
Istri Arjuna bab 34b
Lina dan Bik Tiyas kembali naik ke lantai dua. Mereka cukup tercengang, gundukan baju yang asalnya tersisa tiga, ini bertambah dua kali lipat, menjadi enam tumpukan di atas kasur sang majikan.
“Bu, i-ini mau dibuang juga?” Lina menunjuk sungkan pada tumpukan jas dan setelan tuannya yang dilihat sekilas pun pasti mahal harganya.
Anggi menaruh kemeja terakhir yang berlabelkan VN Fashion bergabung bersama tumpukan baju lainnya lalu duduk di tepi ranjang. Menghela napas panjang sebelum membuka suara.
“Bik Tiyas, Lina. Tentang perkataanku tadi yang meminta kalian membuangnya sebaiknya jangan. Akhir-akhir ini aku lebih cepat emosi, mungkin efek hormon kehamilanku. Aku hanya ingin semua pakaian ini disingkirkan. Kalian bisa mengambilnya atau memberikannya pada yang membutuhkan yang penting jangan ada yang memakainya di rumah ini. Jika dibuang begitu saja rasanya aku menjadi begitu jahat pada orang-orang yang masih banyak membutuhkan pakaian guna melindungi tubuh mereka dari hawa dingin dan teriknya matahari. Yang penting, singkirkan dari rumah ini. Tolong ya.”
“Baik, Bu.” Dua orang ART itu bergegas melaksanakan perintah Anggi.
__ADS_1
Lina yang paling antusias. Mengoceh senang sambil berjalan turun, saking senangnya bahkan hampir tersandung di undakan tangga terakhir.
“Mbakyu, aku mau kirimkan jas-jas mahal ini buat saudaraku yang punya jasa merias pengantin sama sewa baju di kampung. Lumayan kan, ini bisa disewakan. Terus beberapa setelan mau aku kirim juga buat bapakku, biar kalau ada sanak saudara yang hajatan atau ada acara di balai desa, bapak bisa pakai baju bagus dan mahal,” cicitnya sambil cekikikan gembira.
“Yowes, terserah mau kamu apakan. Yang penting sesuai perintah Bu Anggi tadi, baju-baju ini tidak boleh terlihat keberadaannya di rumah ini.”
“Siap, Mbakyu.”
Pagi harinya selepas sarapan, Juna bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Anggi. Kemarin, Wulan sudah sudah membuatkan jadwal ulang untuknya walaupun temannya itu sempat protes karena permintaan Juna itu lebih cocok disebut titah daripada permintaan. Wulan memberitahukan nama dokter juga rumah sakit yang direkomendasikan, yaitu Dokter Raisa yang bertugas di Rumah Sakit Satya Medika.
“Sepuluh menit lagi kita berangkat,” ucap Juna yang muncul di belakang punggungnya, berdiri di sana dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
__ADS_1
Anggi menyahuti dengan anggukan tipis tanpa kata juga tanpa menoleh. Hanya mempertemukan pandangan melalui cermin bersama raut datar masih setia menghiasi paras cantiknya.
“Aku tunggu di bawah," sambung Juna lagi. Sebuah dorongan kuat membuat Juna tak mampu menahan diri. Dia membelai lembut puncak kepala Anggi dan tak disangka mendaratkan sebuah kecupan di sana sebelum kemudian berlalu keluar dari kamar.
Sikap manis Juna membuat Anggi termenung manatap dirinya sendiri. Tak ingin lama-lama berlarut dalam dilema rasa, cepat-cepat ia menyelesaikan ritual berhias, mengambil tas selempangnya dan menyusul suaminya turun.
“Jadi, bagaimana kondisi anakku, Dok?” Juna bertanya tak sabaran saat Dokter Raisa masih menggulirkan transduser di permukaan perut Anggi di sekitar bawah pusar.
Pandangan Juna terpaku fokus ke layar monitor. Gema takjub menyerbu dirinya saat Raisa menunjuk gumpalan berukuran kecil yang terpampang di sana, menerangkan bahwa itulah si buah hati yang tengah berjuang bertumbuh. Perasaan hangat menggembung dalam dada, seumpama adonan cake yang baru keluar dari pemanggang dan berhasil mengembang sempurna. Harum semerbak, manis, hangat, lembut juga lezat.
“Kondisi janinnya sehat. Hanya saja ibunya perlu meningkatkan asupan makanan demi menunjang pertumbuhan serta kesehatan ibu dan bayi. Tekanan darahnya juga terindikasi rendah. Usahakan membangun mood happy dan hindari stress.”
__ADS_1
Anggi turun dari ranjang periksa setelah Raisa selesai melakukan prosedur pemeriksaan, kemudian duduk berdampingan dengan Juna di kursi yang tersedia. Juna lah yang tak henti bertanya perihal kehamilan Anggi, sedangkan Anggi hanya mengangguk-angguk saja mengiyakan perkataan dokter. Lebih tertarik mengamati pria tampan di sebelahnya yang begitu antusias bertanya banyak hal.
Bersambung.