
Istri Arjuna Bab 50a
Pukul delapan pagi, Dokter Raisa kembali memeriksa kondisi Anggi. Raut si dokter nyentrik itu tampak lega setelah memeriksa secara saksama.
“Syukurlah. Bayi kalian kuat kendati terindikasi ibunya mendarat cukup keras di lantai. Terlihat dari jejak lebam di bagian tubuh belakang Bu Anggita,” jelas Raisa setelah menyelesaikan tugasnya.
“Lebam?” tanya Juna terkejut dengan kedua alis mengkerut hampir menyatu. Sepertinya semalam pembahasan tentang lebam ini terlewatkan. Kecemasan yang sempat meregangkan cengkeramannya, kini kembali mencekik menyerbu.
“Mas, tenanglah.” Anggi memegang lengan Juna dan meremasnya lembut.
“Apakah itu berbahaya?” tanya Juna kepada Raisa dengan bola mata bergulir tak tenang.
“Lebamnya memang tidak terlalu berbahaya. Kandungan dan janin juga semuanya baik, hanya saja ibunya pasti terkejut dan tetap masih harus dipantau intensif, khawatir terjadi reaksi lain efek dari benturan di kepala juga di bagian belakang tubuh. Disarankan dirawat inap minimal tiga hari, untuk memudahkan pemantauan yang harus dilakukan sampai tiga hari ke depan. Guna memastikan semuanya benar-benar baik dan tidak menyisakan efek buruk.” Raisa bertutur menerangkan panjang lebar.
“Lakukan yang terbaik, Dok. Bila perlu saya akan menyewa kamar VVIP ini untuk sebulan penuh agar istri dan anak saya mendapatkan perawatan dan penanganan terbaik langsung di bawah pantauan Anda.”
__ADS_1
“Mas! Ucapan adalah do’a. lagi pula aku tidak mau berlama-lama di rumah sakit!” protes Anggi cepat. Sungguh berlebihan rasanya saat dokter menyarankan untuk rawat inap dalam hitungan hari, tetapi suaminya malah meminta satu bulan penuh seumpama menyewa tempat liburan.
“Tapi jika itu diperlukan, aku akan benar-benar melakukannya. Aku hanya takut hal yang tidak diinginkan terjadi padamu dan bayi kita setelah insiden kemarin malam. Bahkan kamu sampai pingsan Anggita. Kamu tidak tahu aku hampir gila mendengarnya saat mengetahui kamu jatuh hingga berakhir tak sadarkan diri!” jelas Juna tak menyembunyikan rasa khawatir yang sejak semalam merantainya kuat.
Anggi ternganga tak mampu berkata-kata. Suaminya menjadi super sewot sekarang melebihi ibu-ibu yang menawar harga sayuran di tukang sayur keliling.
“Tiga hari sudah cukup untuk observasi, Pak Arjuna,” sahut Raisa ambil terkekeh pelan. Mengulum senyum penuh pemakluman akan reaksi si calon ayah yang sejak tadi tak mau menjauh dari sisi Anggi selama pemeriksaan berlangsung. Raisa sempat gemas sendiri karena Juna sedikit menghambat pekerjaannya. Namun, hal seperti ini sudah sering dijumpainya. Terlebih lagi jika yang dikandung adalah anak pertama.
“Pastikan lagi hanya perawatan terbaik yang diberikan untuk istri dan anak saya, Dok.” Lagi-lagi Juna menekankan poin tersebut, seolah takut jika dokter lupa dengan permintaanya yang lebih terdengar serupa perintah.
“Di bagian mana lebamnya? Perawatnya perempuan atau laki-laki?” sambar Juna cepat.
“Lebamnya di bagian bokong kanan lebih ke samping, dan perawatnya perempuan."
Mendengar kata bokong dan menyeka seluruh tubuh, mata Juna membola sempurna. Mendadak dadanya bergolak panas merasa tak rela kalau lekuk indah gitar spanyol istrinya disentuh dan dilihat orang lain sekalipun perawatnya wanita, padahal semua itu hanya untuk keperluan medis, baginya cukup Raisa saja yang pernah melihat untuk saat ini.
__ADS_1
“Tidak perlu tugaskan perawat. Perihal mengoleskan obat lebam juga menyeka, saya sendiri yang akan melakukannya,” pintanya dengan nada memaksa.
Awalnya Raisa agak sangsi. Akan tetapi, setelah menangkap raut posesif dari suami pasien, ia akhirnya memahami maksud dan keinginan Arjuna.
“Baiklah. Saya percayakan pada Anda,” jawab Raisa yang kemudian undur diri dari sana sembari melipat bibir menahan tawa.
“Mas yakin bisa?” tanya Anggi ragu setelah Raisa keluar dari ruang perawatan. “Padahal, biarkan saja perawat yang melakukannya, kenapa malah merepotkan diri sendiri?”
“Tidak boleh!” jawab Juna tegas.
“Memangnya kenapa?” tanya Anggi polos lantaran tak mengerti. "Kalau ada yang mudah kenapa memilih yang susah?"
“Aku tidak suka ada yang menyentuh-nyentuh dan melihat tubuhmu. Cuma aku yang boleh. Jika membiarkan orang lain yang melakukannya aku bisa mati cemburu!” Juna mengaku jujur, kemudian mengedarkan pandangan ke sembarang arah, menghindari bertemu pandang dengan Anggi setelah pengakuan impulsifnya yang sejujurnya membuat dirinya terkejut.
Anggi tercengang. Tak pernah menyangka Juna akan dengan lugas menderaikan kata 'cemburu'. Kalau begitu, bolehkah Anggi menyimpulkan rasa lain yang merecoki rasa khawatir Juna terhadap dirinya? Bukan hanya karena bayinya?
__ADS_1
Bersambung.