
"Makanya, Papa. Kalau ngobrol sama anak kecil itu jangan asbun. Bingung sendiri kan jadinya," cibir Anggi puas begitu melihat Juna keluar dari ruang ganti. Terkikik geli sembari menata bantal juga guling di peraduan. Bersiap beristirahat setelah memastikan putra tampan mereka tertidur pulas.
"Puas banget kayaknya?" imbuh Juna yang baru selesai mandi dan berganti pakaian dengan piyama. Dia melipat kedua lengan, menyandarkan bahu kanan di dinding dan matanya lurus melahap kemolekan juga kecantikan sang istri yang selalu berkali-kali lipat semakin mempesona di bawah cahaya temaram.
Anggi menoleh. "Iya dong, Papa. Adegan senjata makan tuan tadi itu, benar-benar seru. Lebih seru dari film Iron Man," ejek Anggi nyengir.
Juna tergelak ringan lalu memicing. Mengamati ibu dari anaknya yang sedari tadi mengejeknya. Dulu, mungkin Juna akan murka, tetapi setelah hati mengerasnya dilembutkan oleh debaran rasa yang bersemi untuk wanita hebat bermental baja ini, kini di matanya Anggi malah semakin menggemaskan saja di saat-saat seperti ini.
Anggi terperanjat saat Juna menerkam punggung dan memerangkap tubuhnya terjebak di antara kedua lengan. Bertubi-tubi mendaratkan bibir, menciumi tengkuk Anggi, merambat ke cuping telinga hingga mencapai sisi leher membuat si empunya kegelian.
__ADS_1
"Ahaha ... udah, Mas. Ampun, geli." Anggi tertawa renyah sembari meronta sebab tak tahan dengan rasa geli dari sisa cukuran janggut di dagu Juna yang menggesek kulit lehernya.
"Enggak mau. Kamu nakal, jadi harus diberi hukuman," desis Juna seraya terkekeh, kemudian melanjutkan kembali acara menggoda istrinya, bahkan kini tangannya ikut berpartisipasi menggelitiki perut Anggi.
Gerakan Anggi yang meronta berpadu gelak tawa,menggeliat tak tentu arah. Menyebabkan sebelah tangan Juna yang sedang menggelitiki perutnya malah menyapu sepasang aset membusung.
Juna menggeram, tersulut sesuatu. Telapak tangannya dapat merasakan kalau Anggi tidak memakai bra di balik gaun tidurnya. Terbukti dari puncaknya yang mencuat langsung teraba jelas. Kepalang tanggung, Juna malah membelai usil di sana.
"Hei, enak aja. Si-siapa yang menggoda. Bi-bilang aja ular berbisamu itu yang baperan," sanggah Anggi saat merasakan bukti gairah Juna yang masih terperangkap sangkar bersentuhan dengan pinggulnya. Ia mulai terengah, sentuhan Juna terlalu ahli, selalu sukses membuatnya lupa diri.
__ADS_1
"Tapi dia cuma baper akut sama kamu. Sepertinya dia ingin mengeluarkan bisanya sekarang, Mama," erang Juna, suaranya kian berat memburu.
"Eh, tu-tunggu dulu. A-aku mau bilang se-sesuatu." Anggi berusaha menghentikan kegiatan Juna walaupun dirinya sendiri sudah ikut tergerus arus memanas. Kendati sedang ada hal penting yang hendak disampaikan, tubuhnya bereaksi normal walaupun belum siap, bergerak gelisah terpancing gairah.
"Kira bicara nanti saja," sahut Juna serak dan sekarang bibirnya menyesap meninggalkan jejak. "Ada yang lebih penting yang harus dituntaskan."
Gerakan Juna makin merajalela, sementara bibirnya sibuk mencumbu leher, kedua tangannya menyusup ke balik gaun tidur sepaha yang dipakai Anggi. Lolong erangan Anggi akhirnya lolos juga. Daksa mereka memanglah ibarat magnet dengan logam setiap kali berdekatan.
Bibir Anggi yang terbuka tak disia-siakan. Meraih pipi Anggi supaya menoleh padanya yang masih dalam posisi memeluk dari belakang, Juna menunduk melabuhkan ciuman. Mengaburkan nalar Anggi dan entah kapan dimulainya, tahu-tahu Juna sudah meleburkan diri dengannya. Saling berkejaran, meraih gelenyar yang berserak merambati seluruh raga hingga berkumpul. Bersatu padu dalam teriakan juga ledakan pesta pora kala pacuan usai.
__ADS_1
Author note:
Halo para pembacaku tersayang. Terima kasih selalu setia menantikan kisah Anggita-Arjuna. Jangan lupa dukungannya berupa vote, like dan komentar juga. Semoga selalu sehat dan bahagia. di manapun berada. Tetap jaga kondisi dan kesehatan ya. Love 💜.