Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 69a


__ADS_3

Istri Arjuna 69 a


Ningrum menggulirkan sisir. Menyelipkan jari jemari menguntai rambut panjang putri bungsunya untuk dikepang.


Euphoria kala dirinya masih di sekolah dasar kembali Anggi rasakan. Jemari lembut ibunya selalu terasa hangat saat bersentuhan dengan kulit kepala. Merebakkan rasa damai juga tentram.


"Rambutmu selalu lembut sejak dulu dan sekarang semakin bagus. Pasti karena dirawat dengan baik. Apakah perawatannya mahal?" ujar Ningrum yang begitu serius mengepang rambut Anggi.


"Benarkah?" cicit Anggi dengan senyum dikulum. "Sekarang, aku merawatnya lebih baik dari sebelumnya karena Mas Juna yang menyarankan. Sebetulnya perawatan sederhana saja sudah cukup, tapi suamiku menyuruhku untuk memilih yang terbaik."


Tawa ringan berderai. Ningrum tersenyum lebar. "Itu pertanda bahwa Arjuna sangat menyayangimu. Dia suami yang bertanggungjawab penuh. Ibu merasa tentram, anak Ibu yang berbakti ini dipersunting pria yang tepat."


"Semua berkat do'a Ibu. Keberkahan yang kurasakan dan kudapatkan, semuanya tak lepas do'a-do'a yang Ibu langitkan kepada Yang Maha Kuasa juga nasehat baik yang tak bosan Ibu ingatkan padaku."


Ningrum mengikat ujung rambut Anggi dengan kuncir. Merapikan anak-anak rambut di dahi Anggi dan mengecup pipi anak bungsunya itu.


"Di mana Mbakmu?" tanya Ningrum kemudian.


"Sepertinya pergi lagi. Sepatunya yang ditaruh di rak depan tidak kelihatan. Jangan memikirkan tentang Mbak Ayu dulu, Bu. Sekarang fokus saja pada kondisi Ibu. Lagi pula dia bukan anak kecil, seharusnya sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak untuk dirinya. Mas Juna sedang berusaha mencari informasi, apakah Mbak Ayu bicara jujur atau hanya bualan, perihal ayah si bayi tak berdosa."


Anggi memutar posisi duduknya jadi berhadapan dengan ibunya.

__ADS_1


Ningrum menarik napas panjang, terdengar lelah. "Bapakmu pasti marah pada Ibu, karena gagal mendidik Ayu, juga karena menjadi orang tua yang terus merepotkan anak bungsunya," desah Ningrum penuh rasa bersalah.


"Enggak, Bu. Setiap orang tua sudah pasti berusaha mencurahkan yang terbaik. Apa yang terjadi pada Mbak Ayu bukan salah Ibu, tapi justru karena dia abai pada nasehat Ibu. Dan tentang aku, aku sama sekali tak pernah merasa direpotkan, jadi Ibu jangan berpikiran macam-macam."


Diraihnya tangan Anggi dan Ningrum menggenggamnya erat. Menatap anak bungsunya dengan mata mengkilap.


"Ibu merasa sangat sedih dengan nasib cucu Ibu yang dikandung Ayu. Bagaimana pun juga, bayi itu tak berdosa. Untuk itu, Ibu ingin meminta satu hal padamu," ucap Ningrum dengan suara serak.


"Apa itu, Bu?" Anggi mengeratkan genggaman di tangan ibunya.


"Ibu sebetulnya malu. Ibu selalu membebanimu begitu juga kakakmu yang sering merecokimu. Tapi hanya kamu yang bisa dimintai tolong tentang hal yang terus berlalu lalang di pikiran Ibu, walaupun Ibu tahu, perbuatan Ayu ikut mencoreng namamu juga, Anggi."


Sorot mata Anggi penuh kesungguhan. Ningrum membelai pipi putrinya penuh rasa bangga juga sayang. Sudut matanya berair, air mata haru berpadu pilu untuk anak-anaknya.


"Kamu adalah yang terbaik. Selalu begitu." Ningrum menjeda kalimatnya.


"Perihal ayah si bayi yang dikandung Ayu, Ibu sudah tak berharap banyak. Ibu hanya ingin berpesan karena tak yakin Ayu mampu mengasuhnya dengan baik. Jika nanti anak Ayu lahir, serahkan pada panti asuhan. Ibu tidak mau kalau sampai bayi tak berdosa itu disia-siakan. Bagaimana pun juga bayi itu cucu Ibu. Tentang Ayu Ibu hanya bisa berdo'a, karena kondisi Ibu sudah tak memungkinkan banyak berupaya untuk membuatnya merenung."


"Ibu jangan terlalu memikirkan hal itu. Lagi pula aku dan Mas Juna tidak mungkin berpangku tangan jika Mbak Ayu menelantarkan anaknya. Aku juga selalu berusaha mengingatkan agar Mbak Ayu menyadari kesalahannya meski dia selalu keras kepala. Walaupun bukan demi kita, setidaknya demi anaknya dia harus berubah."


Ningrum menggelengkan kepala. "Jangan, Nak. Ibu tidak ingin terus menerus membebanimu tak berkesudahan. Ibu tidak ingin terus melibatkanmu juga Arjuna untuk menangani masalah keluarga kita. Sudah cukup kamu dan Arjuna merawat Ibu sepenuh hati. Ibu ragu Ayu bisa berubah. Untuk itu, jika Ayu menelantarkan anaknya, serahkan pada panti asuhan saja. Agar bayi itu diasuh dengan baik tapi tidak mengganggu rumah tanggamu. Ibu tidak mau, mahligai pernikahanmu direcoki kesalahan kakakmu. Hanya itu yang Ibu minta, karena Ibu merasa waktu Ibu tak lama lagi, Nak."

__ADS_1


****


Ponsel Pandu berdering di saat dia tengah mendampingi Arjuna pada pertemuan penting di sebuah instansi pemerintahan. Pandu menarik diri sejenak dari ruangan dan mengangkat telepon tersebut.


Rupanya itu adalah laporan panjang lebar tentang Ayu dari beberapa orang yang diminta menguntit. Disertai foto-foto Ayu yang memasuki toko jual beli arloji juga memasuki sebuah hotel melati dikirimkan ke ponsel Pandu.


Pandu kembali masuk ke dalam ruangan dan sang bos baru menyudahi pembahasan. Pandu segera menghampiri Juna dan menunjukkan layar ponselnya sekilas.


"Jadi, Mbak Ayu hari ini pergi ke toko jual beli jam mewah?" Juna bertanya sambil melangkahkan kaki menuju parkiran.


"Iya, Pak. Dan orang-orang kita memberi info bahwa Mbak Ayu menjual satu unit jam tangan mewah buatan Eropa di sana seharga 25 juta rupiah."


Perkataan Pandu bertepatan dengan gawai Juna yang berbunyi.


"Iya, Sayang. Kenapa?" kata Juna begitu tombol hijau digeser.


"Mas, lihat jam tanganku enggak? Arloji yang couple itu? Apa terbawa di tas kerja Mas?"


Bersambung.


__ADS_1


__ADS_2