Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
Spesial Bab Tujuh


__ADS_3

Spesial Bab Tujuh


Juna meminta Bik Tiyas dan Lina meninggalkan area dapur serta ruang makan. Dia sedang dalam misi meredakan kemarahan sang istri, ingin berbicara leluasa berdua saja.


Juna memakai apron, mulai beraksi di dapur bersih yang langsung tersambung dengan ruang makan. Sesekali melirik Anggi sembari mengukir senyuman tampan mematikan andalannya. Tebar pesona pada wanita hamil tersayangnya sedang duduk di kursi makan, menekuk wajah cantiknya.


“Mau creamy pasta apa, Sayang? Creamy Chicken atau Tuna?” tanya Juna renyah, tetap gigih memasang senyum meski yang ditanya terus saja cemberut mengerucut.


“Creamy Chicken,” jawab Anggi singkat, nadanya ketus, yang bagi Juna terdengar menggemaskan. Istrinya yang merajuk berat kali ini malah membuatnya berbunga-bunga, semakin merasa dicintai akan reaksi Anggi yang cemburu buta.


“Oke, Ratuku,” rayunya menggoda, yang disambut Anggi dengan memutar bola matanya malas.


Juna mulai merebus air yang dicampur sesendok minyak juga seperempat sendok teh garam, minyak berfungsi supaya helai pasta spaghetti tidak lengket satu sama lain, sedangkan garam ditambahkan agar pasta yang direbus semakin lezat rasanya.


Juna memang memiliki keahlian terpendam membuat pasta enak yang baru Anggi ketahui setelah beberapa tahun menikah. Ketika Anggi ingin makan pasta tengah malam di saat para ART pulang kampung. Sejak itulah ia ketagihan, terlebih lagi di kehamilan keduanya ini banyak hal berbeda terjadi padanya entah itu mood maupun selera makan.

__ADS_1


Sepiring creamy chicken pasta yang masih mengepul disajikan, bersama segelas jus jeruk fresh.


“Sudah matang, ayo cepat dimakan.” Juna menggenggamkan garpu ke tangan Anggi, menarik kursi dan duduk di sebelah Anggi.


Tanpa banyak kata, Anggi melahap makanan di hadapannya setelah berdo’a, menyantapnya tanpa berterimakasih pada Juna seperti yang biasa dilakukannya. Mengunyah lahap sembari tetap menekuk wajah.


Juna terkekeh pelan, memegangi rambut panjang Anggi supaya istrinya itu bisa makan tanpa terganggu rambut tergerainya yang tidak diikat, juga menyeka mulut Anggi yang sedikit belepotan.


“Gimana, enak enggak?” tanya Juna mencoba membuka pembicaraan.


“Makannya pelan-pelan, nanti tersedak,” ucap Juna dengan nada lembut membujuk. Berupaya keras untuk meluluhkan amarah istrinya melalui perhatiannya yang memanglah terlampau manis dan sulit ditolak.


Seporsi pasta lezat telah berpindah ke lambung Anggi hanya hanya dalam kurun waktu dua puluh menit saja, tak lupa segelas jus jeruk serta setengah gelas air putih ikut tandas.


Dengan sabar Juna menunggu istrinya hingga selesai makan, saat Anggi berdiri dan hendak beranjak pergi, Juna menahan dengan memegang lembut pergelangan tangannya.

__ADS_1


“Sayang, ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Aku tahu mungkin kamu masih sebal melihatku dan bicara denganku sekarang. Tapi, ada hal yang ingin aku luruskan saat ini juga,” kata Juna, atmosfer yang menyelimuti ruangan mulai serius sekarang.


“Tentang apa?” ketus Anggi tak ramah.


“Tentu saja tentang kemarahanmu, Sayang. Kamu membuka laci meja paling bawah di ruanganku di kantor tadi siang kan?”


“Kalau iya kenapa? Memangnya enggak boleh seorang istri membuka laci kerja suaminya sendiri!” sambar Anggi sengit. Dadanya kembang kempis, sorot matanya berkilat tajam.


Juna menarik Anggi yang masih berdiri, menghelanya duduk di pangkuannya dan memeluknya, tak menyerah meski Anggi meronta menolak dengan wajah yang mulai memerah lagi.


“Bukan begitu, tentu saja boleh. Bahkan kalau kamu mau membuka bajuku pun sangat-sangat boleh,” ujarnya mencoba melembutkan Anggi yang terlihat mengetatkan rahang lagi.


“Sekarang aku tanya. Kenapa ada gaun wanita berlabel VN Fashion disembunyikan di laci meja Mas? Punya siapa? Dan kenapa harus VN Fashion!” berondongnya kesal yang kini mulai menangis lagi


“Mas jahat! Aku benci merek baju itu, aku benci!” Anggi memukuli bahu Juna, dan Juna membiarkan Anggi melampiaskan kemarahan sembari menangis. Dia akan menjelaskan kesalah pahaman ini setelah Anggi puas menumpahkan kemarahan dan lebih tenang nanti.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2