Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 75 a


__ADS_3

Istri Arjuna Bab 75a


"Tunggu," tukas Maharani cepat. "Begini, kalau kamu enggak keberatan, sebetulnya aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu, Anggi. Bukan cuma pada Juna."


"Bicara saja padaku. Anggi harus segera beristirahat," tukas Juna cepat. Memasang raut datar tak ramah.


"Juna, Abang mohon, kakakmu sangat ingin bicara hal penting pada kalian berdua." Barata angkat suara. Mencoba membujuk lantaran sejak tadi Juna mengeraskan rahangnya ketat. Tampak penuh antisipasi saat matanya melihat keberadaan Maharani.


Anggi menggulirkan manik jernihnya pada suami istri di depannya juga pada Juna. Merasa tak enak hati dengan penolakan keras Juna terhadap permintaan mereka. Walaupun sejujurnya, saat bertemu muka kembali dengan Maharani, ia masih sering dihinggapi rasa cemas yang kental. Terlebih lagi sekarang perutnya sudah membuncit besar, takut kakak iparnya itu mendadak lepas kendali lagi dan mendorongnya seperti terakhir kali.


"Mas." Anggi meraih jemari Juna dan meremasnya lembut. Sorot di balik iris cantiknya mengisyaratkan permintaan berharap Juna sedikit melunak. Anggi dapat menangkap dari nada suara dan raut wajah Maharani menyiratkan itikad baik.


"Sebaiknya kita duduk supaya bisa bertukar kata dengan nyaman, Mas. Juga rasanya kurang sopan kalau bercakap-cakap sambil berdiri begini," pintanya lembut pada Juna, sedikit memaksa.


Raut keengganan membias jelas di raut tampan Juna. Akan tetapi bola mata Anggi yang memohon selalu berhasil melemahkan sisi kerasnya.


"Baiklah. Kita bicara di ruang tengah saja, supaya Anggi bisa duduk di sofa panjang."


Tanpa menunggu persetujuan, Juna melangkah lebih dulu menuju area tengah rumah sambil menggandeng Anggi, diikuti Maharani dan Barata yang mengekori.


"Jadi, apa yang mau Mbak bicarakan pada kami?" tanya Juna masih dengan nada datar tak mau membuang waktu.


Anggi yang duduk di sebelahnya mengangsurkan telapak di punggung Juna, mengingatkan agar suaminya itu mengontrol emosi.

__ADS_1


Maharani mengigit bibir, menoleh sejenak pada Barata memohon untuk dikuatkan yang dibalas Barata dengan menggenggam tangannya dan mengangguk tipis.


Menghela napas panjang, Maharani memberanikan diri menatap sang adik juga adik iparnya, lalu beralih pada perut Anggi yang membulat.


"Juna, Anggi," ucapnya lirih. Berhenti sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Aku ... aku datang ke sini ingin meminta maaf. Aku minta maaf atas segala sikapku selama ini. Atas segala kesalahanku, terutama padamu, Anggi. Sebagai seorang kakak juga Tante dari anak kalian, seharusnya aku menjaga adikku dan keponakanku, bukan malah mencelakai. Juga aku amat menyesal karena telah melukaimu, Juna, Adik kandungku sendiri."


Juna masih belum bersuara, menatap kakaknya lurus lekat-lekat. Sedangkan Anggi terus mengupayakan agar Juna tetap mengontrol emosi dengan mengelusi punggung Juna tak henti.


Maharani menelan ludah dan kembali bersuara. "Mungkin yang akan kukatakan ini pasti terdengar seperti alasan pelarian dalam upaya pembelaan kesalahanku dan aku paham akan hal itu. Semuanya ini memang murni salahku yang mendustakan kenyataan. Tak memberi tahu siapa pun karena aku sendiri pun terpukul. Memaksakan diri mengkonsumsi obat-obatan terapi hormon penyubur secara kontinyu padahal diagnosa final sudah didapat. Aku, dinyatakan mandul."


Anggi tak mampu menyembunyikan rasa iba mendengar pernyataan yang meluncur lugas dari mulut Maharani. Sebagai sesama wanita, sedikit banyak ia memahami seperti apa perasaan kakak iparnya itu. Pasti hancur lebur saat disuguhi kenyataan takkan pernah bisa mengandung, sungguh bukanlah hal yang bisa diterima dengan mudah.


"Anggi, aku minta maaf sedalam-dalamnya. Maaf pernah mencelakaimu juga keponakanku sendiri, maaf," sambungnya tercekat kini.


Juna masih bergeming, datar tanpa ekspresi.


"Hanya itu yang ingin kusampaikan. Maaf, menganggu waktu kalian. Kami pamit." Maharani bangkit dan meraih tasnya.


"Mbak mau ke mana? Ini sudah malam." Anggi ikut bangkit dari duduknya dan menghampiri.


"Kami sudah menyewa hotel untuk menginap malam ini." Maharani menyahuti tanpa ada lagi nada ketus yang terlontar.

__ADS_1


"Kenapa tidak menginap di sini saja?" tanya Anggi merasa tak enak hati. "Pilih saja kamar yang mana yang ingin dirapikan."


"Enggak usah, Anggi. Abang memang sengaja membooking hotel, ingin sekalian berkencan di ibu kota," jawab Barata sembari mengulas senyum penuh arti pada istrinya.


Anggi tak bisa menahan keinginan mereka meskipun berusaha, mengantar Barata dan Maharani sampai ke teras sedangkan Juna masih tetap tak bereaksi.


"Sebelum pulang ke Bali, mampir lagi ke sini, kita makan bersama," ucap Anggi tulus sebelum mereka pergi.


"Pasti. Mbak akan sempatkan datang lagi. Jaga diri baik-baik, dan ... dan_"


"Dan apa, Mbak?"


Maharani tampak ragu meneruskan kalimat, menelan ludahnya berulang kali. "Be-begini, sebelum pergi, bolehkah aku mengelus perutmu?" pinta Maharani dengan suara pelan namun sorot matanya sangat berharap.


Anggi terdiam sejenak, kemudian tertawa kecil penuh pemakluman. "Tentu saja, anakku pasti senang disapa Tantenya."


Maharani berpandangan dengan Barata. Perlahan tetapi pasti, tangannya yang gemetar menyentuh perut bulat Anggi, matanya berkaca-kaca dan dengan cepat menyudahi elusan ketika genangan cairan di netranya membuat penglihatannya semakin buram.


"Sampaikan salam pada Juna. Kami pamit," ucap Barata sebelum melangkah pergi sembari menggandeng istrinya yang melangkah dengan gontai.


Bersambung.


Halo pembacaku tersayang. Terima kasih selalu mendukung Anggi dan Juna. Jangan lupa sempatkan mendukung melalui vote dan hadiahnya ya. Jangan lupa bahagia dan sehat selalu. Follow juga instagramku untuk mengetahui info cerita-cerita yang kutulis @Senjahari2412. Happy reading 🥰.

__ADS_1


__ADS_2