Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 23b


__ADS_3

Istri Arjuna 23b


Kehamilan, merupakan kabar yang membawa kegembiraan kepada setiap pasangan yang sudah menikah. Selalu dinanti, bahkan tak jarang yang mengupayakan demi mendapat keturunan. Disambut penuh sukacita ketika hadir si buah hati di antara mereka. Begitulah lumrahnya. Akan tetapi, hal itu tidak dirasakan Anggita Jelita. Tidak ada sorak sorai riuh di sanubari lantaran dilema menjeratnya kuat.


Apakah Anggi tidak bahagia dengan kehamilannya? Tentu saja ia bahagia. Istri mana pun pasti bergetar hatinya ketika mengetahui dirinya mengandung. Namun, rasa bahagianya berhiaskan perih. Mengingat janin yang kini bertumbuh di rahimnya, hadir bukan sebab bercinta yang dipenuhi curahan kasih sayang, melainkan hanya sebatas persenggamaan dua tubuh.


Fakta dirinya tak pernah dianggap istri yang semestinya, Anggi tak berniat repot-repot mempermasalahkan. Cukuplah menumpulkan rasa di hati agar saat goresannya kian dalam tidak terasa lagi perihnya.

__ADS_1


Akan tetapi, apabila nanti anaknya pun tidak diharapkan kehadirannya dan harus tumbuh tanpa dicintai serta tak dianggap oleh ayahnya, Anggi merasa tidak sanggup menanggungnya. Alangkah nelangsa hatinya. Tak rela jika anaknya memiliki nasib sama. Cukup hanya dirinya yang terluka, jangan sampai anaknya ikut merasakan. Bukan tanpa alasan Anggi berpikiran demikian. Bagaimana bisa dia berharap anaknya dicintai oleh Juna, sementara ia sendiri pun tak tahu dengan jelas apa arti dirinya bagi Juna.


Inginnya egois. Berlari sejauh mungkin dari jeratan tak kasat mata yang dibelitkan Juna padanya. Hidup sederhana berdua saja bersama buah hatinya. Tinggal di pedesaan yang nyaman, hijau serta asri. Pasti menyenangkan


Sayang, ia tak mampu. Asa kesembuhan ibunya bergantung pada Juna. Anggi tak bisa mengabaikan begitu saja nasib seseorang yang teramat berharga baginya. Ingin berbakti dan memberikan yang terbaik selagi ada kesempatan. Tidak ada yang tahu pasti sampai kapan ibunya masih bisa membuka mata dan bertukar kata dengannya. Alasan Anggi bertahan hingga di titik ini pun juga karena ibunya.


Juna masih saja tak mampu berhenti berkubang dalam cerita masa lalu yang ada Viona di dalamnya. Anggi semakin merasa perih, kala mengetahui gaun-gaun merek 'VN Fashion' yang sering Juna minta untuk dikenakannya ketika hendak melebur ternyata merupakan rancangan Viona. Berarti selama ini, dirinya memang benar-benar hanya dijadikan ajang fantasi juga pelampiasan, tidak lebih. Kendati Anggi tak tahu cerita Juna dan Viona yang sesungguhnya seperti apa. Sama sekali tak berniat menggali lebih dalam, tidak mau luka di hatinya kian menganga.

__ADS_1


Sudah dua jam Anggi duduk di pinggir kolam sembari sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak menyadari, bahwa Bik Tiyas sedang menatap punggungnya penuh kecemasan.


"Mbakyu, Pak Juna sama Bu Anggi waktu berangkat ke Bandung mesra, tapi pas pulang jadi kayak perang dingin," bisik Lina yang muncul dari belakang punggung Bik Tiyas.


Bik Triyas membuang napas kasar. Beberapa waktu terakhir, suasana rumah mulai terasa hangat, tetapi sekarang situasi antara tuan dan nyonyanya mendadak lebih dingin dari sebelumnya. Bahkan Juna tampak tidak peduli tentang keberadaan Anggi, tidak bertanya bawel pada Bik Tiyas saat waktu sarapan tadi. Juna seolah sedang hidup di dunianya sendiri.


"Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka, Lina. Semoga semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


TBC


__ADS_2