
Istri Arjuna bab 38b
“Papa, Mama sama dedek bayi lapar,” cicitnya manja sambil mengusap perut, disusul tatapan berkilat galak yang dilemparkan dari netranya pada si wanita berambut sebahu melalui sudut mata.
“Lapar?”
Juna yang asalnya sedang fokus bercakap-cakap membahas seputar kain dengan si wanita yang ternyata memiliki ketertarikan tinggi di bidang tekstil itu, langsung teralihkan pada Anggi yang mendadak bergelayut padanya. Tidak memperhatikan sudut mata istrinya itu yang mempersembahkan lirikan menyambar-nyambar bak sambaran petir pada lawan bicaranya.
“Iya, Mas. Aku lapar,” sahut Anggi sembari tersenyum imut dan menatap Juna dengan raut manis mirip anak kucing.
Juna merasa sedikit aneh dengan tingkah laku istrinya yang sebentar tak acuh serta menjengkelkan dan di menit kemudian malah bermanja berubah manis. Akan tetapi, kata yang terucap dari mulut Anggi lebih menyita perhatiannya saat ini. Di saat Anggi berkata lapar, bukankah itu artinya anaknya di dalam sana juga ikut kelaparan?
“Rupanya sudah menikah, saya kira Anda masih single,” ujar si wanita berbaju hitam yang tadi mengobrol dengan Juna. Masih duduk tak jauh dari Juna. Sedikit menarik diri setelah tahu pria menawan ini sudah ada pemiliknya.
“Saya sudah menikah dan ini istri saya.” Juna merangkul Anggi makin dekat.
__ADS_1
Kali ini Anggi malah sengaja merapatkan diri menempeli Juna. Biasanya ia sering menghindari terlalu mesra di depan umum walaupun hanya untuk formalitas, berinteraksi sewajarnya saja. Lain hal dengan kali ini yang justru kebalikannya.
“Halo, saya istrinya.” Anggi berucap dengan keramahan yang dipaksakan.
Merasa jengah dan tak ingin berlama-lama, Anggi bangun dari duduknya. Menarik lengan Juna untuk bangkit agar tidak duduk bersisian dengan si wanita berambut sebahu itu begitu dua orang pramuniaga membawakan semua paper bag berisi baju-baju yang dibelinya, serta menyerahkan kembali sebuah kartu pada Juna yang tadi digunakan untuk membayar.
Kening Anggi kian terlipat tanda tak suka saat si pramuniaga tampak tersipu ketika menyerahkan kartu pada Juna. Sebetulnya si pramuniaga tersebut hanya hendak menghaturkan terima kasih tanpa kata karena Juna sudah membantunya mengatasi kesulitan di kala sedang berada di situasi terjepit, yakni menyumbangkan pendapat saat memilihkan gaun untuk si customer rewel.
Maksud si gadis muda itu ingin tersenyum tulus tetap terbalut tata krama kesopanan. Hanya saja efek dari wajah tampan dan kharisma Juna yang terpancar kuat, membuat si gadis muda malah salah tingkah, berakhir tersipu juga kikuk.
“Mas, kita pulang sekarang. Perutku sudah sangat lapar!” Anggi berucap geram terbakar rasa panas yang makin menyala-nyala di rongga dadanya.
“Senang berbincang dengan, Anda. Maaf, saya duluan. Istri saya sedang hamil, jadi sepertinya lebih mudah merasa lapar.” Juna berpamitan pada si wanita tadi yang dibalas anggukan sopan.
Tergesa, Anggi setengah menyeret suaminya keluar dari butik diikuti dua pramuniaga yang membawakan setumpuk paper bag. Ia bahkan hanya berpamitan dengan melambai sekilas pada kedua sahabatnya yang masih belum selesai berbelanja.
__ADS_1
“Bagaimana kalau makan di restoran steak yang searah dengan jalan pulang? Walaupun makanan di rumah sudah pasti lebih sehat dan higienis, tapi aku tidak ingin membiarkan anakku kelaparan terlalu lama.” Juna memberi usulan sambil memasangkan seatbelt.
“Aku mau makan di rumah saja!” jawab Anggi ketus.
“Bukannya tadi kamu bilang sangat lapar?
Juna yang tidak peka akan keanehan Anggi, hanya menganggap nada ketus istrinya itu akibat merasa amat lapar.
“Pokoknya aku maunya makan di rumah, jadi kita pulang saja!” desis Anggi jengkel dan Juna akhirnya memilih menginjak pedal gas hingga mobil melaju pergi.
Anggi mengutuk dirinya sendiri yang entah mengapa tak mampu mengontrol api dalam dada yang ia pun paham betul bahwa itu namanya cemburu. Anggi benci dirinya sendiri. Di saat bahkan hatinya belum yakin apa arti dirinya untuk Juna, bisa-bisanya ia malah merasa cemburu.
Andai Anggi tahu bahwa Juna pun merasa demikian saat Anggi bertegur sapa dengan lawan jenis. Suasana perasaan Juna ibarat angin ribut ketika melihatnya becakap-cakap dengan Hendrik tempo hari. Hanya saja Juna juga belum mau mengaku lebih tepatnya belum menyadari, bahwa kemurkaannya sama-sama berasal dari suatu rasa mengganggu di hati yang disebut cemburu.
Bersambung.
__ADS_1