
BAB 21a
Area samping Hotel Padma disulap menjadi tempat makan malam. Rangkaian bunga yang ditata melengkung menghiasi pintu masuk. Meja-meja panjang dilapisi taplak berwarna putih bersih, dilengkapi bunga hidup dalam vas di bagian tengah.
lampu-lampu hias berbentuk bulat digantung sebagai hiasan juga penerangan. Suasana temaram beratapkan langit berbintang begitu syahdu terasa.
Juna menggandeng Anggi memasuki area makan malam. Senyuman tersungging manis di bibir keduanya. Anggi tanpa ragu bergelayut dan Juna menyambut penuh sukacita. Mereka tampak begitu manis bersama.
Dua sejoli itu bertegur sapa dalam suasana santai dengan para pengusaha juga para pejabat. Para istri kembali bercengkerama, membiarkan suami-suami mereka berbicara pembahasan laki-laki yang sudah pasti berbeda bahasannya dengan para perempuan.
Istri dari pejabat yang tadi siang mengobrol dengannya ternyata merupakan istri dari menteri perdagangan. Anggi yang pertama kali mengikuti pertemuan bisnis suaminya, baru mengetahui beberapa saat lalu saat acara makan malam dibuka.
Pasalnya tadi siang wanita tersebut tidak menyebutkan identitas sebagai istri menteri. Pantas saja banyak orang yang menempeli wanita itu ibarat lintah. Rupanya mereka ingin melobi. Anggi kembali bercengkerama. Wanita tadi memiliki minat tinggi pada produk-produk Royal Textile.
__ADS_1
"Selamat, Pak Arjuna. Anda terpilih sebagai salah satu pengusaha yang akan menemani lawatan menteri perdagangan ke Eropa bulan depan."
Salah satu pria yang memakai setelan coklat menepuk bahu Juna dan memberi selamat.
"Benarkah?" Juna terperanjat sekaligus senang.
"Iya, betul. Istriku merekomendasikan produk Royal Textile padaku untuk diikutsertakan dalam lawatan ke Eropa. Dia bercerita banyak padaku tadi sore. Istriku tak pernah salah dalam urusan memilih komoditi terbaik." Bapak menteri perdagangan datang menyela obrolan dan membenarkan.
"Terima kasih, Pak Menteri. Atas kesempatannya." Juna menerima dengan hormat dan penuh sukacita.
Juna tak hentinya mengucap terima kasih dan saat kembali ke meja, dia tak mampu menahan untuk mencuri kesempatan mengecup pipi Anggi.
"Eh, ada apa, Mas?" Anggi celingukan. Merasa tak enak jika dilihat orang.
__ADS_1
"Nanti kuceritakan. Pokoknya aku sedang senang," jawab Juna semringah.
Senyum Juna menular pada Anggi. "Ada berita baik kah?" tanyanya.
Juna mengangguk. "Hmm. Nanti di kamar aku cerita sama kamu. Sekarang sudah waktunya bersantap bersama."
Makan malam berlangsung dalam suasana hangat. Para pelayan mulai berdatangan membawakan pesanan setiap meja. Meja dipenuhi sajian dari mulai appetizer, maincourse, juga desert. Anggi dan Juna memilih sup krim jagung sebagai menu pembuka, tenderloin steak untuk menu utama dan manggo cheese cake dipilih untuk menu pencuci mulut.
Tamu lain rupanya masih ada yang berdatangan. Kebanyakan yang tadi siang tidak bisa hadir. Para pebisnis yang juga berhubungan dengan bidang kain ikut diundang. Sosok wanita mungil yang menggendong bayi ditemani pria tampan nan matang disambut hangat begitu memasuki area makan malam.
Juna yang sedang mengiris steak ikut teralihkan. Gerakannya mengiris daging berhenti begitu saja. Anggi yang sedang mengunyah daging mengikuti arah pandang suaminya yang tertuju pada seorang wanita anggun berparas ayu.
"Viona?" gumam Juna lirih.
__ADS_1
TBC