
Istri Arjuna 30a
Bergelut dengan pikirannya, Anggi beringsut duduk dan melirik nampan di nakas. Tak ingin disiksa rasa bersalah yang semakin dalam pada si jabang bayi yang hampir saja dibuangnya akibat tergerus pikiran buntu, diambilnya mangkuk bubur kentang yang tadi ditolaknya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Anggi menyumpalkan sesendok ke mulutnya. Meski indra pengecapnya terasa hambar, ia memaksakan giginya mengunyah, lalu mendorong susah payah melewati kerongkongan untuk menelan. Beberapa suap berhasil ditelan dan di suapan ke tujuh ia menyerah, merasa tak sanggup lagi.
Diusapnya lembut perut bagian bawahnya. Tenggorokannya tercekat. Perih menyembilu itu lagi-lagi terasa kala terngiang kembali kemungkinan buah hatinya hadir ketika Juna mendesahkan nama wanita lain. Juna menyebut namanya saat meraih puncak kenikmatan baru sekali saja, ketika mereka melebur di Bandung minggu lalu. Satu-satunya peleburan yang mungkin layak dinamai bercinta sedangkan sisanya hanya pantas disebut bersenggama.
Anggi tengah bertanya pada dirinya sendiri, mampukah ia menanggung beban nestapa itu dan menyingkirkan bayang-bayang yang menghantui dalam perjalanan panjangnya memberikan hak si janin yang dihadiahkan padanya untuk tumbuh dan lahir ke dunia?
Kendati hampir gila rasanya kala terus memikirkannya, Anggi tahu si jabang bayi tak berdosa memiliki hak untuk hidup. Meski sempat berpikiran pendek, tetap saja pada akhirnya ia tak sampai hati. Terlebih lagi mimpi tadi malam seolah merupakan teguran keras untuknya. Anaknya yang tidak bersalah memohon diberi kesempatan hidup padanya. Setidaknya Juna juga tidak menolak kehadiran janin ini dan mati-matian ingin mempertahankannya, meskipun ragu suaminya itu akan mencintai dan menyayangi anak ini nantinya.
Namun, untuk kuat menghadapi jalan terjal ini ia butuh pegangan yang kokoh untuk menguatkan tekadnya yang masihlah rapuh dan terkadang timbul tenggelam. Lantas, ke mana kah dirinya harus berpegangan sekarang?
Anggi merasa sebatang kara. Tak memiliki tempat berkeluh kesah, tak punya sandaran dan pengharapan penghiburan selain dirinya sendiri. Ibunya yang sedang sakit, tidak mungkin dijadikan tempat menumpahkan segala derita yang ditanggungnya. Terlebih lagi kakaknya yang hanya menganggapnya ATM berjalan.
“Kita berjuang bersama. Bantu Mama untuk menjadi lebih kuat, anakku,” gumamnya parau bersama kristal bening yang kembali mengalir.
__ADS_1
Juna tak jadi mendorong pintu kamarnya lebih lebar. Dari celah yang terbuka sedikit itu, dia melihat Anggi tengah memakan sarapannya meskipun tampak kepayahan. Inginnya merangsek masuk, tetapi Juna tak mau mengganggu ketenangan istrinya yang sedang mengisi perut setelah tadi Anggi menolak mentah-mentah semua sajian di nampan.
Mata elangnya mengamati, memindai tajam. Seberkas senyum terukir di wajah tampannya yang lebih sering memasang raut mengintimidasi, saat melihat Anggi meminum obat juga vitaminnya walaupun tampak kesulitan menelan. Ditutupkannya kembali pintu kamar perlahan. Juna memilih turun dan menunggu Pandu di ruang kerja.
“Pak, untuk perjalanan ke Eropa bersama Menteri Perdagangan akan berlangsung sekitar sepuluh hari. Jadwal keberangkatan tiga minggu dari sekarang. Ini agenda lengkapnya.”
Pandu menaruh agenda kegiatan sang bos ke atas meja. Sudah hampir satu jam mereka tengah berdiskusi mengenai masalah perusahaan di ruang kerja.
“Hampir saja aku lupa. Terima kasih, Pandu,” ucap Juna sungguh-sungguh.
Dia membaca susunan agenda lawatan ke luar negeri yang telah disepakati. Mendadak, ibarat ada godam berdentam memukul rongga dadanya. Baru teringat bahwa kesempatan langka yang didapatnya ini tidak luput dari peranan Anggi di dalamnya. Ketika di Bandung, istrinya itu berhasil menempatkan dirinya dalam keberuntungan.
Rasa berdebar bernama cinta, mungkin memang tidak mudah dihadirkan di antara mereka, tetapi Anggi selalu berusaha menempatkan diri sebagai istri yang seharusnya di mana pun berada. Melayaninya baik di luar rumah maupun di tempat tidur. Setiap malam mempersembahkan surga dunia untuknya, tetapi justru dirinya menghadiahkan neraka.
“Pak, Pak Presdir?”
Pandu memanggil agak kencang. Juna sedang larut dalam lamunannya ketika Pandu menjelaskan panjang lebar tentang pekerjaan. Menatap kosong lantaran pikirannya tengah berkelana.
__ADS_1
“Pak Presdir?”
Sekali lagi Pandu memanggil dan kali ini berhasil menarik kembali fokus Juna yang sempat buyar.
“Ya,” jawabnya.
“Begini, Pak. Untuk kunjungan ke Eropa, apakah Bu Anggi akan ikut? Menurut informasi yang saya dapat, peserta lain memboyong keluarga mereka ikut serta dalam acara kali ini. Akan ada acara family gathering nantinya di sana. Jika Bu Anggi akan ikut, saya akan menyiapkan semua keperluannya juga untuk disertakan dalam laporan pada pihak panitia dari kementerian perdagangan.”
Juna tampak menimbang. Meninggalkan Anggi di rumah bukanlah ide bagus, bagaimana kalau istrinya itu berbuat nekat lagi di saat dia sedang berada jauh dari rumah.
“Apakah perjalanan jauh begini aman untuk ibu hamil?” tanya Juna kemudian.
“Mengenai hal itu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan dulu, Pak. Agar tidak keliru mengambil keputusan.” Pandu memberi saran.
Juna mengangguk tanda setuju. “Kamu benar. Tapi untuk sementara. Siapkan saja keperluan untuk Anggi pergi ke sana dari sekarang untuk berjaga-jaga. Bila mendadak, khawatir terkendala waktu yang semakin mendesak.”
“Baik, Pak.”
__ADS_1
TBC