
Istri Arjuna bab 67a
“Minum dulu susunya.”
Dengan penuh perhatian, Juna menyodorkan susu khusus untuk ibu hamil kemasan kotak siap minum dengan sedotan yang sudah ditancapkan di atasnya. Dia meminta Bik Tyas mengantarkan keperluan Anggi termasuk vitamin dan menyimpannya di mobil yang terparkir di basemen rumah sakit, karena istrinya itu pasti tidak ingat pada kondisi tubuh sendiri saking banyaknya masalah yang merecoki pikiran.
“Makasih, Mas.” Anggi menerimanya dan meneguknya hingga tandas.
“Minum ini juga.” Juna membuka telapak tangannya dan beberapa butir vitamin ada di sana.
Seulas senyum lemah terukir di wajah Anggi, merasa bersyukur. Perhatian Juna membuat hatinya yang gundah sedikit menghangat. Anggi menelan semua vitamin yang disodorkan Juna, lalu mengusap perutnya menyapa anaknya di dalam sana.
__ADS_1
Juna memakaikan jaket untuk melindungi Anggi dari hawa sejuk pendingin ruangan. Memastikan istrinya tetap merasa hangat. “Kamu sudah membuat keputusan?” tanya Juna di suasana hening yang melingkupi kala malam kian larut.
“Entahlah, Mas,” jawab Anggi bimbang.
“Keputusan ada di tanganmu, Anggita. Ingin merawat ibu di sini maupun di rumah semuanya terserah padamu karena sudah tidak ada lagi upaya signifikan yang bisa dilakukan. Seperti yang dokter jelaskan pada kita.” Juna berkata sembari merangkumkan jemarinya di jari-jari tangan Anggi, menggenggamnya lembut.
Mereka berdua duduk di kursi panjang yang terdapat di selasar rumah sakit, letaknya tak jauh dari ruang perawatan Ningrum. Anggi menunduk dan menggigit bibir, sedangkan Juna setia menemani tak beranjak seinci pun. Otak Anggi saat ini buntu, carut marut. Gamang untuk mengambil keputusan.
“Aku … aku bingung, Mas. Banyak hal yang terjadi tiba-tiba. Tentang ibu juga Mbak Ayu, dan aku merasa tak mampu berpikir dengan baik sekarang,” desah Anggi berat.
“Beri aku waktu sampai besok pagi. Aku ingin memikirkannya dengan matang. Untuk sekarang, aku ingin bicara lagi dengan Mbak Ayu. Bagaimana bisa, bagaimana bisa dia hamil yang bahkan tidak ingat siapa ayah dari si jabang bayi.” Anggi berujar frustrasi. Mengusap wajahnya sendiri, tak habis pikir akan kelakuan kakaknya. “Aku malu karena Mas ikut mengetahui aib ini.”
__ADS_1
“Kenapa malu. Aku ini keluargamu juga kan? Bukan orang lain? Tunda dulu bicara dengan kakakmu, kamu pasti sudah capek sekarang. Seharian ini belum sempat beristirahat dengan benar."
Anggi menatap sendu. Ada haru beriak-riak di sorot matanya. “Maaf, karena menikah denganku, Mas jadi ikut repot mengurusi masalah keluargaku, terutama pengobatan ibu."
Juna menggeleng dan menarik Anggi supaya bersandar di dadanya. “Sttt, jangan pernah berkata seperti ini lagi. Aku hanya berusaha menjalankan kewajibanku sebagai suamimu serta anak untuk ibumu. Ibumu adalah ibuku juga. Seperti kamu yang selalu memenuhi kewajibanmu sebagai istri seperti apa pun diriku. Aku belajar banyak hal darimu. Lagi pula aku tak sebaik itu dan kamu juga tahu pasti. Aku lah yang seharusnya banyak mengucap maaf padamu. Oh iya, bagaimana kabar anak Papa di dalam sini?”
Juna mendaratkan telapak tangannya, mengusap perut Anggi lembut. Sengaja mengalihkan topik pembicaraan supaya Anggi teralihkan barang sejenak saja dari segala permasalahan yang membebani pikiran.
“Dia baik-baik saja. Anak kita anak yang kuat, Papa.”
Dengung obrolan berlanjut pada hal lain. Juna berhasil mengalihkan fokus Anggi dengan membahas tentang bayi mereka, hingga tiga puluh menit kemudian Anggi yang sudah pasti kelelahan terlelap dalam dekapannya. Setelah memastikan Anggi benar-benar tertidur pulas, Juna merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan menghubungi Pandu.
__ADS_1
“Pandu, suruh beberapa orang untuk membuntuti kakak iparku ke mana pun dia pergi mulai saat ini juga,” titahnya pada Pandu. Tak menunda untuk mengusahakan, dengan harapan mendapat titik terang tentang siapa ayah dari bayi yang dikandung kakak iparnya itu, supaya bisa menuntut tanggung jawab demi meringankan beban pikiran istrinya.
Bersambung.