Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 65a


__ADS_3

Istri Arjuna bab 65a


Peralatan medis yang menempel di tubuh Ningrum satu persatu dicabut. Menyisakan satu saja yaitu selang infus. Sesuai keinginan ibunya, Anggi kini tengah menyeka bagian atas badan ibunya dan mengganti baju rumah sakit dengan baju terusan berwarna hijau tosca yang cantik.


Baju tersebut adalah baju yang dibelikan Anggi ketika menerima gaji pertama. Tadi siang, Anggi menyempatkan diri ke rumah sang ibu sebentar untuk mengambil pakaian yang ingin dipakai Ningrum.


Anggi kini duduk di belakang punggung Ningrum. Parasnya yang sejak tadi tersenyum manis, menyendu kelabu begitu tangannya bergulir menyisir rambut ibunya.


“Ibu suka sekali baju ini. Kamu memang pintar memilihkan, warnanya juga sesuai dengan selera Ibu. Baju yang kamu belikan ketika menerima gaji pertama. Kenapa saat itu, kamu malah membelikan baju untuk Ibu terlebih dahulu, bukannya membeli hal yang kamu inginkan?” tanya Ningrum sembari meraba permukaan kain lembut dan halus yang dikenakannya.


“Mungkin Ibu tidak tahu, aku justru membeli sesuatu yang paling kuinginkan saat mendapat gaji pertamaku,” sahutnya.


“Benarkah? Apa itu? Kenapa Ibu tidak tahu?”


Anggi terkekeh pelan. “Karena, hal yang paling ingin kubeli adalah membelikan sesuatu untuk Ibu.”


Ningrum tersenyum lebar. Gurat penuh syukur tercermin dari raut wajahnya walaupun semakin pucat saja. “Oh iya, Ibu ingin terlihat cantik hari ini. Sisirkan yang rapi ya, penata rambut,” canda Ningrum dengan senyum tak kunjung surut.

__ADS_1


“Sesuai permintaan, Nyonya,” sahut Anggi riang dipaksakan, berusaha menormalkan suaranya. Tidak ingin ibunya menangkap nada parau yang mati-matian disembunyikannya.


“Aku jadi ingat, sewaktu sekolah dasar dulu, setiap pagi aku merengek ingin ibu menguncir atau mengepang rambutku dengan cantik ditengah-tengah kerepotan Ibu menyiapkan sarapan, belum lagi Mbak Ayu yang berteriak-teriak karena tidak menemukan seragam, juga almarhum bapak yang selalu manja ingin dibuatkan kopi oleh Ibu seorang. Pasti ibu lelah kan? Maaf, sebagai anak aku pasti banyak merepotkan,” desah Anggi seraya membasahi tenggorokannya yang kelat sembari menggulirkan sisir.


“Dan sekarang kamu yang menyisir rambut Ibu,” tukas Ningrum senang, sementara Anggi yang duduk di belakangnya sedang menahan desakan di bola matanya.


“Perlu kamu tahu. Tidak ada yang namanya lelah dan merepotkan bagi Ibu saat kamu, kakakmu juga bapak selalu bermanja pada Ibu, hanya bahagia yang memenuhi relung hati. Saat-saat itu adalah pagi terbaik. Ahh, tiba-tiba saja Ibu rindu pagi penuh kehangatan itu,” kata Ningrum, benaknya menerawang ke masa lalu.


Anggi menaruh sisir setelah selesai merapikan dan menyanggul rambut ibunya, lalu dipakaikan scarf bermotif senada. “Selesai,” cicit Anggi yang kemudian memeluk ibunya erat-erat.


Ningrum mengelus lembut lengan putri bungsunya. Memejam sejenak meresapi setiap kebersamaan dengan anak bungsunya walaupun menyelinap rasa perih saat kembali mengingat si sulung. “Ayo, kita berangkat. Nanti kesorean. Ibu sudah tidak sabar ingin berjalan-jalan denganmu.”


“Iya, Bu. Sebentar, aku panggil Mas Juna dulu juga perawat yang akan ikut, sesuai saran dokter.” Anggi mengurai pelukan. Mengusap sudut matanya yang basah dengan cepat sebelum beranjak dari ranjang perawatan.


Juna memegang kemudi. Anggi dan ibunya duduk di kursi penumpang dan satu perawat duduk di kursi belakang. Memastikan infus tetap terpasang dan bekerja dengan baik selama perjalanan. Meski dalam kondisi lemah, Ningrum banyak bertukar kata tak seperti biasanya, bahkan bercanda tawa.


“Dulu, kita juga begitu. Mirip sekali.” Ningrum menunjuk ke kaca jendela mobil saat melintas sebuah motor bebek yang ditumpangi satu keluarga.

__ADS_1


“Apanya yang mirip?” jawab Anggi yang sejak tadi memeluk ibunya. Tak ingin melepas maupun bergeser sedikit pun.


“Mungkin kamu tidak ingat karena saat itu masih balita. Bapakmu yang membawa motor. Ayu duduk di depan sedangkan kamu ingin berdiri di tengah dipegangi ibu. Kita sering pergi di Sabtu sore untuk sekadar berjalan-jalan membeli kuliner pinggir jalan. Sangat menyenangkan.”


Obrolan berlanjut menemani perjalanan. Anggi menanggapi dengan ceria dan Juna ikut menimpali dengan candaan. Membangun atmosfer hangat seolah tak terjadi apa-apa meskipun sebah memenuhi dada.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit. Mereka sampai di sebuah toko kue yang dimaksud Ningrum. Sebuah toko kue eksklusif yang membanderol kue buatannya dengan harga yang terbilang mahal. Juna menggendong mertuanya untuk didudukkan di kursi roda dan mendorongnya masuk.


“Ibu ingin beli kue apa?” tanya Juna begitu mereka sudah masuk ke dalam. Berhenti di jejeran etalase juga pendingin transparan yang memajang berbagai macam kue. Mulai dari tart, roti juga cookies.


“Ibu ingin membeli kue yang itu,” jawabnya mantap. Ningrum mengarahkan telunjuknya ke arah kue tart ulang tahun yang didekorasi karakter putri-putri Disney di dalam pendingin.


Anggi mengerutkan kening. “Benar yang itu?” Ia berpandangan dengan Juna merasa keheranan.


“Iya yang itu, dan Ibu ingin membelinya dengan uang Ibu sendiri.” Ningrum merogoh saku bajunya yang ternyata di dalamnya terdapat lembaran uang ratusan ribu yang dipintal-pintal.


“Jangan, Ibu boleh beli kue mana pun yang Ibu mau, kok. Aku yang akan membelikannya.” Anggi memegang tangan ibunya yang tengah menghitung uang.

__ADS_1


Ningrum menggeleng. “Sudah lama sekali Ibu ingin membelinya. Dulu, Ayu pernah dibelikan kue ulang tahun satu kali oleh bapak sedangkan kamu belum pernah sama sekali karena bapak keburu jatuh sakit. Jadi, sekarang Ibu ingin membelikannya walaupun ulang tahunmu masih lama. Ibu merasa tidak adil jika belum melakukannya. Tolong, biarkan Ibu membelikannya untuk kamu. Membelikan yang terbaik yang Ibu bisa, seperti kamu yang selalu memberikan yang terbaik untuk Ibu, Anggita.”


Bersambung.


__ADS_2