Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 52a


__ADS_3

Istri Arjuna 52a


Damai.


Kembali dirasakan Juna saat bergelung di hangatnya tubuh lembut yang memeluknya. Rasa yang sudah lama sirna di kalbunya yang dipenuhi serpihan puing dari hati yang patah juga kegagalan. Sudah sejak lama, di sanubarinya hanya ada kecewa menusuk dasar sukma. Menciptakan sembilu tak kasat mata yang terasa perih setiap kali udara terhela.


Di dekapan wanita yang kini tengah mengandung darah dagingnya, rasa tentram merasuk dalam nadi, merebak melewati aliran darah, serupa obat yang membasuh lembut segala nestapa dalam dada.


“Aku kangen kamu. Tak pernah kusangka, saat berjauhan denganmu, setiap kali kupejamkan mata, cuma ada kamu yang memenuhi kepalaku. Bahkan setiap kali udara kuhirup, namamu ikut terbaca menyertai napas yang memberiku kehidupan,” ucap Juna apa adanya yang kemudian mengecup sayang pipi Anggi sebelum mengurai pelukan. Juna merasa sudah lelah menahan diri dan ingin melepaskan semua simpul kusut yang merantai hati.


Anggi bergeming. Juna mengangkat wajah, mempertemukan pandangan mereka dalam jarak yang amat dekat. Jemari Juna merapikan rambut di dahi wanita yang kini menatapnya lekat-lekat, netra sendu itu sesekali berkedip lembut membuat bulu mata lebat yang menaungi berkibar indah.


“Kamu tahu, apa arti dari getar hati yang kurasakan ini, Anggita? Tolong, bantu aku menemukan jawabannya," pinta Juna sungguh-sungguh. Ragu akan hatinya yang sengaja ditumpulkan sejak kejadian di masa lalu salah menyimpulkan. Dia menutup dan menumpulkanya lantaran takut kembali terluka.


Anggi menelan ludah. Manik matanya bergulir berlarian menyelami telaga tajam Juna lebih dalam. Degupan jantungnya menabuh kian nyaring, semakin cepat. Menelisik rasanya sendiri sambil mencari jawaban dari jendela hati yang kini menatapnya dengan sorot berbeda. Lembut disertai bimbang. Ada binar yang ingin menerjang keluar dari sana, hanya saja masih terhalang tirai yang memantulkan puing tersiksa merana.


Anggi menaruh telapak tangan di dada Juna. Pria ini pasti telah banyak kehilangan separuh diri saat asa yang dibangunnya hilang dari genggaman.

__ADS_1


Dengan bola mata mengkilap basah Anggi berkata, “Coba tanya hatimu, Mas. Cuma kamu sendiri yang tahu jawabannya. Bantuanku tak ada artinya kalau Mas tidak mencoba memahami diri. Yang paling tahu keseluruhan kita secara utuh, hanya diri kita sendiri dengan Sang Pemilik Kehidupan.”


“Aku takut dengan rasa ini, Anggita. Aku takut,” ungkapnya jujur. Tergambar jelas dari raut Juna yang tampak tersiksa.


Baru kali ini Anggi melihat Juna tanpa perisai cangkang yang selama ini menyelubungi. Tampak amat rapuh ketika keluar dari cangkangnya lantaran terlalu banyak bersembunyi. Seumpama anak kecil yang kehilangan ibunya di hutan belantara. Kesepian juga ketakutan.


“Apa yang Mas takutkan?”


Suara Anggi mulai tercekat. Tersumpal gulungan sebah di tenggorokan imbas dari desakan di bola mata yang berusaha ditahannya supaya tidak merebak keluar. Pria di hadapannya sedang bersusah payah membuka diri. Dengan sabar Anggi menunggu pria ini membuka tabirnya perlahan. Tak serta merta mendorong pintu usang yang mulai terbuka kuncinya itu didorong tanpa seizin pemiliknya.


“Aku pernah gagal dalam urusan hati.” Juna membuang napas penuh beban. “Dalam urusan bisnis aku berani adu cerdas, tapi untuk yang satu itu, ku akui kalau aku ini bodoh dan lambat.” Juna berdecih menertawakan dirinya sendiri.


“Tapi sekarang, aku merasakan hal itu lagi. Hal yang paling kutakutkan, hal yang pernah melambungkanku juga menjatuhkanku, tak pernah terlintas akan kubiarkan kembali.”


“Hal apa?” cicit Anggi tanpa memalingkan pandangan.


“Hal yang membuatku takut menelan kecewa lagi. Tapi, ada yang lebih kutakutkan dari itu sekarang, yaitu takut kehilangan hal yang lebih besar dari sebelumnya. Kurasa sudah waktunya aku mengambil langkah ini. Supaya tidak menuai penyesalan pahit nantinya,” ucap Juna yang kini merangkumkan jemarinya di telapak tangan Anggi yang terbebas dari selang infus.

__ADS_1


“Apa itu?” Nada suara Anggi penuh keingintahuan, tetapi berusaha menekannya agar si pria yang tengah belajar membuka diri ini tidak membanting pintunya dan bersembunyi lagi.


“Aku tak peduli lagi pada si kecewa yang menghantui. Seseorang mengatakan padaku, Jika benar mencintai anakmu, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah mencintai ibunya. Aku tahu, hal yang ingin kusampaikan pasti terdengar tak tahu malu setelah semua yang kulakukan padamu. Tapi, inilah rasa hatiku yang telah kutelaah setiap incinya, bukan hanya karena kamu mengandung anakku."


"Mak-maksudnya?" tanya Anggi terbata.


Juna membawa tangan Anggi yang digenggamnya kemudian mengecupnya lembut.


“Anggita. Maaf, atas segala sikap burukku padamu, aku tak menuntutmu untuk memaafkanku, itu murni hak kamu sendiri tentang memaafkan atau tidak. Juga, terima kasih telah datang membawa berkah dalam kehidupanku yang baru kusadari setelah banyak hal dilalui. Juga satu hal lagi, walaupun mungkin ini terlambat, tapi aku tetap ingin kamu tahu.”


Juna beringsut kian dekat. Menunduk dalam dan mendaratkan bibir mengecup kening Anggi lama, lalu berbisik tulus dengan suara parau di sana.


“Anggita, aku cinta kamu. Aku mencintaimu, Istriku."


Tak ayal lagi buliran bening yang Anggi tahan akhirnya luruh dari sudut mata saat kalimat yang dibisikkan Juna terdengar jelas. Berselimut haru, Anggi memeluk Juna dan berbisik dengan bibir gemetar.


“Bolehkah, kalau aku juga ingin belajar mencintaimu dengan benar, Mas?”

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2