
Istri Arjuna BAB 54a
"Welcome home, Honey," ucap Juna pada Anggi begitu kendaraan yang mereka tumpangi memasuki garasi. Kecup hangat menyusul mendarat di pipi.
"Makasih, Mas."
Pintu rumah menjulang yang terbuat dari kayu jati terbaik itu didorong Pak Oman sementara tuannya menggendong Sang Nyonya. Anggi berpegangan erat. Tak ragu lagi menyandarkan diri pada si pria yang sejak tadi menghujani kepalanya dengan kecupan sayang.
"Surpriseeeee."
Kepulangan mereka disambut meriah. Di ruang tamu sudah ada Marina dan Surya. Ada Bik Tiyas juga Lina. Tak ketinggalan dua orang tukang kebun beserta salah satu satpam depan ikut meramaikan.
Ruang tamu didekorasi simple. Balon warna-warni dirangkai dilengkapi pita-pita cantik senada. Beberapa buah cake di meja ikut memeriahkan dengan salah satu yang berukuran paling besar bertuliskan 'selamat datang kembali di rumah'.
Anggi membekap mulut. Terkejut sekaligus senang. Meminta Juna menurunkannya dari gendongan dan langsung memeluk Marina. Surya ikut bergabung, begitu pun Juna. Saling memeluk dengan rona bahagia menghiasi wajah masing-masing.
"Semoga kamu dan bayimu sehat selalu, Nak," cicit Marina setelah pelukan terurai.
"Makasih, Mi. Ini benar-benar kejutan." Anggi tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Tercermin sari senyuman manis yang terus tersungging. Merasa dirinya begitu disayangi. Melengkapi kebahagiaan yang tengah menari di sanubari.
"Hanya kejutan kecil, Nak. Maaf, karena Papi baru datang. Mami tidak memberitahu dan Papi baru mengetahui kamu masuk rumah sakit dari Barata ketika dia dan Rani pulang. Papi terkejut saat mendengar kamu jatuh."
"Maaf, Pi. Semua itu permintaanku. Mami tidak mengabari karena aku yang meminta. Khawatir hipertensi Papi kumat jika mendengar berita mengejutkan." Juna menimpali sambil mengelus bahu sang ayah.
"Papi paham. Tak mengapa, Juna. Tapi lain kali jangan menutupi hal-hal semacam ini dari Papi. Jangan khawatir, kesehatan Papi akhir-akhir ini semakin baik. Mungkin efek dari sebentar lagi akan menimang cucu." Surya berucap semringah. Menularkan kekehan pada semua yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
Surya kini mengusap kepala Anggi, menatap penuh kasih sayang selayaknya seorang ayah pada anak kandungnya sendiri. "Semoga ke depannya tidak ada lagi kejadian semacam ini. Papi selalu berdo'a untuk keselamatan dan kesehatanmu juga cucu Papi. Semoga kamu dikaruniai umur panjang dalam keberkahan, Nak."
"Makasih, Pi." Anggi berusaha menahan rasa haru. Bersama gema syukur bertasbih dalam kalbu, syukur atas segala curahan kasih sayang tak terhingga yang kini menghujaninya bak air bah. Berkah dari sebuah kehidupan yang ditiupkan ke rahimnya.
Dua hari berselang setelah Anggi pulang dari rumah sakit, Surya dan Marina berpamitan pulang. Tak lupa wejangan-wejangan panjang mereka berikan sebelum bertolak ke Bali. Terutama pada Juna yang terus diingatkan untuk menjadi suami siaga.
Hari demi hari berlalu. Kandungan Anggi sudah memasuki bulan ke empat. Selama beberapa minggu terakhir ini kontrol tetap dilakukan secara berkala. Dari hasil pemeriksaan kemarin sore, kondisi si jabang bayi dinyatakan sehat kendati mual muntah masih melanda. Hanya saja mualnya tak sehebat dulu lagi, mungkin efek dari suasana hatinya yang semakin hari kian menghangat juga berbunga-bunga.
