
Spesial Bab Sebelas
Juna ikut turun dari ranjang, menyusul Anggi yang sedang terisak merajuk di sofa, masih meracau sembari sesenggukan kesal. Kehamilan Anggi yang kedua ini sangat menguji kesabaran Juna, seolah si anak kedua melampiaskan marah padanya seperti dulu dirinya melampiaskan kekecewaan berbalut kemarahan pada Anggi di awal-awal pernikahan, pada sosok yang tak berdosa atas luka hatinya.
"Katanya apapun permintaanku di kehamilan ini akan Mas penuhi, sebagai penebus kehamilan pertamaku. Tapi mana buktinya? Cuma minta pop mie di kereta aja keberatan banget kayaknya. Perkataan tak sesuai dengan perbuatan," cerocos Anggi kesal, membesit hidungnya yang berair.
Juna duduk di dekat istrinya yang membelakangi. Ingatan para istri terkait pernyataan para suaminya terutama dalam hal janji-janji semacam ini, sungguh tajam luar biasa. Saking tajamnya bahkan bisa menjadi boomerang, berbalik arah menyerang tuannya. Naluri seluruh wanita sepertinya didesain hampir serupa, secara impulsif akan mengungkit kalimat-kalimat janji suaminya di waktu-waktu tertentu, contohnya seperti di situasi Anggi sekarang.
Juna refleks berdecak frustrasi sembari memijat pangkal hidung. Kehabisan kata-kata. Akan tetapi, decakan putus asanya malah memperparah situasi saat telinga sang istri mendengar hal itu, ditanggapi lain oleh Anggi, salah arti. Wanita hamil itu berbalik, mata basahnya berkilat sengit.
"Jadi, Mas kesal karena aku begini?" sergahnya emosi. "Padahal aku begini juga karena bawaan bayi!"
__ADS_1
Juna terperangah, tak paham. "Kenapa menyimpulkan begitu? Dari tadi aku enggak ngomong apa-apa lho, Sayang."
Juna berkelit, walaupun dalam hati dia memang ngedumel jengkel. Hanya saja seperti yang Anggi katakan, janin di dalam sana bukan hasil bersolo ria, tetapi hasil mendes*h berkeringat berdua, jadi sudah tentu risikonya pun harus ditanggung bersama karena membuatnya pun bersama-sama.
Anggi bersusah payah bangun dari baringannya. Kemarahan tercetak jelas, meski begitu ia tidak menolak bantuan sang suami yang membantunya untuk duduk lantaran perut buncitnya membuat pergerakannya tak leluasa. Menepis kencang tangan Juna begitu ia berhasil duduk sempurna, memperlakukan si bos arogan ibarat permen karet, habis manis sepah dibuang.
"Tapi tadi Mas berdecak gitu. Itu pasti kesal kan? Mas sebel kan sama aku? Terus terang aja deh, Mas sebel karena aku hamil dan rewel begini kan? Tapi yang diperutku ini anakmu juga Mas!" Anggi berseloroh tanpa jeda. Memicing galak pada suaminya yang dibuat serba salah.
Jika ikut terprovokasi, maka drama pop mie kereta yang diinginkan istrinya akan semakin panjang berjilid-jilid. Tak ada pilihan lain selain mengiyakan, kecuali Juna ingin situasinya terancam tak bisa memeluk dan mencium tubuh hangat favoritnya.
Anggi menatap lekat-lekat dengan bibir mengerucut. Memindai wajah sang suami yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Gimana? Kamu menemukan kekesalan di wajah suamimu ini hmm?"
"Aku menemukan ketampanan," sahut Anggi polos dan lugas, karena mau seperti apapun ekspresi Juna, ketampanan suaminya itu selalu juara.
Jawaban Anggi membuat Juna tergelak. Istrinya ini sedang membuatnya jengkel, tetapi entah kenapa malah jadi menggemaskan.
"Cuci muka dulu, terus pakai jaketmu?"
"Huh? Jaket?" imbuh Anggi.
"Iya, kita cari pop mie yang kamu mau.
__ADS_1
Senja Note:
Untuk visual novel dan info-info novelku, follow IG ku di: Senjahari2412