
Halo para pembacaku tersayang, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia di mana pun berada. Terima kasih kepada kalian yang selalu mengikuti cerita Anggita-Arjuna. Jangan lupa dukung terus dengan mengapresiasi karya melalui vote, hadiah juga like seikhlasnya. Thank you & love you π.
Follow juga akun instagramku untuk mengetahui seputar cerita-cerita yang aku tulis @Senjahari2412.
Happy Monday π.
Istri Arjuna Bab 57a
Tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Rahang Juna kian mengetat diserbu amarah berapi-api.
"Aku berbicara fakta. Mbak adalah pelaku yang menyebabkan Anggi jatuh di restoran! Bukankah seharusnya seorang kakak ikut membantu menjaga adik iparnya yang tengah mengandung di saat suaminya pergi jauh? Tega-teganya Mbak mendorong istriku yang sedang hamil sampai dilarikan ke rumah sakitl!" geram Juna sembari menggertakkan gigi.
"Ka-kamu ngaco! Apa maksudmu? Jangan menuduh sembarangan!" sergah Maharani dengan nada yang tak kalah tinggi. Tangannya mulai gemetar lantaran perbuatan dosanya telah terendus. Terlebih lagi saat matanya melihat cairan merah merambat di pelipis adiknya, seluruh tubuhnya ikut gemetaran.
Kepalan tangan Juna melayang, mendaratkan tinju kencang pada dinding di sisi kirinya hingga punggung tangannya ikut berdarah. Meluapkan amarah yang mendidih. Inginnya dia menghajar langsung Maharani yang terus mengelak dan bukannya meminta maaf. Akan tetapi, kakaknya itu adalah perempuan, sehingga tembok lah yang menjadi pelampiasan.
Stik golf ikut disambarnya. Maharani menjerit-jerit begitu juga para ART saat Juna mengayunkan tongkat tersebut.
"Apa yang kamu lakukan Juna? Kamu sudah gila. Kamu sudah gila!" jerit Maharani ketakutan dengan roman wajah adiknya yang sudah sepenuhnya diliputi emosi.
Juna mengayunkan stik golf. Menjangkau barang-barang yang ada di sana. Lukisan yang tergantung, hiasan-hiasan dinding, lemari kaca yang tertanam di dinding, bahkan piring dan gelas di meja ikut tersapu tongkat golf yang diayunkannya tanpa henti.
Barang-barang yang berjatuhan ke lantai menciptakan bunyi memekakkan juga mencekam. Juna mengamuk membabi buta yang hanya bisa diluapkannya pada benda-benda kendati si biang kerok ada di depan mata.
__ADS_1
Marina, Surya juga Barata, baru saja tiba sepulang dari lapangan golf. Maharani memang pulang sendiri lebih dulu bersama sopir, karena rewel dan terus mengeluh kesal ingin pulang ketika acara bincang-bincang seusai golf bersama dengan beberapa relasi bisnis Royal Textile Bali berlangsung.
Marina dan Surya berhenti sejenak di halaman rumah ketika hendak masuk. Suara ribut barang pecah juga jeritan suara wanita membuat mereka menghentikan langkah, disusul Barata yang juga melakukan hal serupa.
Marina menajamkan telinga begitu juga yang lainnya. Ingin tahu sumber suara berasal dari mana. Pasangan paruh baya itu bertukar pandang begitu juga dengan Barata. Mereka membulatkan mata saat menyadari bahwa keributan berasal dari dalam rumah.
Ketiganya masuk dengan cepat melintasi beberapa ruangan dan saat semakin dekat dengan ruang makan suara ribut tersebut semakin menajam.
Marina tersentak kaget, melihat si sulung menjerit-jerit histeris sedangkan adiknya tengah mengayunkan tongkat golf laksana banteng mengamuk. Menghancurkan apa pun yang terjangkau tongkat panjang tersebut.
