Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 68b


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 68 b


Sepeninggal Anggi, Ayu keluar dari kamar, menuju dapur untuk mengambil air hangat dan meneguk obat pereda mual lantaran perutnya kembali bergolak meski tak hebat.


Saat hendak masuk kembali ke dalam kamarnya, kakinya terhenti ketika matanya menemukan jam tangan mewah Anggi yang merupakan arloji couple dengan Juna tergeletak di meja ruang tamu. Ayu celingukan, mengedarkan pandang ke sekitar. Di ruang tamu tidak ada orang karena Anggi dan orang-orang dari rumah sakit sedang berada di kamar ibunya.


Kedua sudut bibirnya naik ke atas. Kakinya berayun cepat. Ayu yang memang sudah terpengaruh dengan pergaulan buruknya membuatnya gelap mata. Sudah tak peduli lagi akan konsekuensi apa pun, yang penting bisa dengan cepat menggenggam uang banyak di tangan.


Dia berniat akan menjualnya untuk melakukan aborsi dan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya yang katanya sosialita. Arloji adiknya ini merupakan barang mewah, jika dijual kembali dengan harga seperempat dari harga asli saja nilainya pasti masih lah sangat tinggi.


"Siapa suruh jadi adik pelit, gak mau kasih duit. Duit banyak juga hemat melulu kerjaannya terus gaulnya kampungan. Dasar bodoh!"


Dengan cepat, Ayu mengambil jam tangan tersebut lalu masuk ke kamarnya. Berdandan cepat dan menyambar salah satu tas miliknya. Berderap pergi dengan mata berbinar, lalu menghubungi teman-temannya.


"Kalian main di mana? Aku ikut."


"Memangnya kamu punya uang? Bukannya sudah beberapa hari ini kamu gak melayani pelanggan? Hutang judimu minggu lalu saja belum lunas. Punya uang dari mana?" tanya suara di seberang telepon.

__ADS_1


"Jangan meremehkanku. Sebutkan saja lokasi kalian sekarang di mana! Aku akan membayar utangku sekarang juga dan ikut main lagi," desak Ayu tak sabaran dan obrolan mereka berlanjut bersama ayunan kaki Ayu yang penuh semangat.


*****


Perawat dan dokter biasanya undur diri setelah pengecekan pagi dan akan datang kembali sore hari untuk memeriksa Ningrum secara berkala.


Namun, pagi ini sebelum dokter undur diri, dia mengatakan kepada Anggi bahwa mulai hari ini perawat akan tetap stand by di rumah dan akan dikirim perawat lainnya untuk aplus.


Anggi tidak bodoh. Ucapan pelan yang disampaikan oleh dokter sesaat setelah keluar dari kamar ibunya merupakan isyarat tersirat bahwa kondisi ibunya kian memburuk.


Tangan Anggi bertumpu pada tembok. Mencari pegangan untuk menopang tubuhnya yang jujur saja terasa lemas. Seolah kekuatan raganya ditarik paksa. Si perawat wanita yang diperintahkan untuk tinggal memegangi Anggi. Paham akan apa yang dirasakan anak dari pasien.


Suara Ningrum yang memanggil memaksa Anggi untuk kembali tegar. Menormalkan raut muka dan segera memasuki kamar.


Hari ini Ningrum terlihat segar. Bahkan pagi-pagi sekali mengeluh lapar setelah Anggi selesai menyeka tubuhnya. Makan bubur dengan lahap saat disuapi dan raut wajahnya berbinar cerah.


Anggi menghibur diri. Semoga saja ini pertanda baik walaupun dokter mendiagnosa demikian. Membesarkan secercah asa di hati Anggi perihal kesembuhan yang terus terkikis.

__ADS_1


"Iya, Bu." Ukiran senyum Anggi paksakan. Duduk di tepi ranjang di mana ibunya berbaring. "Ada apa?" tanyanya lembut.


"Anggi tolong kamu bukakan jendela lebih lebar, Nak. Ibu ingin sinar matahari pagi masuk dengan bebas, juga supaya udara segar tak terhalang masuk. Hari ini udaranya tercium sangat wangi. Sepertinya tanaman di bawah jendela sedang berbunga," pinta Ningrum dengan wajah berseri.


Dibukanya jendela lebih lebar sesuai keinginan ibunya. Jendela kamar Ningrum tepat menghadap teras samping rumah di mana biasanya digunakan untuk menjemur pakaian di sana. Di bawah jendela terdapat beberapa pot-pot tanaman dari tanah liat.


Anggi menurunkan pandangan. Tertegun, keningnya mengernyit, tidak ada satu pun tanaman yang berbunga maupun aroma harum yang menguar dari sana.


"Kenapa diam di situ, Nak? Ayo, ke sini lagi dan tolong ibu untuk bangun."


"Eh, i-iya, Bu." Anggi bersegera membantu ibunya duduk, menata bantal supaya Ningrum bersandar nyaman.


"Duduk di sini." Ningrum menepuk sisi kasurnya.


"Ya?" Anggi mengerjap tak mengerti.


"Duduk di sini, Nak. Ibu ingin menyisir rambutmu dan mengepangnya seperti kesukaanmu sewaktu kecil." Ningrum mengambil sisir yang terselip di bawah bantalnya juga sebuah ikat rambut warna pink bermotif bunga. "Kamu paling cantik saat rambutmu dikepang."

__ADS_1


Untuk sejenak Anggi terdiam, tak lama kemudian menganggukkan kepala. "Baiklah, aku juga paling suka saat ibu menyisir rambutku," jawab Anggi senang. Langsung mendudukkan diri dan membelakangi ibunya.


Bersambung.


__ADS_2