Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 74 a


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 74 a


Bathub di kamar mandi hotel berkecipak airnya. Mereka berdua berendam di lautan air hangat yang bercampur busa sabun selepas kembali saling membelai penuh cinta, penuh puja, dengan ritme lebih lembut beberapa saat lalu. Bukan memburu bak kehausan dan kelaparan akan dahaga penyatuan seperti yang sebelumnya.


Juna duduk bersandar pada sisi bathtub sedangkan Anggi duduk membelakangi. Membiarkan Juna menggosok punggungnya walaupun sesekali tangan suaminya itu merayap nakal ke tempat-tempat yang menggetarkan impuls saraf sekujur raga dengan alasan tak sengaja.


"Mas, gosok yang benar, dong." Mulut Anggi meluncurkan protes sembari terkikik geli karena selain berulah, jari-jemari Juna juga malah menggelitikinya.


"Ini juga sudah benar, Mama baby. Papa hanya membersihkan secara saksama saja," sahutnya berkilah, sama-sama menderaikan tawa.


"Mau makan malam di kamar atau turun ke bawah di restoran?" tanya Juna.


"Terserah, Mas. Tapi, aku inginnya makan malam di restoran saja. Karena kalau di kamar, yang ada Mas bukannya makan hidangan tapi malah makan aku," sahut Anggi seraya terkekeh.


"Akh, kamu benar. Kamu akan selalu terlihat lebih lezat dari hidangan apa pun jika kita makan malam di kamar. Dan aku akan lebih tertarik melahapmu daripada menu makanan yang disajikan," jawabnya lugas tak merasa malu sedikit pun yang disusul kecupan sayang di pipi Anggi.

__ADS_1


"Mas, bisakah sebentar saja berhenti menjadi mesum?" goda Anggi.


"Mungkin, aku ini memang benar sudah terkontaminasi virus bucin seperti kata Pandu, sebab aku tak bisa berhenti untuk mesum padamu. Saat bersamamu aku selalu lepas kendali, tak bisa menghentikan hasrat itu," bisiknya sensual ke telinga Anggi, lalu menarik Anggi supaya punggung istrinya itu lebih merapat ke dadanya.


Anggi menoleh, menggeser duduknya mencari posisi bersandar yang tepat supaya bisa saling bertatapan. "Sepertinya, aku juga terkena virus yang sama. Mungkinkah, Mas yang menularkannya padaku?" ujarnya sembari menatap Juna dalam rona bahagia yang terpancar dari mata juga ukiran lengkung di rautnya yang jelita.


Juna memicing dengan senyum dikulum. Rasa bahagia saling mencinta membanjiri nadi, membuncah dalam dada, meluap dalam sukma.


"Sepertinya begitu, dan penawar virusku adalah kamu, Mama baby." Juna mengecup hidung Anggi mesra.


Senyum Juna mengembang. Lengan kanannya merangkul Anggi kian dekat, sedangkan telapak yang satu lagu menyusuri pipi mulus wanita yang dipeluknya. Ibu jarinya menyapu bibir, kemudian sedikit menarik dagu Anggi pelan agar bibir merah istrinya terbuka celahnya.


"We are each other's vaccine," desahnya serak dan di detik berikutnya Juna meraup bibir merah Anggi dalam pagutan, mencerup penuh cinta yang dibalas Anggi dengan rasa yang sama.


*****

__ADS_1


"Jikalau mau menunggu di kamar silakan. Khawatir Pak Juna dan Bu Anggi masih lama pulangnya. Sudah saya rapikan, mungkin mau beristirahat dulu sambil menunggu. Perjalanan dari Bali pasti melelahkan," kata Bik Tiyas sopan sembari menyajikan dua cangkir teh hangat untuk Maharani dan Barata ditemani beberapa kudapan kecil juga cookies ke atas meja.


"Enggak usah, Bik, makasih. Aku mau tunggu Juna di sini saja. Lagi pula, aku dan Mas Bara sudah menyewa hotel untuk menginap malam ini," jawabnya sembari mengulas senyum tipis.


Jawaban Maharani membuat Bik Tiyas melongo. Maharani mengucapkan terima kasih merupakan hal yang amat langka, terlebih lagi sekarang ditambah tersenyum padanya.


"Iya, Bik. Kami tunggu di sini saja. Tidak apa-apa walaupun menunggu lama. Iya kan, Sayang?" timpal Bara yang diangguki oleh Maharani. Duduk bersisian dengan istrinya itu tanpa melepaskan rangkulan lengannya di pinggang Maharani.


Untuk sejenak Bik Tiyas tertegun melihat interaksi manis di hadapannya.


"Ba-baiklah kalau begitu. Jika butuh sesuatu, silakan panggil saya atau Lina."


"Makasih, Bik."


Lagi-lagi respons Maharani membuat Bik Tiyas terbengong-bengong. Segera undur diri untuk kembali ke area belakang rumah sembari memeluk nampan masih dipenuhi rasa keheranan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2