi hamil."
"Tidak," jawab Juna cepat sembari beralih memindahkan tangannya dari perut untuk membelai rambut Anggi disusul kecupan lembut di kening.
"Keputusanmu sudah yang paling benar. Ibu pasti punya pemikiran sama denganmu walaupun memang berat. Selama ini tidak ada mempan menyadarkan Mbak Ayu dan kita berharap semoga kekeliruan yang kini menjadi bumerang baginya mampu menyadarkannya juga introspeksi atas segala perbuatan salahnya. Semoga di dalam sana dia bisa merenung. Tentang kehamilannya kamu jangan khawatir. Fasilitas kesehatan untuk ibu hamil tetap tersedia meski dalam masa hukuman. Hanya saja dari laporan Pandu yang didapat dari keterangan polisi tadi sore, sampai saat ini Mbak Ayu masih saja mendustakan kepergian ibu dan terus meminta bertemu, kendati foto makam ibu yang kamu minta untuk diberikan pada Mbak Ayu sudah diperlihatkan."
Anggi mengusap wajahnya lelah. "Semoga saja, kali ini Mbak Ayu benar-benar merenung. Meski terkadang jujur saja ada rasa tak tega terselip di hati. Tapi kalau aku membenarkan kesalahannya, maka itu berarti aku tidak sayang padanya. Karena membiarkannya lalai dan terlena dalam kekeliruan."
"Semoga." Juna menimpali, kemudian beringsut menciumi perut Anggi sebelum kembali rebah. "Ayo, tidur."
"Mas, aku ada satu permintaan."
"Minta apa? Bilang saja, Arjuna akan menjadi superhero untuk Anggita asalkan jangan meminta diambilkan bulan," ujarnya sembari tersenyum lebar. Berusaha menghibur wanita tercintanya.
Anggi tampak berpikir lalu berucap, "Bisakah Mas usahakan meminta pada pihak berwajib untuk mengizinkan Mbak Ayu supaya diperbolehkan melihat langsung makam ibu?"
__ADS_1
Bersambung.