
Istri Arjuna Bab 72b
"Mas, mau pakai baju batik atau kemeja?" tanya Anggi. Membawa kedua jenis pakaian tersebut mendekati Juna yang baru keluar dari kamar mandi. Yang satu kemeja polos warna biru tua dan yang satu lagi kemeja bermotif batik.
"Terserah kamu. Yang penting jangan sampai membuat ketampanan calon papa ini berkurang. Iyakan, baby boy?" Juna terkekeh pelan.
Membungkuk lalu mengelus perut Anggi menyapa si jabang bayi di dalam sana, yang berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ternyata berjenis kelamin laki-laki. Kandungan Anggi memasuki usia tujuh bulan sekarang, sudah membuncit yang menurut Juna malah menambah keseksian ibu dari anaknya itu.
"Ey, dasar narsis," ejek Anggi sebal membuat Juna terbahak kencang.
"Makin cantik deh, kalau lagi ngambek begini?" rayu Juna sembari mencubit gemas hidung istrinya itu.
"Enggak usah bohong. Aku tahu kok, penampakanku sekarang sudah seperti paus terdampar! Gendut di mana-mana!" sambarnya sengit yang disusul mendelik kesal.
Bukannya berhenti menggoda, Juna malah mencuri kecupan di bibir cemberut Anggi. "Kalau cemberut begini malah makin berlipat-lipat cantiknya," godanya lagi yang disambut Anggi dengan sebuah tinju kesal mendarat di bahunya.
__ADS_1
"Ih, cepetan dong! Jadi Mas mau pakai yang mana? Aku ingin segera berangkat supaya bisa menghadiri acara akad nikah Freya."
"Kamu lebih suka aku pakai yang mana?" tanya Juna membujuk, kemudian merangkul pinggang Anggi merapat padanya.
Anggi yang mengerucutkan bibir malah senyam senyum sekarang. Merotasikan bola matanya dengan sorot penuh arti. Anggi melempar baju yang dipegangnya ke atas sofa yang ada di ruang ganti tersebut.
"Jadi, aku harus pakai yang mana?" Juna mengernyit tak mengerti karena istrinya malah menaruh baju yang hendak dipakainya.
Anggi merapatkan diri pada Juna, telapak tangan halusnya meraba-raba dada bidang suaminya yang belum berpakaian itu. Rabaannya semakin turun sekarang, menyentuh pusar berputar-putar di sana lalu semakin merambat turun hingga sampai pada simpul handuk yang melilit di pinggang Juna.
Anggi berjinjit, mendekatkan mulut ke telinga Juna. "Sebetulnya, aku lebih suka Mas tak memakai apa pun," bisiknya sensual sembari menarik-narik simpul handuk itu pelan membuat Juna menggeram tersulut hasrat saat merasakan pusat didihnya meronta.
"Sudah, sudah, ampun Mas," imbuh Anggi di sela-sela tawanya. Ia Tergelak bukan hanya karena geli, tetapi juga karena puas menggoda.
Juna menyudahi membalas godaan istrinya dan malah tertunduk lesu. "Akh, aku benci kita harus berangkat sekarang," keluhnya.
__ADS_1
Dia begitu frustrasi saat merasakan bagian dari dirinya yang kian menggembung tak tertahankan. Godaan Anggi meski dalam level candaan, selalu berhasil menjadikannya pria murahan haus belaian dalam sekejap.
"Tapi kita harus tetap pergi sekarang. Mas pakai kemeja yang warna biru saja deh, biar senada dengan gaunku."
Anggi mengambil kemeja yang dimaksud, sementara Juna masih tertunduk lesu malas menanggapi. Kepalanya berdenyut sakit sekarang begitu pula dengan pusat dirinya.
"Ayo, kubantu berpakaian, jangan cemberut, nanti malam kuberi hadiah spesial." Giliran Anggi yang kini membujuk Juna. Mengecup pipi suaminya yang tengah merajuk.
"Baiklah. Tapi janji ya, nanti malam harus benar-benar spesial," pinta Juna menuntut. Senyumnya terbit sekarang.
"Iya aku janji," sahut Anggi sembari fokus membantu Juna memakai baju, kendati sesekali tangan suaminya itu malah meraba nakal di sembarang tempat selama ia membantu Juna berpakaian.
Mobil melaju dikemudikan Pak Oman, berangkat ke gedung pernikahan di mana Freya, sahabat Anggi, akan melangsungkan akad serta resepsi. Di hari libur begini, biasanya Juna lebih memilih menggunakan jasa sopir untuk bepergian, supaya bisa duduk bersantai di jok penumpang sambil memeluk wanita tercintanya.
Bunyi notifikasi kiriman pesan masuk ke gawai seluler Juna. Pesan dari Maharani yang sudah cukup lama tak bertukar kabar dengannya.
__ADS_1
Juna, aku akan datang rumahmu sore nanti. Ada yang ingin kubicarakan.
Bersambung.