
BAB 19a
Hujan menyambut begitu mereka sampai di Kota Parahyangan Bandung. Tidak terlalu deras, tetapi hawa yang berembus cukup untuk membuat kulit mendingin. Anggi menggosok-gosok kedua tangannya sambil sesekali meniupnya, guna menghangatkan.
Tiga jam lebih perjalanan melalui jalur Tol Cipularang dan mereka sampai di pusat kota ketika waktu hampir merapat ke angka sembilan. Juna masih fokus pada kemudi menuju Hotel Padma yang merupakan tempat pertemuan besok, juga sengaja memesan kamar untuk menginap di sana agar lebih efisien.
Kali ini Juna sengaja pergi tanpa sopir. Selain sedang ingin mengemudi sendiri, sudah lama rasanya dia tidak memberi libur yang lebih panjang agar sopirnya bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama keluarga. Juga alasan lain yang belum ingin diungkapnya, masih abu-abu samar. Yang jelas Juna ingin Anggi menemaninya, berdua saja.
Desisan Anggi yang mulai kedinginan sedikit mengalihkan fokus. "Apa suhu AC terlalu dingin?" Juna menoleh dan bertanya.
"Boleh diatur jangan terlalu dingin?" pinta Anggi enggan. Tak terbiasa banyak menuntut.
"Kamu kan punya tangan. Atur saja sendiri," jawab Juna ketus seperti biasa dengan tatapan menyiratkan jangan merepotkanku.
Antusias, Anggi menyesuaikan suhu supaya tidak terlalu rendah. Baru kali ini ia diperbolehkan mengatur-atur sendiri sesuatu terhadap mobil favorit Juna ini. Nada ketus Juna sudah biasa didengarnya, jadi bukan lagi hal asing baginya.
__ADS_1
Mereka melangkah bersisian saat memasuki lobi hotel. Juna menggamit tangan Anggi, merangkumkan jemari posesif di ruas-ruas jari lentik Anggi.
Anggi sedikit terkesiap, hendak melepas hanya saja genggaman Juna bukan kaleng-kaleng, begitu erat sehingga ia hanya bisa pasrah saja.
Juna mengambil kunci kamar yang sudah dipesannya sesaat sebelum berangkat tadi., lalu meminta petugas hotel membawa barang bawaan mereka ke kamar yang terletak di lantai tiga.
Anggi mengeluarkan pakaian dari dalam koper dan menatanya di lemari supaya tidak kusut sementara Juna memilih langsung mandi.
Ketukan di pintu membawa langkah Anggi untuk cepat membuka, itu pasti layanan kamar dan memang benar. Petugas layanan kamar mengantarkan pesanan teh panas beserta kelengkapannya. Anggi juga sempat meminta dibawakan cookies saat Juna memesan tadi. Tiba-tiba terbersit ingin makan cookies dicelup teh manis.
Anggi menoleh begitu pintu kamar mandi terbuka. Juna keluar dari sana dalam balutan handuk mandi warna abu-abu tua. Tampak segar, hanya sayangnya tak mengurangi kesan angkuh yang melekat.
"Mas, maaf, aku minum tehnya duluan." Anggi mengangkat cangkirnya sungkan.
"Buatkan satu cangkir untukku," titahnya yang menghampiri sambil menggosokkan handuk di rambut basahnya.
__ADS_1
Anggi menaruh cookies yang sudah digigitnya juga gelas tehnya ke atas meja. Tanpa bantahan ia menuang teh panas ke cangkir lain dan bertanya saat bermaksud menambahkan campuran. "Mas, mau pakai gula atau susu?"
Juna duduk di kursi sebelah Anggi dan menyeringai jahil. "Pakai susu kamu," jawabnya asal tanpa tedeng aling-aling sambil menggaruk hidung.
"Hih. Aku ini tanya baik-baik!" Anggi berseru jengkel juga malu mendengar kalimat vulgar yang terlontar.
Juna terbahak. Terdorong getaran aneh dalam dada, dia malah refleks mengecup bibir Anggi yang mengerucut cemberut. Gemas tak tertahankan.
Wajah mereka berdua hanya berjarak satu jengkal saja sekarang. Anggi membeku. Mulutnya yang asalnya hendak bersungut-sungut mengatup dan terdiam. Manik mata keduanya bergulir saling menyelami, bersama jantung yang menabuh semakin kencang.
Anggi berjengit saat tiba-tiba ujung bibirnya dilumat. Panasnya mengalir membakar tubuh.
"Tadi ada remahan kue di bibirmu, jadi kubersihan," ucap Juna enteng, kemudian dengan santainya mengambil sendiri satu sachet gula dan menuangnya ke dalam cangkir teh setelah membuat Anggi mematung bergeming.
TBC
__ADS_1