Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 53a


__ADS_3

Halo para pembacaku tersayang, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia di mana pun berada ya. Terima kasih kepada kalian yang selalu mengikuti cerita Anggita-Arjuna. Jangan lupa dukung terus dengan mengapresiasi karya melalui vote, hadiah juga like. Thank you & love you đź’ś.


Follow juga akun instagramku untuk mengetahui seputar cerita-cerita yang aku tulis @Senjahari2412.


Happy Monday đź’•.


Istri Arjuna bab 53a


Pukul tujuh malam, ruang rawat inap Anggi dipenuhi orang-orang yang menjenguk. Jejeran petinggi Royal Textile mendominasi. Datang berduyun-duyun menjenguk istri presdir mereka membawa berbagai macam buah tangan.


Ada yang tulus menjenguk disertai do’a dipanjatkan, ada pula yang datang terselubung maksud lain. Modus yang sudah tak asing lagi bagi Juna, yakni mencari muka. Fania juga datang. Menyapa Anggi dengan ramah tak seperti biasanya. Datang digandeng kepala divisi pemasaran yang kabarnya-baru-baru ini menduda. Sepertinya Hendrik si mantan pacar Anggi yang direbut Fania telah didepak.


Marina beserta Ningrum ikut menyapa para tamu yang membesuk juga mengucap terima kasih penuh syukur. Amat bahagia saat anak-anak mereka banyak yang menyayangi.


Sementara Ayu, kakaknya Anggi yang setengah jam lalu datang mengantar ibunya karena bersikeras ingin membawakan makanan yang dimasak sendiri untuk si bungsu , duduk di kursi yang terletak agak jauh dari ranjang dan sofa, tepatnya di sudut dekat jendela. Hanya sesekali tersenyum dipaksakan. Berdecih sinis tanpa suara. Sebal dan kesal sendiri melihat perhatian yang tercurah untuk adiknya dari semua orang.


“Cuma karena lagi hamil saja semua orang pada lebay! Memangnya apa sih hebatnya bunting? Aku juga bisa, gampang!” dengusnya pelan dengan mulut komat kamit mengabsen kedengkian.


Setelah semua jejeran Royal Textile undur diri, giliran para sahabat Anggi yang datang menjenguk. Juna tak menjauh seinci pun dari sisi ranjang sejak banyaknya tamu berdatangan. Menjaga Anggi posesif, memperlakukan istrinya laksana kaca tipis rapuh yang khawatir pecah jika tersentuh sedikit saja, tak ubahnya sang pengawal yang tengah menjaga sang nona.


“Berarti sewaktu kita ketemu di butik, kamu sudah isi iya kan? Kenapa enggak bilang-bilang sih, kalau sedang hamil? Punya kabar gembira enggak bagi-bagi,” protes Dara cemberut tak terima.


Dara bersama Freya bersedekap melayangkan protes. Dokter Wira yang merupakan pemilik rumah sakit juga suaminya Dara, ikut menjenguk menemani sang istri. Sama-sama posesif terhadap istrinya yang kini sedang mengandung anak kedua. Tak ada bedanya dengan Juna, bersiaga di dekat istri masing-masing bak pengawal paspampres.


“Sorry. Waktu itu saking senangnya ketemu kalian, aku sampai lupa bilang,” sahut Anggi dengan wajah memelas. “Maafin ya, please.”


“Iya deh, dimaafin. Terus, katanya kamu dirawat gara-gara jatuh? Kok bisa, kenapa enggak hati-hati sih?” Giliran Freya yang mengomel. Si tomboi Freya yang sewaktu kuliah merupakan penjaga Dara dan Anggi ini memicing galak pada Anggi. Marah juga khawatir. Begitulah Freya.


“Ish. Calon manten enggak boleh sewot dan sering mengomel. Nanti auranya berkurang sinarnya,” sahut Anggi sembari memasang senyum termanisnya.

__ADS_1


Di saat tiga sekawan itu bertukar kata. Wira menggeser posisinya, membiarkan para wanita bercengkerama. Wira beralih menyapa Juna, kebetulan mereka pernah bertemu beberapa kali sebelumnya.


“Pak Arjuna. Sekiranya ada kritik dan saran mengenai rumah sakit kami, silakan disampaikan. Boleh langsung pada saya mau pun kepada para dokter dan staf. Demi kemajuan rumah sakit. Jangan sungkan. Barangkali ada yang kurang maupun tidak berkenan dengan pelayanan Satya Medika,” jelas Wira.


“Saya sangat puas. Pelayanan di rumah sakit ini sigap dan cepat tanggap. Semua fasilitasnya pun patut diacungi jempol. Ke depannya saya berminat berbincang lebih lanjut. Saya tertarik ingin bekerja sama dengan Satya Medika sebagai mitra rujukan rumah sakit bagi para karyawan Royal Textile.” Juna menjawab penuh kepuasan di raut wajahnya.


Obrolan berlanjut hingga di pukul delapan malam di mana semua yang membesuk diharuskan pulang. Anggi berpelukan dengan kedua sahabatnya sebelum mereka berpamitan.


