Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 36b


__ADS_3

Istri Arjuna bab 36b


Juna sedang bersantai membaca majalah bisnis di pagi akhir pekan ini. Selepas sarapan, dia duduk berselonjor di kursi rotan antik yang terdapat di teras samping tepatnya di pinggir kolam renang. Di bagian kanan terhampar taman kecil, ditanami berbagai macam varietas bunga-bungaan juga berbagai jenis Aglonema termasuk si Janda Bolong yang sedang viral di kalangan pencinta tanaman.


Kesan segar serta asri begitu kental terasa, gemercik air mancur dari kolam kecil yang terdapat di tengah-tengah taman menyempurnakan relaksasi setelah semalaman Juna tersiksa luar biasa.


Baru kali ini dia menahan diri untuk tidak mendesakkan hasrat kepada Anggi di saat istrinya itu berada di dekatnya. Hadirnya si janin yang berasal dari benihnya membuatnya mau tak mau harus mengalah. Juna yang selalu otoriter, kini terpaksa mengendurkan cekalan egonya. Membayangkan makhluk mungil yang memiliki sebagian dari dirinya sedang berjuang bertumbuh di rahim Anggi, selalu mampu mengembangkan sayap rasa senang di rongga jiwa. Tak sabar ingin segera melihat wajah si buah hati dan mendekapnya dalam pelukan.


Sisi penyayang Juna terhadap anak kecil kembali menyeruak. Seperti pada Nara dulu, anak Viona dan Bima. Pernah berangan-angan menjadi ayah sambung ketika Viona sempat menjanda, walaupun semua angan itu harus pupus karena garis takdir tak berpihak padanya.


Juna membaca sambil menikmati secangkir teh melati tanpa madu maupun gula guna mengendurkan urat-urat syarafnya yang menegang. Aroma sedap seduhan daun teh berkualitas tinggi selalu berhasil memperbaiki moodnya.


Semalam, lewat tengah malam dia baru bisa terlelap setelah menyerah bersolo karir lantaran pusat didihnya tak kunjung melemas. Kendati setiap kali hal itu dilakukan, Juna merasa harga dirinya sebagai pria beristri tercoreng. Bahkan dia menyumpahi si dinding kamar mandi tak bersalah yang menurutnya seolah ikut menertawakannya.

__ADS_1


Bermandikan sulur hangat sang surya di pagi hari yang dibiarkan menerpa punggung, Juna membalik lembar demi lembar majalah yang dibaca. Hangatnya mentari merasuk hingga ke tulang, membelai nyaman mengurai pegal juga pening di kepala.


Harum tubuh Anggi yang didominasi aroma rempah yang berasal dari lulur tradisional, seketika memenuhi ruang hidu Juna. Aromanya manis, memanjakan indra penciuman sekaligus memercikkan semangat penuh gairah.


Semenjak pulang dari Bandung, Anggi berhenti memakai parfum kesukaan Juna. Aroma parfum Viona kala pesta makan malam, sama persis dengan parfum yang diperintahkan Juna untuk selalu dipakainya. Masa bodo jika Juna marah, walaupun nyatanya kini Juna malah tergila-gila dengan aroma Anggi kendati lisannya enggan mengakui.


Tanpa menoleh pun, Juna tahu Anggi sedang berada dekat di sekitarnya. Benar saja, istrinya itu menghampirinya, sudah berdandan cantik dengan tas jinjing 'Christian Dior' tersampir di lengan kiri. Mengenakan gaun berlengan pendek selutut, berwarna dasar kuning muda bermotif bunga-bunga kecil warna-warni yang makin memancarkan pesona jelitanya.


“Mau ke mana?” Juna menutup dan menaruh majalah yang sedang dibacanya, kemudian menegakkan punggung.


“Tidak boleh!” sambar juna cepat. “Aku yang antar.” Juna turun dari kursi dan merapikan pakaiannya.


“Serius, Pak Presdir mau jadi sopir seharian? Tapi aku pinginnya duduk di kursi penumpang lho, jadi sebaiknya pergi diantar Pak Oman saja." Anggi berujar santai sembari melipat bibir menahan tawa.

__ADS_1


“Jangan memancingku, Anggita! Sudah kubilang kalau kamu tidak lagi diperbolehkan keluar tanpa kuantar!" geram Juna rendah disusul rahang yang mengeras. Sejak semalam istrinya yang makin hari tampak semakin elok ini terus saja menguji kesabarannya.


“Buat apa aku memancing, memangnya Mas ikan?” ejeknya sengaja.


“Sebaiknya bibir merahmu itu jangan terlalu banyak membantah, atau aku akan melahapnya sekarang juga sampai kamu tak bisa berkutik di bawah kuasaku,” desis Juna mengancam.


“Oh ya?” Anggi malah berjinjit dan sengaja mengecup bibir Juna sekilas. “Tapi sayangnya aku belum boleh dibuat tak berkutik demi kelangsungan pertumbuhan anakmu, sesuai saran dokter. Hanya mencicipi menu pembuka saja tanpa hidangan penutup rasanya hambar dan tanggung bukan?”


Lagi-lagi Anggi memprovokasi. Ia ingin puas melampiaskan kekesalannya selama ini. Lagi pula ini hanya secuil saja dari siksaan batin yang telah dihadiahkan Juna padanya.


Juna mendengus kasar dan tampak tengah berusaha meredam amarahnya sendiri yang kini bercampur gairah. Baru saja urat-urat syarafnya mengendur dan terasa damai, kini malah kembali menegang dan pening,


“Tidak usah diingatkan! Perlu kamu ketahui, Suamimu ini pengingat yang sangat baik, Anggita!" dengusnya tajam dan tak berlama-lama merangkul Anggi menuju garasi. Sangat kontras terlihat, si wanita tersenyum lebar sedangkan si pria menekuk wajah tampannya.

__ADS_1


Biasanya Anggi gentar dengan tatapan maupun nada bicara Juna yang selalu identik terbungkus intimidasi. Akan tetapi, entah kenapa setelah ia mengandung, sisi keberaniannya terus berseru tak terbendung. Bahkan Anggi iseng mengelusi dada Juna sekilas dengan gerakan seolah tak sengaja sambil mengayunkan langkah. Masih ingin memuaskan dahaga membangkangnya yang selama ini tersembunyi rapat.


TBC


__ADS_2