
Istri Arjuna spesial bab terakhir
“Enak?” tanya Juna pada istrinya yang begitu lahap menyantap pop mie seduh di kereta yang penumpangnya telah turun seluruhnya. Garuk-garuk tak gatal melihat Anggi memegang cup pop mie penuh penghargaan laksana barang mahal.
Anggi menaruh cup mi yang dipegangnya. Mengacungkan kedua jempolnya ke atas. “Enak banget! Mama dan dede bayi suka,” sahut Anggi gembira.
Raut wajahnya tanpa dosa, tak merasa bersalah sedikit pun telah membuat suaminya keliyengan di tengah malam demi menuntaskan keinginan spontanya yang luar biasa membuat darah tinggi.
“Mas mau?” tawar Anggi dengan mulut penuh. Berkata sembari sibuk mengunyah bak orang orang kelaparan seakan belum makan berhari-hari. Mengangkat garpu dan menyodorkan mie pada sang suami yang sejak tadi mengamatinya lekat-lekat.
“Enggak. Buat kamu saja. Habiskan dan makan sampai kenyang ya, karena setelah ini kamu bertugas mengisi ulang tenaga dalamku,” ujarnya, melirik dengan maksud terselubung.
“Siap, Bos!” Anggi mengangguk-angguk. Entah memperhatikan kalimat Juna atau tidak sebab fokusnya tertuju pada pop mie cup kedua dari tiga cup yang dipesannya. Memesan beraneka rasa, yang rasa kari ayam sudah ludes menyisakan kuahnya saja dan sekarang ia beranjak pada cup rasa ayam.
__ADS_1
Juna meringis melihat istrinya yang mendadak rakus, membayangkan betapa penuhnya lambung Anggi sekarang. Namun, jika dilarang jangan makan terlalu banyak di saat mode merengek dan merajuk dari mood swing luar kehamilan keduanya ini, maka bisa-bisa Anggi bakal mogok bicara padanya sampai satu minggu penuh. Lain cerita jika dokter yang bersabda.
Meski terkantuk-kantuk, Juna setia menunggui Anggi sampai istrinya itu puas menyantap mie. Ternyata hanya dua cup saja yang dihabiskan, sedangkan satu cup yang tersisa mau tak mau dimakan Juna walaupun enggan. Wanita yang sedang mengandung anak keduanya ini memaksanya harus mencoba makan pop mie di kereta, mengatakan bahwa rasanya luar biasa berbeda, lebih lezat ketimbang mie cup yang diseduh di rumah.
“Gimana? Enak kan?” kata Anggi antusias, mengawasi ekspresi suaminya yang sedang mengunyah mie suapan pertama.
Saat citarasa kaya berpadu kuah mie mendarat di mulutnya, Juna tertegun dikagetkan dengan respons indra pengecapnya. Semula dia tak mempercayai celotehan istrinya. Akan tetapi apa yang dijabarkan Anggi bukan bualan semata. Ternyata benar adanya, pop mie seduh di kereta itu lebih lezat rasanya.
Juna mengangguk. “Iya, rasanya jadi lebih enak,” jawabnya jujur, seraya mencicipi kuahnya.
“Nah kan, aku bilang juga apa. Percaya sekarang?” ujar Anggi menuntut pengakuan.
“Correct!”
__ADS_1
Anggi tertawa senang mendengar jawaban Juna. Ia merapatkan duduknya, bersandar manja pada sang suami sementara Juna menyantap makanannya. Sesekali mereka bercanda tawa saling menggoda, atau terkadang sama-sama adu argumen saling menyergah. Sungguh pemandangan yang manis.
Si pria paruh baya petugas stasiun yang tadi membantu Juna merealisasikan keinginan mengidam Anggi, sedang berkeliling di sekitar kereta. Hampir saja menabrak petugas lain yang membawa nampan, hendak naik ke kereta yang sedang disewa Ajuna.
“Lho, bukannya tadi sudah dibuatkan tiga cup mie buat nyonya muda yang lagi hamil itu? Ini ditambah tiga lagi buat siapa?” tanyanya penasaran.
“Yang sedang hamil memang istrinya. Tapi sepertinya suaminya juga ikut ngidam makan pop mie di kereta. Ini semuanya pesanan suaminya yang meminta dibuatkan lagi, bukan pesanan istrinya.”
SELESAI.
Terima kasih banyak para pembacaku tersayang, sudah mendukung dan mengikuti cerita ini sampai tuntas. Dukung juga cerita terbaruku yang berjudul SINFUL ANGEL ya. Jangan lupa follow IGku di @Senjahari2414 untuk info novel lebih lanjut dan visual novel.
Love & Hug 🥰💞
__ADS_1