"Ada apa ini! Ada apa dengan kalian!" jerit Marina yang amat terkejut, pulang ke rumah disambut hal tak terduga.
"Mami, Papi, tolong aku! Mas Bara tolong aku! Juna mau memukulku!" Maharani yang terdesak di sudut ruangan berteriak-teriak.
"Jangan lempar batu sembunyi tangan! Kalau aku memang ingin memukul Mbak sudah kulakukan sejak tadi!" berang Juna murka.
"Juna, tenangkan dirimu, Nak. Kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik," ucapnya berusaha menenangkan meski dirinya juga terkejut.
Barata melempar peralatan golf yang dijinjingnya, merangsek masuk dan memeluk istrinya yang terlihat kacau.
"Rani, jangan sembarangan bicara. Tidak mungkin Juna begini tanpa sebab," ucap Barata berusaha tetap berpikir jernih. Walaupun sebagai suami dia cukup tersulut emosi melihat istrinya histeris ketakutan.
"Mbak Rani benar-benar tega padaku. Sebagai seorang kakak bukankah seharusnya dia mengerti aku, Pi? Aku baru saja bisa kembali menata hati, dan di saat kebahagiaan rumah tangga sebenarnya baru kucicipi, justru kakakku sendiri yang hampir merenggutnya dariku!" teriak Juna dengan sorot mata penuh luka.
__ADS_1
"Jangan menuduhku yang tidak-tidak! Adik macam apa kamu ini!" Maharani masih getol mengelak.
Juna memejam dengan dada tersengal. Berusaha mengendalikan hujaman emosi juga rasa sakit di kepalanya yang mulai berdentam. Cekalan tangannya pada stik golf mengendur, akhirnya terlepas hingga tongkat panjang tersebut terjatuh di lantai.
"Aku tidak asal menuduh. Mami, Papi dan Bang Bara juga harus melihat ini. Agar kalian percaya bahwa aku bukan bicara tanpa fakta."
"Maksudnya apa Juna?" tanya Marina lirih, mendekati Juna dan ikut memegang lengannya seperti yang dilakukan Surya.
Menghela napas panjang, Juna merogoh ponsel dan menghidupkannya. Memilih satu video, memutarnya lalu meletakkan ponselnya di meja makan.
"Silakan kalian lihat."
Penasaran, Barata melepaskan pelukan meski kesulitan karena istrinya malah memeganginya. Dia ikut mendekat ingin melihat.
Marina membekap mulut, saat video yang diputar sampai pada tangkapan gambar di mana Maharani mendorong Anggi kencang hingga terjatuh di area tempat makan yang terlewati jika hendak menuju toilet yang kebetulan sepi. Seluruh tubuh Marina terasa lemas seolah tak bertulang. Penuh kesedihan, dia beralih menatap si sulung yang memeluk dirinya sendiri dengan tubuh gemetaran di sudut ruang makan.
"Rani, ada apa denganmu, Nak," ucap Marina dengan tenggorokan tercekat. Kecewa bercampur tak percaya, juga kecamuk rasa lainnya menghantam jiwa seorang ibu yang teramat sedih menyaksikan anak-anaknya berseteru.
"Kenapa kamu mendorong Anggi, Nak? Bukankah kamu tahu dia sedang hamil. Kenapa, Sayang?" tanyanya lirih dengan bola mata menggenang.
"Aku ... aku gak sengaja, Mi. Aku gak sengaja!" teriaknya tersengal sambil menggelengkan kepala juga menutupi telinga menggunakan kedua telapak tangan.
Mereka semua yang sedang memusatkan fokus kepada Maharani, langsung teralih pada suara berdebum kencang dalam ruangan. Semua orang terperanjat bahkan memekik tak terkecuali para ART. Juna ambruk, terjatuh nyaris hilang kesadaran dengan darah mengucur dari pelipis.
__ADS_1
"Arjuna!" jerit Marina yang langsung berjongkok. Baru menyadari bahwa putra bungsunya ternyata terluka.
TBC