Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 59a


__ADS_3

Istri Arjuna 59


“Anggi, Juna.”


Pintu diketuk tepat saat Anggi menyuapi Juna suapan terkahir sarapannya. Anggi bersegera menuju pintu begitu mendengar suara mertuanya.


“Iya, Papi, Mami. Masuk.”


Anggi membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan mertuanya masuk ke kamar. Di belakang mereka mengekori seorang pria seumuran Barata yang merupakan dokter keluarga Syailendra. Datang pagi-pagi untuk kembali memeriksa kondisi Juna.


Dokter menjelaskan, masih beruntung Juna tidak sampai gegar otak. Lemparan gelas kristal yang menghantam hingga pecah, membentur kencang kepalanya. Efek luarnya mungkin hanya tergores dan berdarah, tetapi imbas lain yang terjadi di dalam tidak sesederhana itu. Dokter berpesan agar Juna beristirahat dulu barang beberapa hari.


Marina membujuk Juna supaya menjeda dulu keinginan untuk kembali bicara dengan Maharani. Walaupun awalnya bersikukuh ingin dipertemukan dengan kakaknya, akhirnya Juna mau mendengarkan saran ibunya juga dokter setelah Anggi mencoba bicara lembut padanya. Mengatakan pemulihan Juna saat ini lebih utama.


Juna memutuskan untuk beristirahat beberapa hari di vila pribadinya yang masih berlokasi di Seminyak. Vila yang dibangunnya saat membujang dulu. Tidak terlalu besar, tapi kesan privacy kental terasa.


“Wah, tempatnya bagus. Aku suka,” cicit Anggi begitu masuk sembari menggandeng Juna. Mengayunkan kaki antusias masuk lebih dalam lagi.


Anggi terkagum-kagum. Matanya berbinar mengamati setiap inci desain interior yang menonjolkan ciri khas klasik Bali, begitu asri. Nyaman sebagai tempat pemulihan yang membutuhkan ketenangan, ideal untuk merelaksasi pikiran, tak ketinggalan aura romantis berpendar kental terasa.


“Tentu saja bagus. Aku sendiri yang membuat konsepnya dibantu temanku yang bergelut di bidang arsitektur," sahut Juna penuh percaya diri.


“Aku baru tahu, kalau Mas punya vila pribadi juga di Bali. Padahal rumah Mami dan Papi juga sangat luas,” decaknya agak kesal sedikit. Banyak hal yang ternyata belum diketahuinya tentang suaminya ini.


“Oh ya. Apa aku belum pernah bercerita?” Juna menghentikan langkah kaki, melirik istrinya yang ternyata sedang cemberut. “Hei, kenapa cemberut, hmm?”


“Apa Mas pernah mengajak seseorang ke sini?” tanyanya kemudian. Entah mengapa terlintas ingin bertanya tentang hal itu.

__ADS_1


“Mmm, pernah,” jawab juna singkat.


“Wanita?” sambung Anggi dengan nada tak tenang.


Juna terkekeh. “Iya, wanita. Kenapa?” tukasnya.


Otomatis, Anggi menoleh dan mendelik tajam. Mendadak melepaskan gandengannya di lengan Juna. Rasa khawatirnya akan kondisi sang suami, kini berganti dengan kekesalan. Kesan privacy yang begitu kental malah memunculkan banyak prasangka di kepalanya yang sebetulnya sama sekali tidak penting. Cinta dan cemburu memang lah selalu berjalan beriringan, ibarat bumbu yang membuat debar cinta semakin lezat terasa.


“Jadi, dulu Mas benar-benar pernah membawa wanita ke sini? Siapa? Pacar?” tanyanya dengan nada menelisik yang sudah menyerupai para juper di kantor polisi.


Mendadak Anggi benci bangunan indah ini. Membayangkan Juna pernah membawa wanita lain ke tempat yang begitu pribadi, menyulut cemburu buta tak beralasan, membuat nalarnya tak mau bekerja.


Hawa panas terasa berembus mengipasi. Pria dewasa membawa wanita ke vila membuat pikirannya berspekulasi hal yang tidak-tidak. Padahal andaipun iya dulu Juna pernah membawa wanita kemari ketika membujang, sama sekali tidak perlu dicemburui. Asalkan bukan setelah mereka menikah.


“Hmm.” Juna hanya menjawab dengan gumaman sambil menyeringai tipis.


“Aku mau pulang ke rumah Mami saja!”


“Kamu cemburu?” cicit Juna dengan senyum lebar sambil menopangkan dagu di pundak si wanita hamil yang tengah merajuk itu.


“Kalau iya kenapa? Enggak boleh?” ketusnya. “Lepasin! Aku enggak mau di sini!”


Juna dibuat gemas. Anggi menunjukkan kecemburuan gamblang bukankah itu artinya wanita ini amat mencintainya. Hei, dadanya berombak-ombak dipenuhi deburan rasa senang. Juna mengecup gemas pipi si wanita yang terus saja meronta itu.


“Jangan cium-cium!” serunya sebal.


“Wanitanya itu kamu. Bukan dulu, tapi sekarang. Baru hari ini aku mengajak wanita menyambangi tempat pribadi yang aku bangun. Percaya atau tidak, tapi begitulah kenyataannya.”

__ADS_1


“Pasti bohong!” sambarnya. Anggi masih diliputi kecemburuan dan terus merajuk.


“Kalau tak percaya. Coba kamu tanyakan pada Ikan Arwana yang ada di akuarium. Dia adalah saksi bahwa cuma kamu satu-satunya wanita yang kuajak kemari dan hari bersejarah itu adalah hari ini," sahut Juna dengan senyum yang tak kunjung surut. Meski saat ini tubuh dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja.


“Cih, buat apa aku ngobrol sama ikan? Memangnya aku ini putri duyung!”


Vila yang biasanya sepi senyap itu, hari ini atmosfernya terasa begitu hidup. Cicitan Anggi yang merajuk dan Juna yang terus membujuk terdengar laksana alunan simfoni merdu. Berpadu selaras dengan embusan desau angin dan aroma laut. Begitu indah dan manis.


Sementara itu di kediaman Barata. Maharani tengah bersiap-siap di depan cermin. Merapikan pakaian yang dikenakan juga riasannya.


“Mau ke mana?” tanya Barata yang baru keluar dari kamar mandi.


“Aku mau ke rumah Mami. Aku gak betah di sini,” sahutnya datar seperti biasa. Meraih tas bersiap pergi. Barata menarik napas panjang. Menghalangi istrinya yang hendak membuka pintu.


“Kenapa diam di situ. Minggir, Mas!” pinta Maharani yang lebih terdengar serupa perintah mutlak.


Barata bergeming. Tak beranjak seinci pun dari tempatnya berdiri. “Kita harus bicara,” ucapnya dengan tatapan memaku pada istrinya.


“Bicara nanti saja. Untuk sekarang aku ingin pulang dulu ke rumah Mami," sahut Maharani bersikukuh.


Tanpa aba-aba, Barata menarik Maharani ke dalam pelukannya membuat istrinya itu cukup terkejut.


“Mas ini apa-apaan sih? Lepasin!” Maharani meronta.


“Aku rindu, kamu,” kata Barata dengan nada rendah, membuat Maharani yang sedang berusaha melepaskan diri mendadak menghentikan aksinya.


“Maksudnya apa sih!” ketusnya dengan kening berkerut tak suka.

__ADS_1


“Aku rindu Maharani. Aku rindu Maharaniku yang dulu,” ucap Barata lirih disertai pelukan yang dieratkan, membuat wanita yang terperangkap di kedua lengannya membeku seketika.


TBC


__ADS_2