Sementara itu, Juna semakin disibukkan dengan perusahaan. Urusan pabrik baru juga perihal ekspor produk Royal Textile dalam memenuhi permintaan pasar Eropa benar-benar menyita waktu dan pikirannya.
Kendati begitu, Juna tak pernah lupa untuk mencurahkan kasih sayang pada wanita yang tengah mengandung anaknya. Sesibuk apa pun, perhatiannya untuk Anggi tak pernah berkurang, sebisa mungkin menemani pergi ke dokter meski beberapa kali sempat absen. Juna juga selalu berusaha menyempatkan diri memberi perhatian kecil di sela-sela sibuknya pekerjaan, salah satunya melalui pesan teks manis dan panggilan singkat penuh cinta.
Anggi mondar-mandir di teras. Ia menunggu sang suami pulang, menahan diri untuk tidak tidur lebih dulu walaupun jujur saja rasa kantuk mudah menerjang dalam kondisi hamil seperti sekarang. Ada beberapa hal penting yang ingin dibicarakan. Beberapa malam belakangan ia selalu jatuh tertidur lebih dulu sebelum Juna sampai di rumah. Sementara di waktu sarapan Anggi tak ingin menginterupsi konsentrasi suaminya yang hendak berangkat bekerja.
"Bu, ini sudah jam sembilan, sebaiknya tunggu di dalam saja. Anginnya dingin," saran Bik Tiyas yang khawatir majikannya masuk Angin.
Sorot lampu mobil menembak garasi. Gerbang dibuka saat sebuah Mercy hitam sampai di depan rumah.
Senyum Anggi merekah. Ia lebih mirip anak TK sekarang, yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan orang tuanya ketika sekolah usai. Kakinya bergerak tak mau diam, lalu menghambur ketika sosok tampan tinggi tegap turun dari mobil.
"Mas."
Juna melangkah lebih lebar saat melihat Anggi tak sabaran menuju ke arahnya. Juna menyerbu cepat disusul pelukan.
"Jangan lari-lari!" Juna berkata dengan nada cemas.
__ADS_1
"Aku kangen," cicitnya manja sembari membalas pelukan.
"Ini sudah malam, kenapa belum tidur?" tanya Juna yang kini merangkul Anggi mengajak masuk.
"Karena aku kangen." Lagi-lagi Anggi menjawab dengan kalimat yang sama. Bahkan mengecup rahang seksi Juna yang ditumbuhi jambang halus.
"Nakal." Juna mencubit gemas hidung Anggi disertai kekehan. "Jangan menggodaku. Aku tak bisa menjamin bendunganku yang sudah hampir jebol ini masih kuat bertahan."
"Pasti sudah meluber," sindirnya. Anggi bukannya berhenti malah mengkerlingkan mata terus menggoda.
"Akh, mendadak saja aku sangat lapar. Padahal tadi sudah makan malam." Juna mengeluh frustrasi.
"Lapar? Mau makan apa?" Anggi menghentikan ayunan kaki. Memusatkan perhatian pada si pria yang tetap tampan walaupun terlihat gurat lelahnya.
Juna menyeringai, mendekatkan bibir ke telinga Anggi. "Mau makan kamu," bisiknya sensual.
"Ish, Mas!" Anggi meninju perut Juna. Wajahnya merona.
Juna tergelak. Kembali menyambung langkah menaiki tangga dengan Anggi tetap dalam rangkulan.
Memang benar. Sampai hari ini Juna masih belum berani menyentuh dalam konteks yang sangat intim karena Anggi masih dalam fase pemulihan.
Sebelum izin dokter didapat, dia tak berani mendesakkan diri daripada berakhir menyesal kemudian. Paling hanya sekadar saling mencumbu dan membelai ringan ketika rindu menggebu ingin saling mencurahkan kasih sayang. Walaupun Juna akan berakhir dengan pening di kepala tak berkesudahan setelahnya.
"Tidurlah, ini sudah malam. Aku mau mandi sebentar." Juna mendudukkan Anggi di sisi tempat tidur.
__ADS_1
"Aku tunggu. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Mas."
Bersambung.