Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 32b


__ADS_3

Istri Arjuna 32b


Ruangan paling besar berdesain mewah yang terletak di lantai enam belas kantor Royal Textile itu merupakan ruangan sang presdir. Luasnya mencakup separuh dari lantai enam belas tersebut. Terhubung langsung dengan lift eksekutif yang dikhususkan untuk pimpinan juga keluarga Syailendra serta beberapa petinggi perusahaan.


Anggi melihat-lihat di dalam ruangan kebesaran suaminya itu. Sentuhan mewah kental terasa di setiap sudut. Mulai dari interior sampai furnitur, semuanya dipastikan memiliki kualitas tinggi. Ini merupakan kali kedua Anggi masuk ke sini. Pertama saat ia masih bekerja di Royal Textile dan kali keduanya adalah sekarang.


Suaminya ini mutlak berbalut kemewahan sejak lahir. Bukan hanya dari aura dan pembungkus raga yang dipakainya, tetapi juga dari silsilahnya. Semua keluarganya merupakan pengusaha turun temurun dari nenek moyangnya. Belakangan, Anggi juga baru mengetahui, bahkan teman-teman sekolah Juna pun kebanyakan anak-anak dari kalangan para pengusaha tak terkecuali Viona. Tepatnya setelah acara seminar di Hotel Padma di Bandung. Beberapa rekan Juna beserta istri mereka sempat menyapa dan bercengkerama singkat dengannya, membahas beberapa topik obrolan seputar nostalgia masa muda.


Puas melihat-lihat, Anggi menatap ke luar melalui kaca tembus pandang luas nan besar yang terdapat di belakang kursi kebesaran Juna. Ia berdiri di sana dengan pikiran menerawang. Orang-orang pasti mengira nasibnya begitu beruntung termasuk Fania. Laksana Cinderella yang dipinang pangeran kerajaan. Ia tersenyum getir. Miris akan nasibnya sendiri.


Tentang keberuntungan memang benar adanya. Keluarga Juna bagai penyelamat baginya ketika keluarganya terperosok dalam kesusahan. Bukan hanya biaya pengobatan sang ibu, bahkan ternyata biaya kuliahnya pun tak luput dari turut campur keluarga suaminya itu. Seolah dirinya memang sudah terikat takdir terjebak dalam lingkaran keluarga Arjuna.

__ADS_1


Kala mengetahuinya dari mulut Juna sendiri, ada rasa marah yang menggelegak pada ibunya. Menyayangkan kenapa tidak berterus terang saja. Jika tahu ibunya kesulitan, Anggi pasti akan memilih berhenti kuliah, lebih baik tak usah mengejar angannya menjadi sarjana daripada pada akhirnya ternyata hanya menumpuk hutang budi tak berkesudahan.


Setelah dipikirkan kembali Anggi mencoba memahami dari sudut pandang ibunya, bagaimana pun juga, Ningrum pasti melakukannya karena amat menyayanginya. Hanya saja satu hal yang ibunya tidak ketahui, bahwa imbas dari semua itu harus dibayar mahal olehnya sekarang, ibarat menumbalkan dirinya sendiri sebagai imbalan yang dianggap benda tanpa rasa.


Anggi tak memiliki celah untuk melarikan diri, sudah terlalu banyak jasa yang dilakukan keluarga Juna untuk keluarganya yang berakhir menciptakan jeruji dalam hidupnya. Setidaknya walaupun tak berpunya dalam urusan harta, ia masih memiliki martabat dengan menjadi manusia yang tahu terima kasih.


Mendesah resah, Anggi mulai dilanda kegamangan lain. Akhir-akhir ini setelah Juna mengetahui keberadaan keturunannya sedang bertumbuh di rahimnya, Anggi merasakan pria yang menikahinya itu mulai menurunkan ego. Ia juga tidak buta rasa maupun netra. Mampu merasakan dan melihat perubahan sikap Juna menjadi lebih lunak dan hangat padanya kendati masih terbalut sisi otoriter. Padahal akhir-akhir ini ia sering membangkang keras dengan nada ketus.


Jujur saja, dulu saat menikah dengan Juna, Anggi memiliki banyak harapan indah meski mereka menikah melalui perjodohan. Mengingat bagaimana baiknya keluarga Juna juga santunnya calon suaminya itu ketika meminangnya. Wanita mana pun pasti tergerak hati, pria dambaan para kaum hawa di tempatnya bekerja memintanya untuk menjadi istri. Tak pernah terlintas bahwa ternyata di balik pesona Juna yang cerdas dan santun tersimpan sisi pribadi tempramental.


Anggi melirik jam antik yang tertanam di dinding. Sudah satu jam berlalu Juna meninggalkannya di dalam ruangan besar ini. Lelah dengan pikirannya yang bergelut tiada henti, Anggi memilih berbaring di sofa meskipun ada kamar khusus di ruangan tersebut. Berseru pada otak dan tubuhnya untuk beristirahat sejenak dari peliknya permasalahan hidup yang dialaminya.

__ADS_1


“Maaf, Mama terlalu banyak mengajakmu berpikir,” gumam Anggi pelan seraya mengusap perutnya penuh sayang. “Ayo, kita istirahat sebentar.”


*****


“Pak, mengenai kunjungan pemantauan pembangunan pabrik baru, apakah lusa Anda akan ikut meninjau langsung ke Pekalongan?” tanya Pandu yang mengekori Juna keluar dari ruang rapat.


“Aku percayakan semuanya padamu. Bila perlu cari satu asisten lagi untukmu membantu pekerjaan. Aku tidak bisa meninggalkan istriku bepergian ke luar kota untuk sekarang-sekarang ini. Jadi, uruslah sebaik mungkin. Aku mengandalkanmu.”


Juna mendorong pintu ruang kebesarannya. Tertegun di ambang pintu dan Pandu ikut melongokkan kepala. Tampak di dalam sana, Anggi tertidur di sofa memeluk dirinya sendiri. Pandu yang asalnya hendak ikut masuk untuk menaruh berkas hasil rapat ke ruangan presdir, mengurungkan niat dan memilih berpamitan untuk mengerjakan hal lain, sedangkan Juna mengayunkan kaki masuk dan menutup pintu perlahan.


Diaturnya suhu ruangan yang mungkin terlalu rendah saat melihat Anggi seperti menggigil. Membuka jas dan menyelimutkannya pada wanita yang terlelap itu.

__ADS_1


Semenjak mengetahui istrinya itu mengandung anaknya, entah mengapa perhatian Juna terus ingin berpusat pada Anggi. Senyumnya terbit setelah puas menatap wajah cantik yang begitu murni itu. Melesakkan diri duduk di dekat kaki Anggi dan menghubungi Wulan untuk mengatur ulang jadwal bertemu dokter kandungan. Meminta dipindahkan besok pagi saja. Tak ingin membangunkan Anggi yang kini pulas tertidur.


TBC


__ADS_2