
Istri Arjuna 31a
Malam semakin larut saat Juna selesai membasuh diri. Satu jam berlalu dihabiskannya di kamar mandi. Sengaja berlama-lama mengguyur raganya yang terasa tidak nyaman, imbas dari pikiran juga hatinya yang tengah menyelami telaga asing dalam dada.
Dilihatnya Anggi sudah merebahkan diri, bergelung selimut membelakangi tempatnya biasa berbaring. Juna beralih memeriksa nampan di nakas. Isinya sudah berkurang separuh, pertanda makanan yang berkurang itu telah berpindah ke lambung istrinya yang sepertinya sudah berada di alam lelap.
Juna berjongkok di dekat sisi tempat tidur di mana Anggi berbaring. Wanita berbibir ranum menggoda itu memejamkan mata berbantalkan sebelah lengan yang ditekuk. Juna memandanginya berlama-lama. Ditilik dengan baik secara saksama, istrinya ini ternyata memiliki pesona tersendiri. Persis seperti nama kepanjangan yang tersemat, Anggita Jelita.
Surai coklat tua bergelombang indah sepunggung. Kulit seputih susu. Hidungnya tinggi, tetapi tidak terlampau berlebihan. Bibirnya semerah delima matang. Sorot matanya teduh saat membuka, dinaungi bulu mata lentik yang berkibar kala mengedip.
Kenapa Juna luput dan baru menyadari sekarang betapa eloknya wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Selama ini hanya kecantikan Viona yang menyihir mata lahir juga batinnya. Abai akan kado indah tak kalah jelita yang dihadiahkan Sang Pencipta padanya.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu terdapat alasan yang mendasarinya. Seperti halnya Anggi dan dirinya yang ditakdirkan untuk mengikat janji pernikahan meski melalui jalan perjodohan.
Juna lupa menelaah lantaran terus menyalahkan keadaan ketika Viona tak ditakdirkan untuknya. Padahal sudah jelas semesta mengirimkan Anggi sebagai pelipur lara penuh berkah untuknya. Sama-sama pernah gagal dalam urusan cinta seharusnya bisa lebih saling memahami juga saling menghibur. Sayangnya, Juna abai tak ingat menepi, terus tenggelam dalam kubangan kegagalan cinta di masa lalu.
__ADS_1
Jemarinya bergerak membelai sisi wajah Anggi. Merasakan kehalusan dan kelembutan pipi istrinya saat menggesek telapak. Ibu jarinya menyapu lembut alis juga bulu mata kemudian bergumam pelan. “Cantik.”
Fokusnya buyar ketika ponsel Anggi berdering. Dengan cepat Juna mengambilnya dari meja dekat lampu tidur dan segera keluar begitu tombol hijau yang muncul di layar digeser ke kanan.
“Halo.”
Rupanya Ayu yang menghubungi. Memberi kabar bahwa ibu mertuanya sudah boleh pulang dua hari ke depan. Tidak perlu dirawat intens di rumah sakit lagi dan meminta Anggi datang besok pagi untuk membantu berbenah rumah.
“Maaf, Anggi sedang tidak enak badan, Mbak Ayu. Untuk berbenah, saya akan mengirimkan salah satu ART di sini. Dan setelah ibu pulang, akan ada ART yang datang berkala ke rumah untuk membantu berbenah. Mulai saat ini Anggi tidak boleh terlalu lelah.”
Ayu senang bukan kepalang dengan keputusan Juna. Jika ada asisten rumah tangga di rumah, dia akan terbebas dari pekerjaan berbenah yang menurutnya merepotkan dan tidak sesuai dengan standarnya. Bisa seenak jidat memerintah dan menyuruh membuatnya jumawa. Menghargai dirinya sendiri terlalu tinggi bak ratu, tak sadar diri akan kenyataan bahwa dirinya hanyalah upik abu.
Gelap semakin pekat melingkupi. Bunyi gemerisik serat kain seprai yang bergesekkan dengan selimut terdengar nyaring di malam senyap. Juna terus saja membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari posisi berharap segera tenggelam ke alam tidur.
Daksanya lelah, tetapi kantuk tak kunjung datang padahal waktu sudah lewat tengah malam. Efek dari gelisah hati berpadu perut keroncongan membuatnya kesulitan meraih lelap.
__ADS_1
Juna kembali berbaring miring menatap punggung Anggi yang membelakanginya. Punggung yang meringkuk itu tampak menggiurkan seperti melambai padanya meminta dipeluk. Pasti terasa enak bergelung di sana. Mendekap punggung hangat nan harum bergesekkan dengan dadanya yang selalu mampu membuatnya mudah mengantuk di saat insomnia menyerang.
Juna bermaksud menggeser mendekat, kemudian terhenti kala teringat penolakan demi penolakan yang dilayangkan Anggi padanya sejak tadi pagi. Mendesah gundah, Juna memilih hanya memandangi punggung itu. Memaku pandangan pada sosok yang selama ini tidak begitu dipedulikan peranannya.
Lagi-lagi tangisan serupa kemarin malam terdengar. Sepertinya Anggi kembali bermimpi buruk dalam tidurnya. Meraung sembari memeluk erat perutnya sendiri.
Dengan cepat Juna menyeret badannya mendekat. Merangkul dan merapatkan punggung Anggi ke dadanya.
“Tenanglah, sebenarnya ada apa dengan mimpimu, hmm?” bisik Juna pelan ke telinga Anggi. Namun, si empunya tak kunjung bangun, terikat kuat di alam bawah sadar. Juna Mengusap-usap perut istrinya itu hingga pelukan erat Anggi di perutnya sendiri mengendur.
Perlahan-lahan, Anggi berangsur tenang. Mimpi buruknya menyingkir bukan hanya karena usapan selembut sutra yang terasa di alam tidurnya, tetapi juga karena gumaman lembut maskulin yang menentramkan alam bawah sadarnya.
Ada aku di sini. Tidurlah, Sayang.
TBC
__ADS_1