Ayu bersama Ningrum juga undur diri. Semula Ningrum ingin menemani menginap, tetapi setelah Anggi membujuk lantaran khawatir dengan kesehatan ibunya yang rentan, akhirnya Ningrum bersedia pulang bersama Ayu yang tak henti memasang raut ketus sepanjang waktu di rumah sakit.


“Mami juga pulanglah bersama Bang Bara. Lebih baik istirahat di rumah, demi kesehatan Mami. Mbak Rani juga lagi kurang sehat, kan. Tahu sendiri bagaimana rewelnya Mbak Rani kalau sakit tidak ada Mami,” bujuk Juna pada Marina yang baru kembali dari lobi setelah mengantar sang besan.


Barata datang bersama Marina tanpa Maharani. Saat Juna bertanya tentang sang kakak, Marina mengatakan bahwa Maharani tidak ikut sebab sedang tidak enak badan.


“Kamu yakin bisa menjaga Anggi?” tanya Marina ragu.


“Mami jangan risau. Aku lebih dari bisa,” imbuh Juna meyakinkan, penuh percaya diri.


Marina menghampiri ranjang di mana Anggi berbaring. Mengusap sayang kepala Anggi sebelum pergi. “Mami pulang dulu. Lekas sembuh, Nak. ”


“Makasih, Mi.”


“Aku antar sampai coffe shop.” Juna bangkit dari duduknya.


“Sudah, tidak perlu. Kamu jaga saja istrimu.”


Setelah mengantar Marina hingga pintu depan kamar, Juna memastikan Anggi berbaring nyaman. Mengatur tinggi bantal juga menyelimuti. Memeriksa cairan infus lalu mematikan lampu utama. Menyisakan lampu tidur yang terdapat di kepala ranjang.


Juna duduk di kursi yang diletakkan di samping ranjang. Membelai lembut kepala Anggi kemudian mengecup keningnya mesra. “Ayo, tidur. Sudah jam Sembilan. Kamu harus istirahat.”

__ADS_1


Anggi malah mengigit bibir. Ingin mengatakan sesuatu, hanya saja mendadak terasa canggung. Pipinya memanas begitu saja saat ingin berucap suatu hal yang tertahan di lidah. Padahal hal tersebut tidak lah baru bagi mereka berdua, tetapi setelah saling mengungkapkan isi hati beberapa jam lalu, ada yang berbeda. Salah satunya Anggi jadi mudah merona.


“Ada apa?” Juna bertanya saat menangkap ekspresi lain dari istrinya itu yang tampak ingin berucap namun tertahan ragu.


“Ehm. Be-begini.” Anggi berdehem padahal tenggorokannya baik-baik saja.


“Kenapa, hmm?" sambung Juna lagi.


“A-aku. Aku ingin tidur sambil di-dipeluk,” cicitnya sangat pelan hampir tak terdengar. Anggi menahan rasa malu saat mengucapkannya. Takut dianggap murahan juga haus belaian, tetapi rasa ingin tidur dalam dekapan lengan jantan itu mendorongnya untuk berterus terang.


Juna terdiam sesaat, lalu tak lama tersenyum lebar. Anggi yang tersipu amat mengemaskan. Malu-mau dengan pipi merona. Pernyataan cinta membuat banyak hal terasa berbeda. Segala sesuatunya menjadi lebih bermakna.


“Bagaimana kalau tidurmu jadi tak nyaman? ranjangnya pasti sempit kalau harus berbagi denganku?”


“Tapi, kemarin malam juga bisa. Terus, Mas juga pasti enggak nyaman kan tidur di kursi 'kan?" sambar Anggi cepat.


Anggi terhenyak. Malah terkejut akan reaksi spontannya. Merutuki diri dalam hati. Jengkel sendiri lantaran tidak bisa menjaga image sedikit saja. Amat kentara sangat ingin dipeluk.


Juna terkekeh. Kemudian membungkuk mengecup bibir merah si wanita yang sedang komat-kamit itu. “Dengan senang hati. Aku akan memelukmu sebanyak yang kamu mau, sampai kamu bosan.”


Juna naik ke atas ranjang dan berbaring hati-hati. Merangkul Anggi ke dalam pelukan. Anggi berusaha mengontrol rasa senang bercampur malu kendati sulit dikompromi. Menyembunyikan wajah ke dada bidang Juna tak ingin rona merahnya tampak jelas.


“Akh, kenapa kamu membangunkannya?" bisik Juna setengah mengeluh pada Anggi yang terus sibuk menenggelamkan wajah di dada bidangnya. Akibat pergesekan raga yang begitu dekat, menciptakan reaksi lain yang sulit Juna hindari.


Anggi mendongak. “Eh, siapa yang bangun?” tanyanya tak mengerti.


Juna menaik turunkan alis. “Bagian diriku yang sudah lama rindu berat sama kamu,” desis Juna sensual sambil menatap penuh minat.


Paras Anggi langsung merah padam seutuhnya saat mengerti apa yang Juna maksud.

__ADS_1


“Mas!” serunya seraya melotot galak. Kesal juga malu.


TBC


__ADS_2