Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 56b


__ADS_3

Istri Arjuna 56b


Aroma harum olahan Ayam Betutu yang baru saja matang, menguar sedap memenuhi ruang makan juga area belakang rumah besar Surya dan Marina.


Kediamannya yang terletak di Luxury Freehold at Central Seminyak Kuta Bali ini, didesain klasik. Mengusung tema Vila dalam setiap detailnya. Asri dan segar. Meminimalisir udara panas yang memang identik dengan daerah dekat pantai.


Wanita berambut pendek memasuki ruang makan. Terbalut pakaian santai dilengkapi topi sambil menenteng peralatan golf. Mendekati meja makan dan memeriksa menu yang tersaji.


"Kenapa hari ini sajiannya begini? Mana menu tanpa lemak untukku?" protes wanita itu ketus, siapa lagi kalau bukan Maharani.


Sudah setahun terakhir, Maharani kembali tinggal di rumah orang tuanya. Membiarkan hunian mewah miliknya tak diisi. Hunian yang dibangun Barata susah payah berdua dengannya tentu saja.


Maharani merengek tidak betah di rumahnya sendiri. Ingin pindah dan tinggal di kediaman luas orang tuanya lagi. Sejak mengikuti berbagai macam terapi kandungan, dia mudah sekali stres dan hanya bisa berkurang jika dia tinggal di kediaman Surya dan Marina. Barata yang awalnya menolak, akhirnya menyerah. Mencoba memaklumi dan ikut tinggal di sana. Sebagai upaya agar Maharani terhindar dari stres yang sering diwanti-wanti dokter jangan sampai terjadi. Berharap program yang diusahakan membuahkan hasil.

__ADS_1


Barata berasal dari keluarga terpandang walaupun bukan keluarga kaya raya seperti Syailendra yang merupakan pengusaha turun temurun. Dulu, Barata adalah kakak kelas satu universitas dengan Maharani, dari sana lah mereka dekat hingga kemudian bertunangan.


Barata yang cerdas dan bersahaja, asalnya bekerja sebagai guru seperti orang tuanya setelah lulus kuliah. Tidak ingin dianggap aji mumpung, mendompleng kekayaan calon istrinya. Hanya saja satu bulan sebelum pernikahan berlangsung, Surya memintanya dengan sangat untuk bekerja di Royal Textile Bali saja, supaya bisa membimbing Maharani juga, karena nantinya perusahaan tersebut memang akan diwariskan pada si sulung juga padanya.


"Ini perintah Mami Anda, Non. Minta dimasakkan dan disiapkan menu tradisional untuk makan malam akhir pekan ini. Belum matang semua, baru beberapa menu. Kata Bu Marina, hari ini Non juga makan menu tradisional saja, banyak khasiat dari rempah-rempah yang dipakai," jawab salah satu ART yang sedang menata gelas di meja.


"Dih, mami juga cuma bikin kacau aja! Heh, kamu juga jangan sok tahu. Yang ada makanan ini banyak lemaknya, bukan manfaatnya!" bentaknya kasar pada si ART yang usianya sedikit lebih muda darinya.


"Ma-maaf, Non. Saya cuma menyampaikan saja."


Mendadak saja meja digebrak. Dua orang ART yang sedang mengangkuti makanan terperanjat nyaris menumpahkan hidangan lain yang mereka bawa.


"Apa-apaan ini! Ini masak pakai garam sebanyak apa sih! Dasar tidak becus. Kalian sengaja ingin membuatku mengidap hipertensi!" bentaknya kasar. Mencampakkan sendok ke lantai hingga berdenting kencang. Berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk para ART disertai kalimat pedasnya seperti biasa.

__ADS_1


Derap kaki ribut tak kalah mengagetkan. Sol sepatu yang yang beradu kencang dengan lantai berbunyi nyaring, terdengar genting. Para pekerja di rumah besar tersebut menghentikan kegiatan saat gelegar murka suara bariton yang mereka kenal ikut menyertai.


"Mbak, Mbak Rani! Di mana kamu? Mbak Rani! Keluar!"


Maharani yang tengah berkacak pinggang menciut seketika. Membeliak kaget saat melihat siapa yang datang dan memanggil. Melangkah ke arahnya dengan raut muka mengeras, penuh kemurkaan berkobar hebat.


"Ju-Juna," cicitnya tergagap.


"Kenapa Mbak tega mencelakai istriku yang sedang mengandung anakku? jawab aku!" sembur Juna berteriak marah. Membuang basa-basi juga sapa-menyapa.


"Ka-kamu ini ngomong apa? Jangan ngawur!" elaknya. Maharani mundur beberapa langkah. Wajahnya juga memucat.


"Kamu tega pada adikmu sendiri, Mbak. Kamu tega! Apa salahku juga Anggi padamu!" Juna merangsek semakin dekat.

__ADS_1


Maharani yang merasa kian terpojok juga panik, malah menyambar sebuah gelas di meja dan langsung melemparkannya tepat ke kepala Juna. Gelas pecah berkeping-keping disertai jeritan para ART memekik histeris.


TBC


__ADS_2